Hidup itu jauh lebih menarik bila terus ada misteri. Kesalahan kita selama ini adalah terus merasionalkan segala sesuatu.
Dalam buku Outliers, Malcolm Gladwell menyarankan agar kita melatih diri sekurang-kurangnya 10,000 jam untuk menjadi ahli dalam suatu bidang.
Saya nyaris tidak pernah meditasi. Tapi sering kontemplasi. Karena menurut saya kontemplasi itu maha penting. Untuk mencegah kita hidup terlalu menuruti kebiasaan (habits).
Orang bercita-cita ingin memiliki sesuatu. Rumah besar, mobil, uang banyak. Menurut saya jangan begitu. Cita-cita kita haruslah menjadi sesuatu. Menjadi seseorang yang kita idealkan.
Ada dua wanita luar biasa: Dr. Tererai Tent dan Dr. Booke Magnanti. Keduanya berjuang untuk mendapatkan PhD. Tapi dengan cara yang unik.
Bisakah teknologi digital membantu proses belajar?
Beberapa hari lalu saya membaca berita bahwa pengungsi dari Srilanka yang tertahan di Indonesia akan mendapat suaka di Australia. Timbul pertanyaan dalam hati saya, mengapa mereka tidak mencari suaka ke Indonesia? Jangan-jangan Indonesia ini bukan tanah impian? Tidak ada Indonesian dreams?
Bisa saja kita memenuhi semua ritual dan aturan, tapi tidak berjumpa Tuhan. Maka kita melakukan apa yang saya sebut spiritual placebo.
Drama bukan cuma tradisi Yunani kuno. Ia hidup dan berkembang di Indonesia. Tidak ada yang menandingi drama kasus perseteruan konyol KPK dan Polri. Dan semua aktornya pintar berdebat dan sampai mencucurkan airmata, di depan TV nasional.
Keyakinan itu adalah suatu pilihan. Oleh sebab itu, pilihlah keyakinan yang membuat anda berkembang. Bukan keyakinan yang membuat anda mandeg.
Besarnya sukses anda dalam hidup ditentukan oleh tiga besar: (1) seberapa besar impian dan cita-cita anda, (2) seberapa besar determinasi dan tekad anda berjalan memperjuangkannya, dan (3) seberapa besar keinginan anda untuk belajar dari hambatan dan kegagalan sepanjang perjalanan.
Continue Reading »
Waktu saya masih kecil, ibu saya sering menceritakan kisah dongeng sebelum saya tidur. Sekarang saya menyadari, saya sangat beruntung. Karena melalui dongeng itu saya bisa belajar banyak hal. Bahkan saya pikir, anda baru bisa disebut orang terpelajar bila anda bisa mendongeng.
Mendorong entrepreneurships itu memang mulia. Kecuali satu: yang menjadi makmur itu cuma segelintir pemiliknya. Oleh sebab itu ada konsep entrepreneur sosial. Social entrepreneurships.
Rasa takut itu berguna untuk survival, tapi berakibat buruk bagi hidup exciting.
Menyaksikan drama pertarungan KPK lawan Polri, orang tidak bisa menghindar dari kesimpulan betapa negara ini terus dikuasai gurita, lintah yang ingin terus merampok kekayaan Indonesia. Ini persoalan sangat serius.
Setiap bertemu ayah, saya selalu ingin belajar darinya. Dan pelajaran terbaru adalah tertawa terhadap masalah.
Sumber stress utama masa kini adalah kita memikul beban dan tanggungjawab terhadap sesuatu hasil yang bergantung orang lain.
Orang takut komitmen. Takut terikat. Padahal dalam komitmen itu ada kemerdekaan.
Orang ingin memiliki mata indah? Menurut saya terbalik. Kita harus berusaha punya mata yang bisa melihat keindahan. Mata yang terang.
Betul, kita perlu tampil beda. Tapi maksudnya lebih pada mampu bergembira di tengah dunia yang penuh kesusahan.
Setelah berkali-kali dipusingkan dengan notebook HP TX1209au, cukup. Saya tidak akan mau lagi membeli produk notebook HP.
Dalam menghadapi dunia, anda itu semut, laba-laba, atau lebah?
Segala yang bernilai itu merupakan hasil pemampatan. Kalau anda ingin produktif, sukses bisnis, kaya, dan banyak duit, anda perlu belajar melakukan pemampatan. Pemadatan.
Produk dan layanan yang pintar adalah, ya itu…, membuat pengguna tambah pintar. Kayak sekolah guru.
“Saya paling tidak suka kalau menteri di cari satu jam, dua jam tidak ada, meskipun hari libur,” tegas SBY. Hehe, rasain.
kita perlu jernih melihat kasus Namru. Jangan sampai kita rugi karena kehilangan laboratorium kelas dunia.
Ibu Nila Moeloek sudah dipanggil ke Cikeas untuk menjadi menteri. Namun hasil test psikologi beliau gagal, sehingga ia gagal di lantik. Keruan muncul berbagai kontroversi.
Sudah tiga hari ini saya terbaring sakit perut. Gara-gara makan makanan kaki lima. Rupanya perut saya mulai elite nih.
Saya tidak tahu bagaimana menulis tentang sikap Megawati belakangan ini tanpa terkesan sok tahu. Tapi, what the heck…
Mestinya yang paling lega itu bu Muluk ya, tidak jadi menteri. Tapi saya tidak bisa menghindar dari kesan bahwa menjadi menteri itu seperti mendapat kenaikan status. Mungkin memang budaya kita ya?