Lasik di Cicendo

Setahun lalu saya membuat suatu keputusan yang cukup “mengerikan”: Operasi Lasik di RS Mata Cicendo Bandung. Hasilnya: saya puas.

Sejak lensa mata saya minus tiga, saya mulai repot. Untuk melihat jauh saya harus menggunakan kacamata minus.

Pernah saya ke Korea Selatan, buru-buru, dan ketinggalan kacamata. Wah repot sekali. Melihat pengumuman di Bandara sudah tidak bisa. Mahal-mahal ke sana, melihat pemandangan tidak bisa.

Saya pernah naik para layang. Di kampung Toga Sumedang dan di pantai Bali. Karena harus copot kacamata, jadi percuma. Dapat ngeri nya saja, tapi pemandangan langka dari udara tidak bisa dinikmati.

Waktu ke dokter mata, saya minta info tentang operasi lasik. Tadinya saya sudah semangat, tapi mendengar penjelasan dokter semangat turun lagi. Ternyata operasi lasik bakal membuat mata saya berubah menjadi positif. Artinya bisa melihat jauh, tapi melihat dekat malah jadi susah. Harus menggunakan kaca mata positif.

Saya pikir-pikir lagi waktu itu, wah saya kan dosen. Cari makan dari baca tulis. Internet. SMS. Jadi lebih penting melihat dekat daripada melihat jauh. Jadi urusan lasik saya batalkan.

Sampai suatu hari di tahun 2011 saya perhatikan saya mulai susah melihat jauh. Dengan kacamata minus sekalipun. Gambar memang tajam, tapi terlihat ganda. Yang celaka, semkin jauh obyek, semakin terpisah gambar gandanya.

Saya jadi panik. Nyetir jadi susah. Kendaraan di depan terlihat dua. Garis marka jalan yang lurus menjadi terbelah dua yang saling divergen, menjauh. Waduh, kalau malam antar jemput anak istri, saya gambling di jalan. Sering saya haru menutup satu mata agar tidak terganggu.

Dari hasil berbagai pemeriksaan dan analisa, saya berhipotesa bahwa karena saya selalu melihat dekat (buku, komputer, HP) selama berpuluh-puluh tahun, maka mata saya kehilangan kemampuan melihat jauh.

Satu-satunya jalan, saya harus berbalik. Selalu melihat jauh, dan kurangi melihat dekat. A decision has to be made.

Setelah merenungkan lama di akhir tahun, saya memutuskan untuk mengambil langkah drastis: operasi lasik. Saya memilih berubah dari orang lihat dekat menjadi lihat jauh. Baca buku dengan kaca mata, dan lihat pemandangan tanpa kacamata.

Januari 2012, diam-diam saya mendaftar di RS Mata Cicendo, Bandung, bagian Paviliun Lasik. Setelah di tes, saya dinyatakan layak operasi. Maka saya booking, data mata saya di-profile, untuk minggu depannya dioperasi. Jantung berdebar-debar, karena kalau operasi gagal, saya bisa buta.

Selama seminggu saya terus berdoa supaya jangan gagal. Malam sebelum operasi, saya book Ina untuk mengantar saya ke Cicendo. Dia belum tahu saya mau operasi, jadi Ina santai-santai nyetirin saya. Di lapangan parkir, saya pegang tangan Ina, menatap langsung ke matanya, dan mengaku mau operasi lasik. Wah Ina kaget dan panik. Tapi saya langsung seret Ina ke RS supaya saya ditemani.

Setelah bayar biaya operasi (total habis sekitar Rp 16 juta), saya dipanggil masuk. Ganti pakaian dengan pakaian operasi, dan masuk ke runag operasi yang sangat dingin. Penuh peralatan medis. Saya diikat dikursi. Data profile mata saya dimasukkan ke dalam komputer mesin operasi.

Ini yang terjadi:

  1. Mata kiri ditutup, dan mata kanan dibuka dan diganjal dengan penahan kelopak.
  2. Mata kanan dianestasi dengan obat tetes pada bola mata sehingga mati rasa.
  3. Mesin bedah menempel ke bola mata, udara di sedot dengan pompa vacuum, sehingga mesin bedah menempel ke bola mata.
  4. Mesin bedah mengeluarkan pisau sangat tajam, dan meng-iris lapisan mata (kornea?) kemudian membukanya seperti orang membuka kulit buah mangga, sehingga bola mata terbuka.
  5. Lalu saya disuruh melihat pada sebuah titik merah, dan sinar laser ditembakkan ke dalam bola mata yang sudah dibuka itu, sesuai pola data profile mata saya. Mungkin cuma sepuluh detik. Susternya meneriakkan angka countdown, jadi saya tahu.
  6. Mesin membalikkan ulang tutup mata saya yang diiris tadi, lalu di lem kembali ke bola mata, sehingga bola mata tertutup kembali.
  7. Selesailah mata kanan. Lalu langkah di atas di ulang. Kali ini untuk mata kiri.

Seluruh proses eksekusi rasanya tidak lebih dari dua menit. Selesai. Saya sadar sepenuhnya. Dan tidak merasa sakit apapun.

Setelah istirahat sebentar, saya dituntun keluar ruang, menuju ruang pemulihan. Mata saya sangat kabur, tapi saya sangat berysukur saya tetap bisa melihat. Jadi kalaupun gagal, tidak buta total, pikir saya.

Cuma sepuluh menit di ruang pemulihan, saya sudah boleh pulang. Dibekali banyak sekali obat tetes mata. Dan kacamata pelindung. Sambil diwarning bahwa saya harus tidur, dan nanti mata saya bakal kesakitan kalau efek anestasinya sudah hilang.

Saya tiba dirumah dengan Ina sambil tertawa-tawa. Karena terasa tidak sakit. Dan saya tidak buta. Cuma yang agak kabur.

Tiba di rumah sekitar jam 11an dan saya mulai tidur. Lelap. Sampai saya terbangun jam 4 sore. Wah, saaakit sekali… Seperti terbakar api. Air mata terus bercucuran. Tapi saya tahan saja, karena saya tahu memang semua juga begitu. Saya tidak peduli, karena ternyata saya tidak buta. Hehe, itu nomer satu.

Dan saya mulai dapat kejutan. Gambar mulai jelas. Kabur mulai hilang. Dan saya mulai bisa melihat jauh.. ! Detail. Wah senangnya. Saya bisa nonton TV tanpa kacamata. Saya mulai bisa melihat detail wajah anak saya. Halaman rumah. Jalan depan rumah. Semua mulai jelas tanpa kaca mata. Sukses! Sukses!

Perih masih terus terasa, tapi saya terus rutin meneteskan obat mata. Besoknya saya sudah kerja biasa. Masih dengan kacamata pelindung tentu saja. Tapi senang sekali bila melihat jauh, jelas, tanpa kacamata.

Saya masih kembali chek rutin menurut jadwal. Dan hasilnya selalu bagus. Tidak ada komplikasi. Semua normal. Memang beberapa bulan mata terasa kering. Tapi sekarang sudah biasa. Saya sudah lupa malah.

Kekurangannya cuma satu: kalau baca harus menggunakan kacamata. Baca sms repot. Baca buku repot. Tapi sudahlah, saya sudah baca buku puluhan tahun. Lihat layar komputer puluhan tahun. Jadi kurangi sajalah. Saya bisa menikmati pemandangan, perjalanan, nonton bioskop dengan baik. Ke luar kota, ke luar negeri jadi lebih menyenangkan.

Dan nyetir jadi nyaman. Perlahan-lahan double vision hilang. Tidak lagi berbahaya nyetir di jalan tol.

Dan saya cukup puas dengan layanan di Cicendo. Mahal memang. Tapi perawat dan dokter ramah. Lingkungan bersih. Dan yang terpenting bisa melakukan operasi pada saya dengan berhasil.

Keputusan untuk Lasik ini merupakan salah satu keputusan terbesar yang pernah saya buat. Karena sudah setahun, saya pikir saya sudah bisa share pengalaman ini. Semoga berguna🙂


  1. Alhamdulillah🙂

  2. Salam kenal, Kalau boleh tahu, jenis lasiknya apa ya? standar/epi/zlasik? terimakasih🙂

    • azrl

      Sudah lupa, kelihatannya standar ya

  3. Makasih banyak udah sharing pengalamannya, Pa🙂. Kebetulan saya juga rencana mau operasi lasik, dan hari ini baru mau menjalani test layak tidaknya untuk di-lasik.

  4. Wiwik Nurfitarini

    Brp lama pke kacamata pelindung pasca Lasik?

    • azrl

      Semingguan rasanya. Itu yang penting untuk menghindari debu dan benturan

  5. regza,p

    Wah, terima kasih sudah berbagi cerita, Pak. Dulu saya tertarik ingin operasi lasik di RS Cicendo. Tapi masih takut euy dengan risiko akan kebutaan. Terpaksa saya lupakan.

  6. Adin

    sharing pengalaman yg bagus, pak. Infonya sangat bermanfaat. Berarti sekarang tanpa kacamata minus ya, pak ? syukurlah.

  7. saya stress sekali mau coba lasik ini…apalagi ada kata2 “pisau” dan “mengiris2″… makin ciut saja nyali saya…😦

  8. ola

    Saat di iris2 itu mata nya mati rasa kan ya

  9. Recomend dokter lasik nya donk pak 😊.tks

  10. Pak minta recomend dokter lasik nya donk, saya juga sudah melakukan skrining buat lasik hanya saja masih menyusui jadi dianjurkan untuk diundur…

  11. farani

    Maaf mau tanya, untuk operasinya dilakukan pada tahun kapan yaa? Lalu berarti sekarang bapak menjadi mata + ? Bukan normal?
    Terimakasih

    • azrl

      Saya di Lasik bulan Januari 2012. Ia betul lensa mata dekat menjadi +, dan lensa mata jauh menjadi normal. Artinya kalau lihat jauh tidka perlu kacamata, sedangkan lihat dekat / baca harus berkacamata

    • Yuli

      Sekedar info saja, saya tanggal 13 juni 2014 di lasik oleh dr rinaldi di rs cicendo juga, lasik yg standar, dan hasilnya itu mata saya normal (bukan +), dan setau saya semua perawatan lasik itu membuat mata menjadi normal baik itu untuk mata plus/minus/silindris.

  12. kartika

    terimakasih sharing nya ya pak… sy juga pgn lasik nih tp takut euy…. hheheeh

  1. 1 Eksomemori, Operasi Lasik & Trade-Off

    […] Lasik di Cicendo oleh Armein Z. R. Langi, dosen teknik elektro dan informatika ITB. Saya sudah baca blognya sejak 2008-an dan tulisan-tulisannya masih saja memikat sampai sekarang😀 […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: