The Truth, The True Reality

Saya selalu antusias untuk mengenali realitas yang sebenarnya. The True Reality. Meskipun ada banyak pengertian tentang kebenaran (the truth), definisi kebenaran itu haruslah realitas yang sebenarnya. Faktual.

Setiap orang memiliki realitas masing-masing. Realitas bagi setiap kita adalah siapa kita, siapa orang lain, apa lingkungan kita, apa dunia ini, dan sebenarnya. Selain mengenali entitas-entitas ini, kita juga belajar mengenai kekuatan apa (forces) yang mengendalikan entitas dalam realitas ini. Lalu ada ruang (space) di mana entitas dan kekuatan itu ada berlaku. Ringkasan: Realitas = ruang + entitas + kekuatan.

Kekuatan terbesar (greatest force) saya sebut nilai (value). Setiap orang digerakkan oleh nilai yang dia anut, sadar atau tidak. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan tiap hari itu digerakkan oleh nilai, berinteraksi dengan entitas-entitas, dalam ruang (domain) hidup kita.

Kunci dari belajar, di sekolah atau sendirian, adalah menyadari realitas ini. Memperkaya realitas diri kita. Mengembangkannya.

Melalui ilmu bahasa, sains, dan teknologi kita menyadari bahwa ada realitas alam, kecil (sel, molekul, atom, quarks) maupun besar (planet, tata surya, galaksi, semesta). Dari koran dan berita kita, serta ilmu sosial, mengenali realitas budaya, seperti hukum, sosial, dan ekonomi.  Kedua ilmu ini, ilmu alam dan ilmu sosial, sangat memperkaya realitas kita. Membuat kita semakin sukses menjalani dorongan nilai-nilai kita.

Pelajaran berharga dari belajar ilmu: kita tidak boleh mengandalkan common sense dan penglihatan biasa. Common sense dan realitas visual ternyata sangat rentan penipuan. False reality. Otak kita mudah ditipu. Mata kita apalagi. Kita harus memiliki kemampuan membangun realitas dengan pendengaran, tulisan, abstraksi, dan sesuatu yang tidak bisa kita lihat itu.

Itu yang saya sebut: iman. Iman adalah realitas yang tidak berbasis common sense dan penglihatan.

Oleh sebab itu, kita baru bisa mencapai ultimate reality melalui iman. Pemberitaan. Pewahyuan oleh mereka yang lebih dulu mengetahui, atau menghidupi, realitas tersebut. Kemudian kita menghidupinya untuk mengalaminya sendiri. Lalu kita bersaksi tentang realitas itu.

The true reality is faith based. Witness driven.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: