Harga

Sebaiknya harga diartikan sebagai seberapa besar nilai yang kita peroleh, bukan pada seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan.

Seorang sopir taksi di Singapura mendadak bertanya pada seorang turis yang menjadi penumpangnya, “Bapak dari Indonesia, ya?”. Turis ini heran, “Kok tahu?”. Jawab sang sopir, “Ia dari tadi bapak tidak melihat pemandangan indah di luar, tapi selalu melihat ke argometer…”

Rupanya sang turis cemas melihat berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk bayar taksi. Jadi dia tidak enjoy perjalanannya, melihat pemandangan yang indah, yang menjadi tujuan utamanya.

Saya tertawa mendengar lelucon ini. Tapi kita juga sering begitu, bukan?

Dalam banyak hal, kita terfokus pada biaya yang harus kita keluarkan, bukan manfaat yang akan kita dapatkan. Kita menjadi cemas, bukan excited. Turis jadi sibuk dengan argometer, bukan dengan pemandangan indah di perjalanan.

Oleh sebab itu setiap anda melihat harga suatu barang atau layanan, jangan anda cemas dengan besarnya kerugian akibat harus membayar sebesar itu. Yang anda fokus itu adalah apakah excitement yang anda peroleh, apakah keuntungan yang anda dapatkan, apakah manfaat yang anda peroleh, apakah kesenangan yang anda nikmati itu lebih besar nilainya ketimbang harga tersebut? Apakah nilai tambah, yaitu nilai barang dan layanan itu di kurangi harga, bernilai positif? Kalau ya, maka anda layak beli.

Mungkin tidak terburu-buru memang. Anda perlu melihat dan membanding-banding dengan yang lain. Apakah produk dan jasa lain memiliki nilai tambah yang lebih besar? Kalau ada yang bernilai tambah paling besar, itulah yang anda beli.

Tapi rule untuk pertumbuhan kebahagiaan itu adalah: bila nilai tambah positif, beli…

Ini juga berlaku untuk keputusan, tindakan dan usaha anda. Keputusan, tindakan, action, dan usaha itu memiliki resiko. Apakah anda harus lakukan atau tidak? Ya anda lakukan analisa itu. Berapa harga yang harus dibayar akibat keputusan dan tindakan kita itu. Apakah kita bisa pikul resikonya? Dan apakah nilai keberhasilan melampaui kerugian resikonya? Bila ya, maka lakukanlah tindakan dan keputusan itu.

Jadi kita harus menggeser mata kita dari argometer ke pemandangan di luar. Menggeser pengertian kita tentang harga, dari biaya menjadi manfaat.


  1. Kalau naik taxi di jakarta, liat argo takut tiba2 naik gak kira-kira pak.. hehehe..
    btw, inspirational pak.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: