Piala dan Pemenang

Menghadapi final AFF 2010, tim nasional Indonesia punya pilihan: mendapat piala atau menjadi pemenang. Kedua hal ini tidak selalu sama.

Bahwa tim nasional Indonesia itu sensasional, tidak perlu diragukan lagi. Memang hebat. Dan sudah membahagiakan banyak orang di Indonesia, termasuk seisi rumah saya.

Tetapi dalam pertandingan Minggu kemarin mereka ditekuk Malaysia 3-0. Banyak penyebabnya. Tetapi do they matter?

Saya kira, kalau kalah ya kalah saja. Jelas tim Malaysia bermain lebih bagus. Pemain depan licin kayak belut. Saya lihat sendiri.

Kalau kita ingin menjadi pemenang sejati, kita harus bisa mengatasi berbagai situasi, termasuk dukungan suporter lawan yang berlebihan. Apalagi mengatasi kelihaian pemain lawan yang kayak belut itu.

Saya kira Malaysia sekarang di atas angin. Indonesia harus menang 4-0 di GBK tanpa kebobolan. Atau 5-1. Sesuatu yang tidak terbayangkan.

Tetapi siapa tahu, kan? Pemain Indonesia bermain luar biasa untuk membayar kekalahan di Malaysia kemarin itu.

Cuma, seandainyapun Malaysia berhasil memperoleh piala itu, kita ingin tim Indonesia menjadi the real champion. Bermain bersih. Bermain gagah berani. Bermain cerdas. Bermain ngotot.  Kita bisa menang tanpa bantuan macam-macam, seperti bubuk gatal atau sinar laser.

Kekalahan di Malaysia adalah proses pendewasaan. Apakah kita bermental juara. Apakah kita bisa belajar dari kekalahan. Apakah kita terbuat dari baja.

Karena kita tidak ingin punya tim jagoan cuma di turnamen sekali ini saja. Cuma tercatat sekali jadi juara, dan mau kita kenang-kenang sepanjang usia. Tidak. Kita ingin muncul kuat dengan konsisten. Menjadi tim terkuat di Asia Tenggara. Menjadi Brasil nya Asteng.

Anak-anak Indonesia terinspirasi untuk menjadi yang terbaik.

Untuk itu menjadi the real champion itu lebih besar dan penting ketimbang pegang piala. Menjadi tim bermental juara lebih penting. Malaysia boleh simpan piala ini satu dua tahun. Tapi kejayaan sepakbola Indonesia tidak bisa dibendung lagi untuk tahun-tahun ke depan.

Pasti tidak ada suporter yang baca blog ini hehe. Tapi saya sungguh berharap penonton di GBK besok malam adalah penonton yang juga bermental juara. Penonton yang penuh semangat mendukung tim merah-putih, tapi menghormati tamu nya. Penonton yang mampu menghargai kehormatan Malaysia, sebagai tamu yang berjuang luar biasa untuk tiba di final. Mampu memberi contoh tingginya peradaban kita.

Semoga penonton bisa mengimbangi kehebatan timnas kita, dengan juga menjadi penonton yang tidak kalah hebatnya. Kalau penonton melakukan tindakan yang tidak sportif dan tidak hormat demi supaya kita memperoleh piala itu, maka kalau kita menang, buang saja piala itu ke tempat sampah. Kita tidak ingin. Buat apa menyimpan piala yang diperoleh melalui proses yang memalukan.

Dan anak-anak Indonesia mendapat inspirasi yang salah: untuk menjadi juara kita boleh bertindak segala cara.

Kita ingin menjadi pemenang yang sejati. Sedangkan menyimpan piala, itu bonus….


  1. setuju, pak.
    kalau lihat tim/pemain sudah mulai main kasar/curang. biasanya berarti dia sudah tidak percaya diri.

  2. Setuju sekali Pak Armein, timnas kita jangan hanya mengejar prestasi saat ini saja, harus menatap ke depan, pikirkan juga pembinaan.

  3. ulasan yang bagus sekali.. semoga bermanfaat bagi tim garuda kita.. agar bisa bermain yang cerdas juga penonton yang sportif.. semoga bisa jadi the real champion.. hidup timnas




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: