Takut Akan Tuhan

Satu-satunya alasan mengapa Tuhan membiarkan rasa takut melanda kita adalah supaya kita mengerti bagaimana kita bisa takut akan Tuhan.

Saya dulu sering dihantui rasa takut, sehingga saya berusaha keras mempelajari apa hakekatnya.

Rasa takut itu adalah sinyal. Alarm. Sama dengan alarm untuk bangun pagi.

Alarm berbunyi untuk mengatakan pada kita bahwa kita harus bangun. Sinyal dari emosi kita untuk memberitahu kita bahwa ada tindakan tertentu yang harus kita lakukan. Selama kita belum bangun dan mematikan alarm, alarm itu akan bunyi terus. Selama kita belum melakukan tindakan tertentu, maka rasa takut itu datang terus.

Menurut saya, pandangan ini –bahwa sinyal adalah alarm untuk bertindak– benar. Tapi tidak cukup.

Saya pernah dihantui perasaan takut. Dan tindakan apapun yang saya ambil tidak sanggup menghilangkan rasa takut itu. Bahkan rasa takut itu melumpuhkan kemampuan saya untuk mengambil tindakan.

Jadi saya putar otak lagi, apa sebenarnya maksud dari rasa takut? Mengapa kita diberikan rasa takut yang melumpuhkan ini?

Sampai suatu hari saya mengerti, bahwa rasa takut itu sebenarnya berkat dari Tuhan. Asalkan kita segera membelokkan rasa takut kita menjadi rasa takut akan Tuhan.

Apa maksudnya?

Begini. Kita pasti akan takluk, menghamba, pada  pihak yang paling kita takuti. Kalau ada tuan yang kita takuti, maka kita akan patuh pada perintahnya. Tapi kalau tuan kita ada dua, dan perintah mereka berbeda, kita akan pusing. Tapi ujungnya kita akan nurut pada tuan yang paling kita takuti. Hukumannya lebih mengerikan. Begitu bukan?

Nah kalau kita sekarang takut pada sesuatu, maka kita sebenarnya sudah menghamba pada sesuatu itu. Sesuatu itu sedang berusaha menjadi tuan kita. Sedang memaksakan kehendaknya, perintahnya, kepada kita. Kita merasa takut pada “tuan” yang baru itu.

Maka, segeralah memindahkan rasa takut yang muncul itu menjadi takut akan Tuhan. Segeralah mentransformasikan rasa takut itu menjadi takut akan Tuhan. Bayangkan hukuman Tuhan yang lebih mengerikan ketimbang hukuman si “tuan” yang menakutkan itu. Kalau kita nurut pada si “tuan”, Tuhan akan murka. Maka dengan demikian, takut kita pada si “tuan” hilang. Diganti menjadi takut akan Tuhan. Diganti dengan rasa ngeri akan hukuman Tuhan kalau saya nurut sama si “tuan”.

Dan takut akan Tuhan itu segera berubah menjadi sukacita. Karena Tuhan itu maha pengasih dan penyayang. Maha adil. Sama sekali tidak rugi saat kita takluk kepada Tuhan yang penyayang dan adil. Sempurna dalam menilai kita. Tidak ada niat Nya mencelakakan kita.

Jadi saya sekarang belajar untuk mengenali rasa takut saya, dan mengubahnya menjadi takut akan Tuhan. Saya adu kan, tandingkan, ketakutan saya pada Tuhan dengan pada si “tuan”. Dan selalu si “tuan” kalah telak. Jadi rasa takut saya pada si “tuan” itu menjadi kondisi awal untuk menjadi takut pada Tuhan. Rasa merinding itu saya teruskan, bahkan tambahkan, menjadi merinding pada Tuhan. Rasa ngeri saya itu saya lanjutkan menjadi ngeri pada hukuman Tuhan kalau saya nurut si “tuan”.

Hasilnya? Rasa takut semakin jarang menghantui. Saya memperoleh kembali kegembiraan saya.

Silahkan di coba….


  1. memang perlu itu takut pada Tuhan

  2. someone

    itu filosofi islam pak, tauhid




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: