Manhour

Salah satu konsep yang muncul di proyek-proyek adalah konsep manhour.  Konsep ini demikian penting, sehingga orang banyak berkonsentrasi menghitung berapa jam yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas.  Saya pikir, konsep ini agaknya terbalik.  Seharusnya kita menekankan pada berapa banyak hal yang bisa kita isi dalam satu jam hidup kita.

Kalau saya merancang suatu proyek, saya perlu membuat urutan tugas atau tasks.  Nah pada setiap task ini kita asosiasikan jumlah manhour.  Satu man hour artinya satu orang bekerja selama satu jam.  Jadi kalau sebuah tugas memiliki 10 manhour, maka kalau ia dikerjakan satu orang, ia selesai sepuluh jam.  Kalau dikerjakan lima orang, selesai dua jam.  Dikerjakan duapuluh orang, selesai setengah jam. Demikian konsep manhour.

Kemudian setiap orang atau pekerja bisa menghitung total hour kerja nya.  Misalnya dalam seminggu saya bekerja empat puluh jam.  Dari konsep manhour ini saya bisa menghitung upah saya.  Misalnya orang dengan kualifikasi dan pengalaman tertentu memiliki manhour rate $100 per jam.  Maka bila dia bekerja empat puluh jam, maka seminggu ia menerima upah $4000.

Meskipun konsep manhour ini penting, ia sebenarnya hanya layak digunakan secara terbatas.  Hanya pada proyek-proyek atau sistem penggajian.  Begitu kita menerapkanya terlalu luas, ia bisa menjadi sumber stress bagi manusia.  Kita jadi menekankan pada penghematan waktu.  Kita kemudian berbicara mengenai deadlines.  Detik-detik arloji menjadi sumber kecemasan.

Saya pikir kita harus mengubah waktu, bukan sebagai tujuan, tapi sebagai constraints. Pembatas.  Jadi kita tidak bicara tentang berapa banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas saya.  Tapi sebaliknya, given waktu yang ada, berapa banyak hal yang bisa saya selesaikan.

Sekilas dua alternatif ini sama saja.  Tapi sebenarnya tidak.  Alternatif yang pertama memberi kesan pada diri kita, pada mental kita, bahwa waktu bisa ditekan.  Waktu bisa dikurangi.  Padahal realitasnya waktu itu tetap, berjalan konstan, 24 jam sehari.  Ia bergerak di luar kontrol kita. Akibatnya mental kita itu merasa tertekan setiap hari, dan menjadi stres.  Ingat, stres biasanya muncul bila mental kita merasa tidak mampu lagi mengendalikan keadaan.

Alternatif yang kedua secara realistis memberikan kesan pada mental kita bahwa waktu itu tetap.  Nothing we can do about it.  Yang bisa kita kendalikan adalah usaha kita menyelesaikan tugas kita.  Jadi given waktu yang ada, berapa banyak tugas bisa kita selesaikan.

Kalu kita hidup berlomba mengalahkan deadline, meminimalkan waktu, maka hidup kita akan penuh stress.  Seblaiknya kita bisa mencapai hasil yang sama tanpa terlalu stress bila kita memaksimalkan hasil.

Advertisements

  1. Hmmm. Dulu pake mandays, skrg dah manhour. Ntar lama2 manminutes atau manseconds. Haduh, tambah stress. Hi3x.

  2. duh aku lagi pusing pa
    begitu ga berisinya manhour ku ini lately..
    (makanya back to comment2 blog bapa ini, hihihihi)

  3. Leo

    Kalau konsepnya dibalik seperti itu gimana cara menghitungnya pak? Bagaimana kita bisa mendefinisikan besarnya sebuah pekerjaan/proyek?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: