Ilusi Kehilangan

Salah satu ilusi terbesar yang tragis adalah ilusi kehilangan.  Orang takut akan kehilangan sesuatu, yang sebenarnya tidak ada.  Dan ketakutan kehilangan yang tidak berdasar ini membuat banyak keputusan yang tidak rasional.

Saya melihat banyak orang membuat pagar rumah tinggi-tinggi. Mungkin trauma karena pernah kecurian.  Beberapa tahun lalu mobil saya dibongkar orang.  Gara-garanya garasi saya dijadikan kamar.  Jadi mobil harus di simpan ke di halaman. Baru satu hari di simpan di halaman, tape mobilnya hilang.  Akibatnya saya membuat kerangkeng di depan rumah.  Bertahun-tahun mobil saya aman.  Tapi
rumah saya jadi jelek sekali.  Ada kerangkeng.

Akhir tahun lalu saya memutuskan untuk membuang kerangkeng itu. Saya belajar untuk percaya. Saya psang lampu yang cukup terang.  Pagar saya buat tidak tertutup, sehingga bila ada orang yang bermaksud jahat, justru terlihat dari luar. Sudah berbulan-bulan, rupanya aman, tidak ada pencurian.

Rupanya bertahun-tahun saya diperangkap oleh perasaan takut kehilangan. Dan saya bayar dengan kerepotan dan kejelekan kerangkeng.

Ada juga rasa takut kehilangan yang agak abstrak.  Misalnya takut kehilangan harga diri.  Takut kehilangan kekasih hati.  Takut kehilangan kesempatan.

Semua ini membuat kita hidup dalam kerangkeng.  Kita tidak berani keluar.  Di luar nanti saya mengalami situasi yang menjatuhkan harga diri saya.  Jadi di tempat banyak orang, di pesta, aatau dipertyemuan-pertemuan, hati saya gelisah. Ingin cepat pulang.

Atau kita menyimpan kekasih hati ke dalam kerangkeng.  Takut dicuri orang.  Kita jaga dengan penuh selidik, curiga, cemburu, atau super posesif. Kita berubah dari kekasih yang menarik hati menjadi teroris yang menakutkan.

Saya mengenal orang ibu yang takut kehilangan kekayaan.  Uangnya dihitung tiap hari.  Tiap hari dia sibuk mencek suku bunga di bank. Bila ada yang lebih tinggi, ia memindahkan uangnya.  Ia juga sangat pelit, baik pada diri sendiri, apalagi pada orang lain.  Meskipun uangnya banyak, usia sudah lanjut, ia melarang suaminya membelanjakannya. Mereka membeli mobil yang sangat kecil dan paling murah. Suatu saat suaminya meninggal dunia, karena usia yang lanjut.  Ibu ini setiap hari menyesali sikap pelitnya terhadap mendiang suaminya. Tiba-tiba ia menyadari uangnya yang banyak tidak berguna sama sekali, karena suaminya sudah tiada, dan ia sendiri sudah lanjut usia. Saya pikir ini tragis sekali.

Karena ketakutan kehilangan itu, orang menyusahkan dirinya dan orang lain yang ia kasihi.

Kalau anda tegang,cemas, tidak happy, coba berhenti sejenak dan selidiki pikiran anda. Apa yang anda cemaskan? Most likely ada potensi kehilangan sesuatu.

Berhentilah cemas. Karena besar kemungkinan rasa takut kehilangan itu hanya ilusi. Tidak ada.


  1. kekuatiran memang tidak akan menambah sehasta dari jalan hidup. tapi entah mengapa, sulit sekali untuk tidak kuatir.

  2. Menurut saya, ilusi kehilangan itu ada hubungannya dengan ilusi ‘kepemilikan’ juga. Sebagian besar yang kita pikir milik kita, sebenarnya hanya ‘titipan’ saja…




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: