Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih

In memoriam Prof. Samaun Samadikun, 1931-2006

Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof. Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta. Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah berakhir.

Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu…

Kastam sebenarnya tidak pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini nanti ya… OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We need these laughters for the things to come...

Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang menyiapkan diri . Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat kehilangan beliau betul-betul merasuk….

Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah semua tenang.

Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.

Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai. Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti. Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno. Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup?

Tidak heran, banyak memilih diam…

Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah. Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan. Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari teknologi ini.

Ah, deru perang membahana.

Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini teknologi tinggi?

Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika. Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa…

Sang panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya. Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama…

September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi.

Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan tiba di pucak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai memanggilnya pulang….

November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk.

Wah prof Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof. Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat.

“Take good care of your health”, katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan seperti itu, so I better listen. “I will be watching you form above..” katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, “tidak pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!”

Rupanya itu percakapan terakhir…

Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahagiakannya daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this war.

Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang lain itu bukan saja basah… tsunami, pak… Bukan saja kecipratan, bapak menghindarpun akan basah kuyup.

Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting daripada memperkaya diri sendiri.

Oh boy, how he has lived through this credo

Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah… If you ever need to preach about living full of integrity, just visit his house for five minutes folks…

Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe me or not, I don’t really care.. pokoknya tidak pernah.

Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh ditertawai. Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain sama dengan kita? We felt so stupid.  Terimakasih Bapak, sudah menghentikan pameran kebodohan dan arogansi kami…

Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat. Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.

Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth, beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah mencapai Rp. 400 juta lebih.

Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!

Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.

Betapa kaya nya Prof Samaun.

Semua membantu beliau dengan diam-diam. Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Saya tidak pernah tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua. Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya.

Ah, sang mahaguru, dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari….

Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah, betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya. Terimakasih. .. Terimakasih. …

Di ufuk barat awan kembali memerah… Dari kejauhan ia melambaikan tangannya. Balatentara berdiri tegap melambaikan penghormatan pada panglima besar. Dengan salvo di udara, dengan airmata membasahi wajah. Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang.

Ah, Ia sudah menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia sudah tiba di sana… panglima kita sudah tiba di sana…

Commander, thank you for the honor to ride beside you and to fight this war together with you. It is truly an honor…

Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75 tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.

Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangani saya. Kamu punya eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih. Mata saya menjawab dengan delikan marah, I believe you have to be death first. And that is not acceptable

Betul juga. Satu minggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis. Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau kompromi.

Aoakah Bapak tahu, seluruh toko di Bandung kehabisan tinta. Khususnya tinta emas. Karena setiap hati yang mengenal Bapak, menorehkan nama Bapak dengan tinta emas di kalbunya.

Saya berlari tergesa menaiki tangga-tangga gedung PAU. Menuruninya. Menelusuri lorong-lorong. Mencari di mana Bapak berada. tetapi rupanya Bapak sudah berpulang.

Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur, terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun. Terimakasih Tuhan, terimakasih. ..

Bandung, 20 November 2006. AZRL

ctt: Samaun Samadikun mendapatkan jabatan Mahaguru di Departemen Teknik Elektro ITB tahun 1974. Dan pada tahun 1994 Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama bagi Samaun Samadikun.


  1. terima kasih pak, menyentuh sekali

  2. Merinding saya Pak baca postingan ini. Sayang… gak bisa ketemu sama Sang Mahaputera dan Sang Mahaguru…..

    Terima kasih ya Pak, sudah mengenalkan sosok Sang Mahaputera, Sang Mahaguru…. Petani Silicon. Kapan ya, cita-cita sang mahaguru terwujud?..

  3. Saya cuma “beruntung” pernah dihardik beliau ketika saya ngambil mata kuliah Kapita Selekta Elektro Umum, Ketika itu saya terlambat datang kuliah di PAU gara-gara saya setup kelas utk training Microsoft di Perpus ITB. Pas masuk, beliau bilang, “You are fifteen minutes late, get out!” Ya saya get out aja, lha wong yang nyuruh saya get out itu profesor sepuh🙂

    Tapi memang epic deh tulisan bapak. ITB sekarang kekurangan master-master seperti beliau.

  4. Sang Mahaputera dan Mahaguru sudah melahirkan banyak pahlawan. Bagi hidup saya, bapak adalah pahlawan itu. Thanks for bringing magnificent value of life into mine.

  5. walau hanya sempat jadi muridnya murid pak Samaun, jadi merinding, terharu, bangga, bersemangat , semoga tercapai cita2 beliau di tangan generasi selanjutnya

  6. Saya masuk Elektro tahun 1965, kemudian memilih jurusan Teknik Tenaga Listrik,saya mendapatkan kuliah Elektronika Dasar dari alm Prof Samaun,saya yg kurang suka dgn pelajaran Teknik Komunikasi,bisa jadi senang gara-gara beliau sangat enak menjelaskannya. Di Elektro saat itu ada beberapa dosen yg punya nama populer,al Prof Soelaiman, Soejana Sapiie,Iskandar Alisyahbana,dan Samaun Samadikun Mereka adalah bintangnya Bagian Elektroteknik. Saya pernah jadi Ketua HME, saat itu Ketua Bagian adalah Dr.Muhammadi,kami diajak rapat oleh pak Muhammadi bersama dosen Elektro,ditengah rapat sedang berlangsung, Rektor memanggil pak Muhammadi, dgn enteng beliau menunjuk pak Samaun utk mimpin rapat,beliau tidak ada sedikitpun perasaan tersinggung,karena beliau sudah senior,dan sudah Ketua Bagian beberapa tahun sebelumnya,pak Samaun menjalankan tugas dgn baik. Tahun 1973,saya masuk PLN, sebelumnya pak Samaun sudah jadi Direktur Sarana Akademis,lalu jadi Dirjen Ketenagaan. Satu saat beliau ikut rombongan Menteri ke Waru,Jatim,saya jadi Kepala GI Waru, beliau ternyata punya daya ingat yg luar biasa,saya hanya pernah dapat kuliah satu matakuliah dari beliau,langsung beliau negor saya,beliau keluar dari rombongan Menteri,nyalam saya,kalau ke Jakarta mampir kekantor ya,walau tidak pernah saya lakukan,saya sangat kagum sama beliau,anak seorang Gubernur Jatim ditahun lima puluhan,yg sangat sederhana dalam hidupnya !
    Berlin Simarmata.

  7. sangat menyentuh tulisan bapak! salam dari Krakow Polandia

  8. Reblogged this on jumperparadiso and commented:
    Mahaguru…

  9. Antari Ardianti

    Baru hari ini saya baca tulisan bapak dan langsung basah mata saya. Saya belum pernah diajar oleh beliau, namun waktu saya kecil jika menjemput mama di kantor, saya sering bertemu dengan beliau dan saya terkesan dengan kesantunannya. Terima kasih pak Armein …

  10. anugerahf

    Reblogged this on Anugerah Firdauzi and commented:
    Dalam rangka ulang tahun Prof Semaun Samadikun, dan ketika Google berbaik hati mengangkat nama beliau, saya reblog tulisan salah seorang dosen saya di ITB, Prof. Armein, yang merupakan salah seorang pasukan dari sang petani silikon.

    https://g.co/doodle/u5sncz

    Petani Silikon

    Kami adalah petani silikon.
    Lahan kami adalah silikon.
    Garapan kami adalah silikon.
    Hasil kami adalah silikon.

    Kami pupuk silikon dengan boron.
    Kami pupuk silikon dengan fosfor.
    Kami cangkul silikon dengan plasma.
    Kami siram silikon dengan metal.

    Berjuta transistor tumbuh dengan subur.
    Beribu gerbang terkait dan terukur.
    Sinyal diubah menjadi informasi.
    Informasi dituai untuk sarapan rohani.

    Dan semua usaha untuk kemakmuran bangsa.
    Dan semua kelelahan untuk keagungan manusia.
    Dan semua hasil adalah hasil karunia-Nya.
    Dan petani silikon terus berusaha.

  11. Reblogged this on So, What's next? and commented:
    Sebuah pengingat untuk saya, tentang salah seorang Guru besar yang pernah hadir untuk bangsa ini. Terima kasih banyak Pak Armein untuk tulisannya.

  1. 1 Prof. Dr. Samaun Samadikun, Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih | ollooo..

    […] https://azrl.wordpress.com/2012/11/28/perginya-sang-mahaputera-dan-mahaguru-berkemeja-putih/ […]

  2. 2 Google Doodle : Prof. Samaun Samadikun - Official Blog of Akhdani Reka Solusi

    […] https://azrl.wordpress.com/2012/11/28/perginya-sang-mahaputera-dan-mahaguru-berkemeja-putih/ […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: