True You True Me

Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita, kecuali bila kita bukan diri kita yang sebenarnya.

Sakit itu cuma perasaan. Pedih itu cuma perasaan.

Dan satu-satunya penyebab sakit hati adalah keangkuhan. Sombong. Arogan. Separasi.

Suatu siang saya duduk dengan seorang kolega saya. Dari percakapan yang biasa berubah menjadi pertengkaran. Ucapannya membuat saya marah. Dan saya berbicara kasar melampiaskan kejengkelan saya.

Pulang dari situ, saya heran. Mengapa saya marah? Mengapa ucapannya menyakitkan saya. Mengapa bisa begitu?

Lama saya merenungkan, dan akhirnya satu-satunya penjelasan adalah: saya arogan. Ada sifat sombong dalam diri saya. Ada keangkuhan.

Dan arogansi saya itu tersentuh. Tersinggung.

Wah… mengapa bisa begitu ya?

Rupanya selama ini ada konsep diri yang dikembangkan oleh budaya, di mana ada hirarki. Dan dalam konsep ini, saya tidak mau berada di bawah. Saya harus berada di atas hirarki itu. Saya harus dihormati. Saya harus dihargai.

Bertahun-tahun saya belajar untuk membentuk konsepsi diri seperti itu.

Dan itu palsu…

Itu bukan siapa kita sebenarnya. Bukan siapa saya sebenarnya. Tapi bentukan saya akibat budaya yang tidak saya filter. Yang tidak saya saring. Yang tidak saya persoalkan kebenarannya.

Yang benar itu apa?

Yang benar itu: tidak ada HIRARKI dalam hidup ini.

Coba pelajari alam semesta ini. Coba lihat sejarah dunia. Coba lihat kenyatan hidup yang seobyektif mungkin.

Tidak ada HIRARKI kehebatan.

Saya tidak harus lebih hebat dari orang lain. Anda tidak harus lebih hebat dari saya. Hebat itu cuma imajinasi kita. Imajinasi keliru lagi.

Jadi saya harus berhenti membentuk diri saya seperti keinginan budaya. Saya harus memahani siapa manusia itu menurut realitas Sang Pencipta.

Tuhan menciptakan kita rendah hati. Tuhan menciptakan kita sabar. Tuhan menciptakan kita tanpa HIRARKI.

Itu realitas yang sejati.

Dengan realitas yang sejati, kita menjadi imune. Punya kekebalan terhadap sakit hati. Tidak mempan lagi. Karena tidak ada HIRARKI. Tidaki ada SEPARASI. Kita rendah hati.

Jadi kita tidak minta supaya orang lain selalu baik keapada kita. Tidak berbicara menyakiti kita. Karena selama manusia hidup, pasti ada saja yang gagal menjaga mulutnya.

Tapi kita minta supaya kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Yang rendah hati. Sesuai aslinya kita itu.

True youtrue me




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: