Reaksi Berlebihan Plagiarisme

Masalah kita bukan pada plagiarisme, tapi kurangnya publikasi ilmiah kelas dunia.

Isu plagiat menjadi ramai dengan terungkapnya berbagai kasus yang dipandang sebagai penjiplakan karya orang. Saya tidak bermaksud bersimpati pada para penjiplak. Tapi menurut saya reaksi kita sudah berlebihan, dan ini menutupi isu yang sebenarnya: kurangnya publikasi ilmiah.

Jiplak menjiplak itu tidak dosa. Bahkan itu karunia terbesar bagi umat manusia. Dengan menjiplak, kita Homo sapiens bisa bertahan hidup beratus ribu tahun. Bahkan makhluk hidup itu bisa berkembang karena menjiplak. Gen-gen yang baik kita ambil. Perilaku yang unggul kita adopsi. Taktik dan strategi yang berhasil kita akuisisi.

Tanpa insting menjiplak, tidak ada makhluk hidup di dunia ini hari ini.

Sehingga Prof Iskandar Alisyahbana, mendiang guru besar ITB, pernah berfatwa: “Mahasiswa ITB harus menjiplak, kecuali saat ujian…”. Dan pada setiap kesempatan beliau mengecam habis undang-undang hak cipta sebagai bentuk belenggu dan penjajahan baru. Beliau ingin Indonesia menganut prinsip copyleft bukan copyright. Ini bukan soal ideologis semata. Tapi beliau itu melihat bahwa kemuliaan kehidupan terjadi saat ide-ide bagus bebas diserap oleh semua orang untuk menjadi gen-gen bagi ide baru berikutnya.

Bangsa-bangsa yang mengejar ketertinggalan mengirim ilmuwan dan insinyurnya ke seluruh dunia untuk menjiplak. Sebut saja Jepang, Taiwan, Korea, dan sekarang Cina. Setiap mereka pergi ke konferensi atau eksebisi internasional, mereka pulang dengan berkoper-koper bagasi. Bukan berisi barang belanjaan ala istri pejabat. Tapi dokumen ilmiah, dokumen teknis, dan bahkan rahasia dagang. Pertama memang mereka menjiplak mentah-mentah. tapi kemudian mereka mampu mengevolusikannya menjadi lebih baik. Dan hari ini bangsa-bangsa itu lebih sejahtera dan produktif ketimbang kita yang konsumtif tapi sok orisinal.

Jadi, menurut saya, bangsa kita harus juga berusaha keras mengambil, mempelajari, menyerap, bahkan merampok kalau perlu, ide-ide istimewa dan baik dari bangsa lain untuk kesejahteraan bangsa kita.

Dipikir-pikir lagi, bukankah Tuhan adalah sumber segala pengetahuan? Bukankan semua ide dan pikiran adalah milik Tuhan? Mengapa sekarang kita memberikan sertifikat kepemilikan pada ide? Mengapa sekarang kita mengasosiasikan kejahatan pada penggunaan ide orang? Dan lebih konyol lagi, kita mendadak merasa suci dan mengambil batu untuk merajam sesama kita yang kita tuduh melakukan plagiat. Bukankah plagiat adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi karya itu? Bahwa saking bagusnya, kita curi. Bahwa karya itu, ide itu, cocok sekali dengan jalan pikiran kita. Sehingga kita ingin menyebarluaskannya kepada orang lain. Bukankah manfaatnya lebih besar daripada keburukannya?

Saya ambil contoh. Saya baca di kitab suci: lakukanlah pada orang lain apa yang engkau ingin orang lain perbuat padamu. Ini golden rule, yang buat saya bagus sekali. Sehingga saya kemudian menuliskan ini untuk disebarkan pada orang lain, supaya orang lain bisa mendapatkan manfaatnya. Apakah saya terpuji karena menyebarluaskan ide ini atau bersalah karena menjiplak?

Atau ada pelawak-pelawak kita yang lucu dalam meniru tokoh-tokoh politik dan selebriti. Saya lihat mereka dalam parodi politik di TV yang lucu-lucu. Ada yang cari makan dengan meniru SBY, Gus Dur, Megawati, JK, dan bahkan Aa Gym dan Barack Obama. Pura-pura jadi tokoh. Apakah mereka melanggar hak cipta dari tokoh yang mereka tiru? Ngapain ribut-ribut. Kan lumayan lucu sebagai penghibur di sela-sela keseriusan kita.

Undang-undang hak cipta sebenarnya didorong oleh faktor ekonomi. Orang ingin jadi kaya karena ide. Dan ia tidak tahan dan tidak ikhlas melihat orang menampilkan atau menikmati karyanya (yang sebenarnya pemberian Tuhan) tanpa acknowledgement atau bayar. Mengapa sekarang penegak hukum kita mau dijadikan instrumen untuk memperkaya orang macam Bill Gates atau kapitalis global sebenarnya beyond me.

Saya senang kalau orang mengambil ide saya kemudian menyebar luaskan pada masyarakat. Saya merasa itu sebagai penghargaan pada saya. Ketimbang takut karya saya dicuri orang, saya malah lebih takut kalau ada karya buruk, karya yang jelek, kemudian nama saya di anggap sebagai penciptanya.

Tentu saya juga sejalan dengan Prof Alisyahbana. Jangan menjiplak di ujian. Maksudnya jangan berbohong. Ada situasi di mana isu kepemilikan menjadi penting, khususnya di lingkungan akademis.

Jauh lebih penting adalah mengejar ilmuwan, peneliti, dosen yang punya jabatan akademis tapi tidak pernah menghasilkan karya. Tidak menulis. Tidak menyebarluaskan ilmu. Harusnya kita-kita ini yang terus dikejar dengan intensitas lebih tinggi ketimbang sibuk mengejar plagiator.

Jadi bagaimana dong sikap kita dalam menghadapi plagiator? Santai saja. Kalau tertangkap, cabut kelulusannya atau berhentikan dari statusnya. Atau, biarkan saja dan anggap dia itu pelawak, sedang pura-pura jadi ilmuwan dalam sebuah parodi akademik. Ngapain ribut-ribut. Kan lumayan lucu di sela-sela keseriusan kita membuat karya orisinal.

Atau jangan-jangan kita ribut karena kita juga sedang berparodi akademik? Karena cuma pelawak yang bisa marah akibat kelucuan pelawak lain…


  1. wah,, ide “copyleft”nya sama banget pak dengan saya.
    sayang sekali jaman sekarang ilmu & pengetahuan diperjualbelikan dengan cara ini😦 . Negara tertinggal jadi semakin tertinggal, yang maju jadi semakin maju, sesuai dengan eksponensial.

  2. saya mungkin lebih setuju kepada plagiarism yang kemudian dievolusikan. Kalo yang mentah-mentah ditiru, ya sepertinya terlihat cendrung kurang kreatif.

  3. plagiarisme baru ada maknanya kalau individu suatu komunitas ilmiah sudah diapresiasi dengan baik. jadi ada meritokrasi (bahkan komersialisasi) terhadap ide, tetapi sebetulnya meritokrasi seperti ini sudah tidak cocok lagi diterapkan karena penyerapan suatu ide merupakan hak individu.

    jadi justru seorang yang mengusulkan suatu ide semestinya berharap orang lain ‘menjiplak’ ide tersebut supaya ide tadi tidak punah di tengah jaman dengan ledakan informasi seperti sekarang.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: