Apakah pasiennya sembuh?

Kalau anda seorang dokter, apakah pasien anda sembuh? Demikian pertanyaan bagi setiap kita yang bekerja dan punya profesi. Apakah kita berhasil menjalankan fungsi kita, peran kita di masyarakat?

Seorang dokter punya banyak aktivitas. Pergi ke tempat praktek, rumah sakit, memeriksa pasien, memberi nasehat, memberi resep obat, mengikuti pertemuan ilmiah, mengurus rumah sakit, rapat manajemen, dan sebagainya. Dan di tempat-tempat tertentu, di lingkungan sosial, ia mendapatkan banyak kehormatan. Banyak perlakukan khusus.

Tapi semua kesibukan itu tidak berarti kalau pasien-pasiennya ternyata tidak sembuh.

Kita juga begitu. Percuma kita mendapatkan jabatan, tugas, kedudukan tinggi kalau fungsi utama dari tugas itu, jabatan itu, tidak berhasil kita jalankan. Tujuan utama tidak tercapai. Hakekat utama tidak terwujud.

Kemarin siang di kelas kuliah, saya bertanya pada para mahasiswa. Menurut anda, kalau mahasiswa gagal di ujian, siapa yang salah? Mahasiswa atau dosen? Mereka cengengesan ditanya seperti itu. Tidak ada yang menjawab. Kelihatannya takut salah.

Dulu saya pikir salah mahasiswa. Pokoknya kalau saya sudah mengajar dengan tertib dan sesuai silabus, maka urusan mahasiswa untuk menjadi pandai. Kalau dia tidak bisa lulus, berarti dia yang salah. Kurang cerdas. Kurang pandai. Kurang rajin.

Sampai suatu hari saya menyadari, kalau begitu apa gunanya dosen? Belajar saja sendiri dari buku teks, ya? Bagaimana kalau dia kesulitan mengerti buku itu? Sipa yang menjelaskannya? Siapa yang membantunya? Saya membayangkan betapa frustrasinya kuliah di kampus ini kalau begitu.

Seandainyapun dia bisa mengerti buku teks, jadi seperti apa lulusan kita itu kalau dia tidak pernah bertemu dosennya. Tidak pernah melihat teladan. Tidak pernah merasa di bantu dalam belajar. Saya membayangkan lulusan kita akan mandiri, pintar di ujian, tapi tidak punya sikap mau menolong. Tidak punya sikap seorang insinyur. Tidak punya sikap yang hangat. Tidak merasa ingin membimbing orang lain. This is not fun at all.

Kembali ke pertanyaan awal, jadi salah siapa kalau mahasiswa tidak lulus? Mengambil analogi dokter tadi, saya pikir kalau mahasiswa sudah menuruti semua instruksi dari dosen tapi dia masih tidak lulus, maka ini salah dosen. Berarti instruksi dosen itu tidak manjur. Instruksi dosen tidak pas untuk masalah anak ini. Entah diagnosanya keliru, entah dosen tidak mengerti cara mengembangkan kemampuan anak, atau bahkan “obat instruksi” diberikan tanpa diagnosa sama sekali. Dosen salah, karena ia tidak menjalankan tugasnya dengan kompeten.

Tapi misalnya ternyata mahasiswa ini tidak mempedulikan instruksi. Tidak menghiraukan anjuran. Tidak bersedia mengikuti program latihan dan tugas-tugas. Maka kalau mahasiswa ini kemudian gagal di ujian, ini salah mahasiswa. Bukan dosen. Karena ia tidak menjalankan fungsinya. Tugasnya.

Jadi dalam tugas apapun, anda perlu menyadari apa esensi fungsi anda. Apa ukuran anda sudah berfungsi dengan baik. Kemudian bayangkan, kalau anda seorang dokter, di tengah-tengah semua kesibukan anda, apakah pasien anda sembuh…?

Advertisements

  1. “Belajar saja sendiri dari buku teks, ya? Bagaimana kalau dia kesulitan mengerti buku itu? Sipa yang menjelaskannya? Siapa yang membantunya? Saya membayangkan betapa frustrasinya kuliah di kampus ini kalau begitu.”

    huhuuuu… bener, Pak T_T

  2. purie kurnia

    like it so much pak..belajar bertanggung jawab atas jabatan / fungsi kita dalam hidup jauh lebih penting dari jabatan itu sendiri.. 🙂

  3. Claudio Langi

    Tanpa mengurangi nilai, tapi sy sbgi dokter merasa penting bila pasien sakit dan berobat maka “seharusx” sembuh tp pd kenyataanya ada begitu banyak penyakit yg tak memiliki “penawarx”. Ada satu prinsip yg dipegang oleh para dokter bahwa dokter menjanjikan usaha yg terbaik dan bukan kesembuhan. Menyoal sebagai guru, ada begitu banyak variabel yg menentukan kualitas seorang siswa/mahasiswa. saya pernah mendapat 2 org siswa dalam 1 kelas yg sama. Yg satu “pandai”(kemampuan logika dan analisax bagus) tp tgl dlm rumah yg penuh masalah, yg satu hanya pas2an tp tgl dlm rumah yg kondusif. Hasilx pada semester 1 dan 2(kenaikan kelas) murid yg kedua yg menjadi ranking 1 dan yg “pandai” tercecer keluar dari 5 besar. Menyimpulkan bahwa variable kesuksesan siswa/mahasiswa bukan hanya ditentukan oleh faktor dosenx atau mahasiswa itu sendiri tp oleh banyak faktor bahkan soal makanan yg di mkn pun dpt menjadi penentu. MAAF sebelumnya, hanya pemikirin pribadi saja.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: