Dunia Visual dan Audio

Setidaknya kita punya dua macam dunia: visual (yang terlihat) dan audio (yang terdengar). Dan keduanya menghasilkan konten yang hanya bisa dipahami dalam sebuah platform persepsi.

Bingung? 

Bagi kebanyakan kita, realitas adalah apa yang kita lihat. Sekarang kita paham, yang namanya melihat adalah stimulus gelombang cahaya yang ditangkap syaraf kita di retina mata.

Tanpa gelombang cahaya dengan energi yang cukup, tidak ada dunia visual ini. Otak kita membentuk pemahaman akan dunia yang konsisten dengan apa yang ditangkap saraf mata. Otak kita merekonstruksi realitas dunia menurut pola visual. Cara berpikir logis dan rasional itu cocok untuk membangun dunia visual.

Dan semua fenomena fisika, seperti mekanika, adalah fenomena dunia visual.

Tapi peradaban kita tidak akan semaju sekarang tanpa dunia audio. Dunia audio dibangun dengan bunyi-bunyian. Kita menyadari akan hiruk-pikuk kehidupan dari bunyi yang kita dengar. Otak kita juga merekonstruksi dunia berdasarkan stimulus bunyi.

Salah satu bunyi yang maha penting adalah ucapan. Melalui ucapan, manusia berbahasa lisan. Dengan bahasa lisan, otak manusia menangkap realitas jauh melebihi apa yang kita bisa lihat. Orangtua, guru, mengajarkan begitu banyak hal melalui bahasa lisan.

Tidak berhenti di situ. Manusia menciptakan tulisan, yakni kode visual dari ucapan. Berbekal tulisan ini, manusia bisa mengakumulasi pengetahuan akan dunia ini. Melalui buku. Makalah. Blog.

Kombinasi stimulus visual dan auditorial inilah yang membentuk dunia kita.

Persoalannya, apakah dunia yang kita pahami dan konstruksi dalam benak kita itu benar? Lengkap? Valid?

Sederhananya: apakah dunia kita itu tidak ngaco?

Memeriksa validitas dunia visual itu sederhana. Amati saja dengan mata. Sepanjang ada cahaya dan alat lensa, macam mikroskop atau teleskop, ilmuwan bisa memvalidasinya.

Tapi bagaimana dengan dunia audio, bahasa, tulisan? Apakah ada “cahaya” dan “lensa”?

Tidak ada yang sepakat soal ini. Kita sangat bergantung pemahaman bersama, budaya, expert opinions. Dan ini sangat rawan kesalahan, bahkan manipulasi.

Oleh sebab itu kita semua wajib mengembangkan “mata hati”. Kita perlu mempertajam “lensa hati”. Kita selalu butuh “cahaya hati” untuk membentuk dunia yang lebih benar.

Itulah yang disebut Cahaya Ilahi, Nur Hidayat, Terang Allah.

Bentuknya adalah Kasih. Rahman.

Yang bercahaya menyinari, menerangi, dan menghangatkan setiap manusia. Memberi kehidupan di dunia.

Jadi realitas dunia yang lebih sejati dibangun oleh gelombang Kasih Ilahi. Realitas tentang kehidupan.

Maka belajarlah bahasa-bahasa yang mengekspresikan Kasih Ilahi itu. Itulah “lensa” yang kita gunakan untuk melihat dunia yang benar.

Dan lebih dari melihat. Kita membentuk dunia yang sebenarnya.

Selamat Tahun Baru 2014…


  1. thahirahmad

    Setuju pak Armein. Jadi tdk mungkin bergantung dgn pemahaman sendiri harus ada yg menuntun. Bersyukur tuntunan tsb diberikan universal utk seluruh manusia (sifat Rahman dr Tuhan YME).

  2. Kalau di Perception (TV series) yang saya tonton, katanya, reality is a figment of your imagination, pak🙂

  3. semua akan lebih baik kalau kita berusaha

  4. Tulisa yang sangat menginspirasi pak🙂

  5. Untuk mempertajam lensa hati bagaimana ya pak?

  6. baru kali ini saya dapat prespektif yang berbeda walaupun bertentangan dengan pemikiran, but so far good

  7. sebuah informasi yang sangat bermanfaat sekali ganj terimakasih ya gajn salam hangat ya gan




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: