Pain Killers

Apa sih kesakitan itu?

Menurut rekan saya seorang dokter bedah, rasa sakit itu tidak lebih dari informasi. Pemberitahuan. Kabar yang disampaikan saraf kita ke otak.

Jadi kalau kita dibius, itu artinya laporan nya dihambat. Gitu doang.

Nah, kata beliau juga, jangan biasakan makan pain killer, alias obat penahan sakit. Sebaiknya belajarlah untuk menahan sakit itu secara mental.

Seminggu setelah lebaran, saya terlibat kecelakaan kecil. Jari kaki saya patah. Penyebabnya sepele. Saya terlalu berkonsentrasi ke HP saya, sehingga tidak sengaja saya menendang kayu sofa di ruang tamu saya.

Wah saya dengar sendiri bunyi tulang jari kaki patah. Dan sakit sekali, sampai pening. Hal kecil, tapi melumpuhkan saya.

Lalu saya teringat nasehat rekan saya yang dokter itu. Maka saya tahan, dan mengabaikan sakitnya. Sambil minta Ina antar ke UGD RS Halmahera untuk dirawat. Setelah kaki dironsen dan di bebat, saya diberi vitamin tulang dan boleh pulang.

Sekarang sedang penyembuhan, dan semoga setelah 12 minggu nanti, jari saya sudah bisa pulih. Jalan masih agak pincang, tapi dibanding pasien lain, saya sangat beruntung.

Anyway, itu sakit fisik.

Ada sakit perasaan. Dan pain killers nya macam-macam.

Tidur. Ini pain killer mujarab. Kita sembunyi di balik selimut. Menghindari kehidupan.

Humor dan lelucon. Ini juga menghasilkan tawa segar yang membuat kita lupa akan kepedihan hidup.

Belanja barang mewah, fashion, atau gadget. Ini membuat kita merasa hebat atau asik, yang mengkompensasi kepedihan kita.

Tapi itu semua pain killer. Tidak mengatasi penyebabnya, Malah kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk menkonsumsi pain killers ini.

Sahabat, kita tidak dilahirkan di dunia untuk menghabiskan usia menelan macam-macam pain killers.

Kepedihan hidup di dunia berakar pada satu hal: kita tidak hidup menurut darma kita. Kita tidak hidup menurut esensi kita. Kita tidak hidup menurut tugas kita. Kita tidak hidup menurut jati diri kita.

Kita hidup terlalu banyak berkompromi. Jati diri kita menjadi hasil dari pemaksaan orang lain dan perbenturan sana-sini.

Itu penyebab semua kepedihan. Itu menyebabkan kita butuh pain killers.

Jadi, sahabat, semua desakan, cemoohan, bahkan pujian orang itu harus kita tahan. Bahkan ignore. Karena itu cuma informasi, seperti informasi saraf tadi itu.

Jangan sampai itu melumpuhkan kita. Jangan lari ke pain killers. Bebat saja. Kemudian bangkit. Do your thing. The original one


  1. andimultazam

    anw bagi banyak orang (termasuk sy) mencari esensi siapa-saya ini sangat susah pak. mungkin karena udah gak bisa bedain mana hidup karena tuntutan orang lain dg mana hidup yg bener2 kita inginkan. ada saran pak?

  2. Reblogged this on alderine.

  3. victorpramusanto

    Bump! analogi bapak dari pengalaman pribadi, sangat menginspirasi pak.

  4. Reblogged this on eibidifaiq and commented:
    keren…

  5. Mungkin itu juga yang dilakukan orang yang akrobat berjalan di atas beling. Mereka memanipulasi data di otak mereka sehingga tidak lagi merasakan sakit di kakinya.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: