Kebaikan Sebagai Pemersatu

“Ayah bapak kemana, kok belum kesini?”, tanya seorang tukang koran, “Janjinya Desember mau datang lagi. Ini sudah mau Januari.” . Saya jadi terkesiap.

Tukang koran merangkap tukang ledeng ini menjajakan korannya di belokan turunan Gunung Batu. Samping jalan tol Pasteur. Masih terhitung tetangga jauh, satu RW. Saya jarang bertemu. Tapi dia tahu rumah saya. Istri saya pernah minta tolong dia membetulkan pompa air.

Rupanya pada builan Juni sebelumnya, ia berkenalan dengan Ayah saya. Ayah sudah sepuh tapi ingin berkunjung ke Bandung. Maka untuk sebulan Ayah dan Ibu datang tinggal di rumah kami. Di waktu senggang, Ayah senang berjalan kami di sekitar tetangga.

Termasuk menyeberang jalan beli koran di belokan Gunung Batu.

Kita sebenarnya takut. Karena Ayah sudah sepuh. Sering sakit. Jalan tertatih.

Jadi kalau menyeberangi Jalan Gunung Batu, sangat berbahaya. Kendaran bermotor kencang berseliweran.

Maka melihat Ayah kesulitan menyeberang, tukang koran ini menghampiri dari jauh. “Sudah pak saya saja yang menyeberang bawa korannya.”

Dari situ mereka berkenalan, dan saling bertukar cerita seperti sobat. Dan Ayah sempat cerita, akansegera  kembali ke Manado. Tapi Desember akan datang lagi untuk merayakan Natal di Bandung.

Bulan Juli 2011 beliau terbang pulang ke Manado. Sepuluh hari kemudian saya menyusul, karena beliau wafat. Senang karena cita-cita nya mengunjungi kami sudah tercapai.

Jadi terbayang kagetnya saya, Januari 2012 saya singgah beli koran di belokan itu, dan tukang koran itu menyapa. “Maaf, bapak di rumah yang ada kanopi putih itu kan ya?”, “Ia”. “Ayah Bapak ke mana, kok belum ke sini? Janjinya Desember, dan ini sudah Januari…”

Akhirnya saya jelaskan, beliau wafat tidak lama setelah kembali ke Manado itu.

Giliran tukang koran ternganga, terharu seperti kehilangan seorang sobat. “Saya sering mengantarkan koran ke rumah Bapak, karena Ayah Bapak sudah sepuh. Kami suka mengobrol sebentar di teras rumah Bapak…”

Pengalaman kami dengan tukang koran ini baik. Istri saya menyebut beliau orang baik. Ayah saya jelas orang baik.

Maka saya mengerti sekarang. Kebaikan adalah pemersatu orang yang berbeda latar belakang.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: