Agama Dalam Kurikulum 2013

Mungkin tidak disengaja. Tetapi draft Kurikulum Nasional 2013 secara jenius meletakkan agama sebagai inti dari pencerdasan manusia. Tetapi agama seperti apa?

Kalau orang tidak beragama lebih pintar ketimbang kita orang beragama, something is really wrong with us.

Orang beragama harus lebih pintar ketimbang orang yang tidak beragama. Mengapa? Karena orang beragama itu mendapat ekstra wahyu, inspirasi, hidayat yang tidak didapat oleh orang yang menolak agama.

Semua yang diketahui orang atheist bisa kita tahu. Tapi sebaliknya, tidak. Jadi kita lebih unggul kan? Dapat bocoran inspirasi ilahi gitu lho.

Dan di masa lalu, semua yang mendapat wahyu Ilahi berubah menjadi luar biasa. Tadinya anak tukang kayu, menjadi Pengajar manusia. Tadinya penggembala hewan menjadi Raja besar. Tadinya buta huruf menjadi Pemimpin besar. Orang biasa menjadi orang luar biasa. Transformasi ke level yang lebih tinggi.

Sayangnya hari ini realitas tidak selalu begitu. Kontroversi Kurikulum 2013 itu datang dari kenyataan bahwa pelajaran agama saat ini jauh dari asumsi di atas.

Mungkin kita teralu terobsesi dengan simbol-simbol eksternal. Kita terlalu pusing akan perilaku orang lain. Kita terlalu menekankan aspek kultural dan sosial dari agama. Terlalu menekankan aspek legalisme.

Lupa tentang transformasi diri sendiri. Lupa akan aspek pembebasan manusia dari kebodohan, terutama sikap ignoran akan realitas yang lebih luhur. Lupa aspek inspiratif nya.

Agama menjadi pemaksaan “realitas” sosial, politik, ekonomi, bahkan biologi dan fisika. Manusia dipisah-pisah berdasarkan agama. orang mati karena agama. Agama menjadi alat politik. Ekonomi dibangun berdasarkan dogma agama. Teori evolusi ditolak karena pemahaman agama. Teori fisika tentang penciptaan alam semesta yang tidak eksplisit menyebut Tuhan juga ditolak.

Bukannya agama berdasarkan pada realitas dan perkembangannya, agama malah menjadi alat pemaksaan kehendak di berbagai bidang. Pemaksaan untuk stagnansi. Untuk menghentikan perkembangan realitas.

Padahal dulu selalu agama itu diturunkan untuk meningkatkan tingkat peradaban. Menembus kebuntuan akibat perangkap budaya. Esensi agama: perubahan ke level lebih tinggi. Ke realitas baru. Ke greater reality.

Agama dimaksudkan untuk membuat manusia naik kelas, tambah pintar, naik ke suatu level peradaban yang lebih tinggi. Membuat semua neuron dan sel dalam tubuhnya lebih tertata menjadi sosok yang lebih jenius. Transformasi menjadi makhluk baru. Umat manusia disiapkan untuk menghadapi realitas baru.

Kalau itu pengertian agama maka Kurikulum 2013 itu jenius.

Kalau tidak, maka kita semua celaka.


  1. Atindriyo161

    Reblogged this on Pancake and Waffle.

  2. Reblogged this on SugarLessCoffee.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: