Akar Masalah

Hidup menjadi rumit karena “idealisme” kita tidak sesuai dengan realitas dunia.

Kita berusaha menjadi sosok yang bukan kita.

Kita mencoba mengubah orang lain menjadi orang yang bukan dirinya.

Kita mencoba mengubah dunia menjadi bentuk ideal kita yang tidak sesuai dengan realitas dunia.

Apa yang kita inginkan itu bukan kebutuhan yang sebenarnya.

Itu semua akar masalahnya.

Ini datang dari pengetahuan yang tidak pas tentang siapa kita, siapa orang lain, dan apa dunia ini. Kita malas, atau bahkan tidak peduli, dengan pengetahuan terbaru mengenai dunia ini.

Berapa orang yang menyadari bahwa dunia ini ber-evolusi? Bergerak dari tiada, 13.7 miliar tahun lalu, menjadi seperti sekarang? Keanekaragaman hayati berkembang di bumi dari satu sel 1.5 miliar tahun lalu, menjadi makhluk yang ada sekarang? Bahwa kita sudah mengenali miliaran planet seperti bumi, yang kemungkinan memiliki makhluk hidup?

Saya ingin bilang bahwa realitas hidup adalah hasil perkembangannya sendiri, tanpa intervensi manusia. Kita hanya bisa menyusahkan diri sendiri menghambat perubahan ini.

Semua idealisme, doktrin, semua yang kita anggap benar, keinginan kita, hanya relevan bagi imajinasi kita. Tidak relevan bagi realitas perjalanan kehidupan yang saya bilang tadi.

Dengan kata lain, manusia menciptakan kesusahannya sendiri, lalu menderita karenanya.

Akar masalah kita adalah ketidak tahuan kita akan siapa kita, siapa orang lain, dan apa realitas dunia.

Coba pikirkan, apa masalah anda hari ini? Coba kaitkan dengan realitas evolusi semesta ini. Ada artinya nggak?

Jadi sudah jelas. Manusia harus menyederhanakan hidupnya. Meninggalkan perangkap idealisme dan mengganti dengan pengetahuan akan realitas. Meninggalkan pengejaran keinginan dan menggantinya dengan pemenuhan kebutuhan. Berhenti mengubah dunia sesuai kehendak kita dan menuruti dengan hormat kehendak Pencipta.

Kita harus menyadari bahwa kita tidak mengambil di dunia ini, tapi memberi. Kita tidak datang untuk menjadi kaya raya, atau yang paling hebat. Tetapi kita datang untuk berkontribusi agar generasi mendatang lebih maju lagi, lebih aman lagi, lebih sehat, lebih mampu berkontribusi.

Kita berhenti berusaha memperkaya diri dengan materi dan hanya mencari materi secukupnya. Apa ukuran secukupnya? Ya itu, secukup yang diperlukan untuk menjalankan tugas kehidupan kita.

Maka hidup kita jadi sederhana. Tidak rumit. Tidak kompleks. Tidak galau. Tidak sia-sia.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: