What is the point?

If you cannot see, if you cannot know, what is the point?


Saya menemukan banyak tulisan yang sukar dibaca. Ada persoalan bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa terlalu asing buat saya.

Yang lain menggunakan bahasa yang saya tahu. Tapi kalimatnya rumit. Panjang. Kata-kata yang digunakan tidak sederhana. Gaya penulisannya hanya bisa dimengerti oleh orang di masa lalu.

Yang lain lagi memang menggunakan bahasa masa kini. Ditulis sederhana. Tapi tetap tidak bisa saya cerna. Karena isinya tidak logis. Tidak bisa dilihat. Berbicara sesuatu yang terlalu bersifat pertentangan istilah. Yang bersumber pada ketidaktahuan. Bersumber pada pergumulan pemikiran dalam diri sendiri akitbat ketiadaan realitas.

Padahal banyak buku itu berbicara tentang topik penting. Tentang kehidupan. Tentang semesta. Tentang surga. Bahkan tentang Tuhan.

Tapi kalau tulisan itu menggambarkan realitas yang tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita rasakan, tidak bisa kita alami, yang tidak bisa kita cerna sebagai pengetahuan, buat apa? Buat apa orang menulis buku seperti itu?

Berbahaya kalau pikiran kita dipenuhi ide-ide yang bukan realitas. Berbahaya bagi kesehatan jiwa. Berbahaya bagi cara pandang kita tentang kehidupan.

Buku harus ditulis ulang dengan bahasa hari ini. Dalam pengertian hari ini. Berdasarkan realitas hari ini.

Baru ia bisa menginspirasi kita semua.

 




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: