Saluran

Kita membutuhkan sensivitas cahaya baru untuk melihat dunia masa kini. Kita perlu hidup lebih dari apa yang dilihat mata.

Realitas manusia saat ini dibangun berdasarkan cahaya.

Apa maksudnya?

Sederhana. Cahaya yang membuat mata kita bisa melihat. Dan hasil penglihatan ini yang membentuk semua realitas yang ada dipikiran kita. Termasuk realitas sains dan ilmu pengetahuan.

Melalui cahaya kita memiliki kesadaran ruang dan waktu. Kesadaran akan kekuatan dan energi. Kesadaran akan eksistensi. Melalui penglihatan.

Bahkan realitas tertulispun kita baca. Menggunakan cahaya dan penglihatan.

Sekarang ilmuwan mnyadari bahwa cahaya itu adalah gelombang elektromagnetik, yang bergetar pada frekuensi sekitar 550 teraHertz (sekitar 400-800 THz). Ini serupa dengan gelombang radio. Gelombang TV. Gelombang cellphone.

Dengan kata lain, apa yang dilihat mata kita hanyalah sebuah saluran, sebuah kanal TV, pada gelombang 550 THz. Di luar itu, nyaris tak hingga jumlah kanal yang tidak kita lihat. Jadi kalau kita cuma sensitif pada kanal itu, maka realitas kita, apa yang kita lihat di dunia, cuma pada saluran ini.

Terbayang what we are missing.

Bisakah kita melihat informasi pada frekuensi lain?

Ada instrumen yang disebut demodulasi, yang melakukan tugas ini. Prinsipnya adalah resonansi. Instrumen ini memiliki osilator yang dibuat bergetar pada frekuensi yang dituju, sehingga terhubung (beresonansi: bergetar bareng) dengan medan elektromagnetik pada frekuensi yang diinginkan tersebut. Setelah terhubung, maka informasi yang ada di saluran tersebut berimbas juga pada instrumen ini. Setelah informasi di bawah ke frekuensi yang alamiah untuk kita, kita bisa menikmati informasi di saluran itu. (Prinsip ini digunakan di penerima radio, TV, dan alat komunikasi radio lainnya).

Maka kitapun perlu belajar melatih diri untuk melihat cahaya pada saluran lain. Dengan teknik modulasi itu. Dengan teknik resonansi.

Salah satu teori mengatakan, bila hati kita senang, maka frekuensi internal kita bergerak pada saluran senang. Dan kita akan bergabung dengan orang-orang yang senang. Dan kita bakal melihat realitas dunia yang menyenangkan.

Sebaliknya bila kita marah, jengkel, maka osilator kita bergetar pada frekuensi saluran marah. Kita bakal terhubung pada dunia yang isinya orang marah-marah. Maka realitas dunia kita menjadi pahit.

Terlepas benar-tidaknya teori ini, kita perlu menyadari bahwa realitas dunia ini jauh lebih besar ketimbang apa yang mata kita lihat. Itu menjadi kunci kehidupan yang lebih cerdas dan lebih maju.


  1. Proyeksi eterik – Berbeda dengan proyeksi “astral”, pemahaman tradisional pengalaman keluar dari tubuh melibatkan proyektor (atau traveler) bergerak sekitar dalam bentuk biasanya tidak terlihat atau hantu-seperti dalam realitas fisik biasa <tubuh eterik. Dunia ini mungkin, bagaimanapun, memiliki perbedaan kecil antara realitas dunia fisik yang kita tahu apakah mengendalikan pikiran tidak dijaga ketat. Para pendukung dari tulisan-tulisan Robert Bruce kadang-kadang merujuk kepada praktek ini sebagai “Real Time Proyeksi” (RTP) dan dunia fana sebagai “Real Time Zone” (RTZ). Dari Real Time Zone, wisatawan dapat mengakses “astral” atau tetap dalam RTZ dan kejadian saksi real time.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: