Konteks

Menyikapi makna segala sesuatu butuh konteks yang tepat.

Konteks itu kondisi eksternal, keadaan, lingkungan, setting di mana sesuatu peristiwa terjadi.

Konteks itu memberikan makna bagi sesuatu itu. Peristiwa bisa sama, tapi bila konteksnya berbeda maka makna peristiwa itu juga berbeda.

Misalnya, saya dimarahi orang. Itu peristiwa. Apakah saya senang atau tidak? Nah kalau saya tidak salah, jelas saya tidak senang. Tapi kalau saya melakukan kesalahan, apalagi kesalahan yang berat, maka kalau cuma dimarahi, saya senang.

Orang digaji lima juta sebulan. Senang atau tidak?  Kalau sebelumnya gajinya sejuta sebulan, dia senang. Kalau sebelumnya sepuluh juta, ya tidak.

Oleh sebab itu kita harus selalu menyadari dalam konteks apa suatu peristiwa dalam hidup kita terjadi. Bahkan, menurut saya kalau kita beriman kepada Tuhan, maka apapun yang terjadi, itu selalu baik karena ada dalam konteks pemeliharaan dan pembinaan Ilahi.

Semua kesulitan hidup, kalau di lihat dari konteks yang lebih tinggi (ilahi), adalah berkat. Didikan. Ujian. Untuk membuat kita lebih baik.

Saya punya pemahaman bahwa hidup ini, dunia ini, adalah sebuah sekolah raksasa. Sebuah super university. Tempat kita menjadi cerdas. Menjadi pintar.

Sama, bukan, bahwa tidak selalu pengalaman kita di sekolah itu menyenangkan. Ada guru yang galak. Ada tugas belajar yang banyak. Ada teman yang nyusahin. Ada bullies. Sehingga ada juga siswa yang bolos dari sekolah. Pergi main ke mall dengan temannya. Karena sekolah dianggap tidak menyenangkan.

Kita juga demikian. Kabur dari kehidupan. Sembunyi. Kalau sudah pagi, harus kerja, jadi malas. Tidak semangat. Bahkan ada yang langsung sakit perut. Merasa dunia ini kejam.

Tapi saya pikir, kalau siswa itu mengerti bahwa dia cerdas, dia bisa persiapan di rumah, rajin buat PR, maka dia bisa menjadi siswa ngetop di sekolah. Sehingga sekolah itu menjadi tempat yang asik.

Keluar dari sekolah kita tambah pintar. Dapat ijazah. Boleh masuk universitas, atau kerja..🙂

Demikian juga kalau kita paham bahwa kita dibekali kecerdasan Ilahi, dan kita rajin mengerjakan PR-PR kita, maka hidup ini menyenangkan.

Keluar dari kehdiupan ini kita sudah pintar. Dapat ijazah. Boleh masuk sorga…🙂

Jadi resep kita menghadapi hidup ini adalah menyadari konteksnya. Bahwa hidup ini adalah sekolah raksasa untuk membuat kita jadi pintar. Dan dapat ijazah Ilahi.

Itu konteks nya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: