Make Believe

Kita perlu menyadari bahwa manusia hidup setidaknya di dua realitas: realitas khayal dan realitas nyata. Dan realitas khayal adalah sumber berbagai penderitaan yang tidak perlu.

Realitas nyata adalah, ya itu dia, realitas beneran. Realitas fakta. Realitas alam.

Realitas khayal itu adalah learned reality. Sesuatu yang diajarkan pada kita. Sesuatu yang kita latih. Sesuatru yang dibuat percaya. Make believe.

Sama seperti film bioskop atau drama teater. Ada cerita, hasil khayalan orang, yang kita mainkan.

Persoalannya, dalam teater kehidupan, budaya mengajarkan semua orang untuk memainkan drama ini dengan baik penuh penghayatan. Setelah bertahun-tahun, kita tidak lagi tahu beda antara teater budaya ini dengan realitas alam. Semua produk drama khayalan ini menjadi sangat nyata.

Ambil contoh uang kertas. Uang ini tidak punya makna fisik dan alam sama sekali. Tetapi semua orang memainkan drama penuh penghayatan untuk mendapatkan lembar kertas ini, sebanyak mungkin. Ekonomi di bangun oleh drama ini. Segela sesuatu diukur dengan angka khayalan ini.

Selanjutnya, banyak sekali penderitaan manusia muncul karena realitas khayal ini. Mulai dari stress, kehilangan jabatan, direndahkan orang, dihina, penipuan uang, sampai pada kerugian akibat harga saham atau harga valas. Semua membawa penderitaan, yang tidak jarang akhirnya membunuh manusia secara fisik.

Jadi bagaimana?

Saya kira kita tetap harus bersyukur adanya kedua realitas ini. Karena baik realitas alam maupun realitas khayal ini memiliki fungsi untuk menghantarkan manusia pada tingkat evolusi yang lebih tinggi. Pada akhirnya, realitas yang lebih tinggi menggunakan instrumen yang dilatih pada dunia khayal untuk melihat realitas alam yang lebih besar.

Kita harus menggunakan keahlian yang sudah dibangun di dunia khayal untuk melihat dunia nyata secara lebih luas. Kita menyadari adanya kecerdasan yang lebih tinggi. Ada kesadaran yang lebih tinggi. Ada mata yang lebih tajam. Ada pengetahuan yang lebih dalam. Dan kita harus berusaha mencapainya.

Maka niscaya kita memadukan kedua realitas: alamiah dan learned itu ke dalam realitas yang lebih besar. Kita hidup dalam realitas yang sebenarnya. Dan kita tidak hidup sebagai cultural animal lagi.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: