Manusia Biasa

Saya sering merasa terganggu. Apa sih yang bisa kita lakukan, sebagai manusia biasa, untuk membuat keadaan menjadi lebih baik?

Saya sering merasa kewalahan. Masalah hidup kita begitu banyak. Masalah dunia itu begitu banyak. Apa sih yang bisa kita lakukan? Apa yang seorang manusia biasa bisa lakukan?

Kita sangat berharap pada pemimpin. Bahkan superhero. Mereka yang punya otoritas. Mereka yang punya kekuatan lebih. Supaya mengubah keadaan kita menjadi lebih baik.

Tapi yang kita lihat sungguh mengecewakan. Pemimpin kita sibuk memperkaya diri. Orang yang kita pilih secara demokratis ternyata lebih memilih korupsi daripada melayani kita. Orang dengan kekuatan lebih ternyata menjadi kejam dan lalim pada kita. Menggunakan kekuatannya untuk menabrak hukum dan hak orang lain. Menggunakan kepintarannya untuk mengakali orang lain.

Apa sih yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa?

Saya melihat bahwa semua masalah ini akibat kegelapan dan kebodohan. Orang tidak tahu realitas kehidupan yang sebenarnya. Orang buta akan kenyataan hidup. Orang tidak cerdas dalam melihat kebenaran.

Orang mengarang-ngarang, berfantasi, akan kebahagiaan hidup. Hasil fantasinya: harta milik sebanyak mungkin, jabatan setinggi mungkin, kekuasaan sebesar mungkin, citra seharum mungkin, nafsu sepuas mungkin, hidup semewah mungkin. Formula fantasi: selalu harus lebih dari orang lain dalam segala hal. Kalau perlu dengan menekan dan merampas hak orang lain.

Itu semua fantasi orang buta yang bodoh dalam merumuskan apa hidup ini.

Jadi tugas pertama kita adalah berhenti jadi orang buta. Berhenti berfantasi. Berhenti menjadi orang bodoh.

Untuk mengetahui kebenaran realitas hidup, kita memerlukan cahaya matahari. Yang menerangi jalan hidup ini.

Siapa yang memiliki cahaya itu? Mestinya mereka yang pintar. Mereka yang menjadi pemimpin kita. Mereka yang memiliki kelebihan dari kita. Mereka yang diberikan nur cahaya hidayat dari Allah.

Sayangnya, pemimpin kita malah menutupi cahaya mentari itu. Sehingga dunia menjadi gelap. Semua menjadi buta.

Maka, kita sebagai orang biasa, harus menjadi lilin. Pelita. Yang bersinar menerangi jalan kita. Memang tidak sehebat mentari. Jauh lah. Tapi lumayan kita mulai bisa melihat jalan setapak kehidupan.

Dan kita mencari teman kita, menyalakan lilin-lilin nya. Sehingga semakin banyak orang biasa yang menyalakan lilin kecil nya. Dan dunia semakin terang. Bukan oleh mentari. Bukan oleh mereka yang istimewa. Tetapi orang orang biasa, kita semua, yang bersedia berkontribusi lilin nya, pelitanya, bagi kehidupan.

A fellowship of candlelights…

Bagaimana lilin itu bisa menyala? Kita bisa mulai dengan tidak pernah berpartisipasi dalam tindak kejahatan. Tindak tercela. Kita menjaga hak orang. Menjaga kepentingan orang. Dalam skala kecil, personal, lokal, dalam kehidupan kiat sehari-hari.

Meskipun dunia edan, kita menolak ikut-ikutan.

Kita kemudian bersedia mengekspresikan benih kebenaran dari Allah dalam hati kita, tumbuh menjadi pohon kehidupan, untuk berbuah bagi sesama kita. Buah yang kita hasilkan itu bukan saja manis dan lezat, tapi juga sehat dan bergizi. Buah kita itu: pikiran kita, ucapan kita, perbuatan kita, kelakuan kita. Itu semua mengekspresikan kasih sayang Ilahi yang sudah ditanamkan dalam diri kita.

Itulah kehebatan manusia biasa pada saat jalan hidupnya menjadi terang. Ia bisa mengekpresikan kasih sayang Ilahi kepada siapun yang ia temui. Ia melakukan apa yang benar. Tanpa perlu jabatan. Tanpa perlu fasilitas. Tanpa perlu otoritas. Ia hanya butuh cahaya. Dari sebuah lilin sekalipun. Untuk membebaskannya dari kebutaan, fantasi, dan kebodohan.

Itulah yang saya rayakan dalam suasana Natal tahun ini. Merayakan kebenaran bahwa Allah menamankan KehendakNya, FirmanNya, KasihNya dalam setiap manusia biasa. Firman Ilahi menjadi manusia biasa. Sehingga ia tidak buta. Tidak mengkhayal akan realitas. Dan itu memampukan manusia biasa membawa perubahan fundamental dalam dengan mengekpresikan Kasih Ilahi dalam dirinya itu. Memampukan manusia biasa menjalankan missi Ilahi.

Selamat Natal… Nayalakan lilinmu…


  1. Selamat merayakan hari Natal Pak Armein, keep posting!.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: