Belajar Seumur Hidup

Benar bahwa kita harus selalu belajar sepanjang hidup. Tapi tidak benar kita harus mempelajari semua ilmu. Belajar itu bukan tujuan, tapi cara hidup. Missi, bukan visi.

Sekarang semua sedang sibuk menyusun kurikulum pendidikan. Muncul pro-kontra, baik tentang struktur maupun isi kurikulum.

Tersirat dari kontroversi, adanya perbedaan asumsi akan realitas hidup. Seakan-akan anak didik harus dijejali bermacam-macam ilmu.

Bukankah berbagai realitas hidup tidak begitu?

Pertama, kita tidak hidup selama-lamanya. Harapan hidup manusia Indonesia hidup : 71.62 tahun. Pria 69.07 tahun dan wanita 74.29 tahun.

Kalau hidup kita sesingkat itu, tujuan kita hidup bukan untuk belajar sebanyak mungkin ilmu, melainkan kita hidup untuk berkontribusi. Agar saat usianya berakhir, dunia sudah lebih baik.

Kemudian, dengan usia sesingkat itu, tidak mungkin semua ilmu harus dipelajari. Tidak cukup waktu. Jadi ilmu yang harus dikuasai adalah ilmu yang membuat kontribusi kita efektif.

Di makam setiap manusia seharusnya tertulis, di sini terbaring sesorang yang sudah membaharui dunia. So succesful. Bukan: disini terbaring orang yang sudah menguasai semua ilmu di dunia. So useless.

Kedua, manusia bukan semata-mata kertas putih yang siap disi aspapun. Setiap manusia juga membawa talenta, bakat, pengetahuan, dan bahkan tugas khusus dari Pencipta. Jadi pendidikan itu menggali dan menemukan bekal Ilahi itu, agar ia bisa berkontribusi efektif. Ada benih Ilahi yang ditanamkan pada diri kita untuk bertumbuh di dunia.

Implikasinya: kita harus mendalami ilmu yang menumbuhkan benih talenta kita itu. Menyiraminya. Menyianginya. Sehingga ia tumbuh besar, rindang meneduhkan banyak orang, dan berbuah lezat. Buah ini adalah persembahan manusia bagi sesamanya. Jadi pendidikan adalah proses berkebun talenta. Guru adalah petani kebun yang dipercayakan Pencipta.

Kalau manusia itu kertas putih, maka guru akan mencetak dirinya sendiri kepada anak didiknya. Anak didiknya menjadi plagiat, versi KW-2 dari gurunya. Orang hidup menurut proyeksi pendahulunya. Dan dunia ini tidak maju. Missi Pencipta melahirkan kita di dunia, yakni membawa pembaharuan, akan gagal.

Ketiga, peran guru sekolah itu terbatas. Pada akhirnya guru harus mendidik anak muridnya untuk bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri. Pada akhirnya setiap manusia bertanggungjawab untuk menemukan talenta nya itu, missin ya itu, dan memastikan ia bisa berbuah.

Ini berarti guru melakukan estafet peran kepada anak didik. Estafet tanggung jawab.

Saat ini terjadi maka, kita berubah menjadi murid seumur hidup. Belajar tidak pernah henti. Tapi bukan belajar dari ruang kelas. Melainkan belajar dari pengalaman berbuat. Pengalaman berkontribusi.

Hidup itu adalah belajar berkontribusi. Dan dari kontribusi itu kita juga belajar. Agar kita semakin efektif berkontribusi.

Selamat belajar…


  1. Reblogged this on Rizqisme and commented:
    Nice Post

  2. Seperti istilahnya Mr James Gwee, Belajar dan Seminar seumur hidup😀

  3. azizah

    meaningfull and usefull




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: