Orang Sakti

Kita sering terpukau pada orang sakti. Mandraguna. Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita diciptakan sebagai orang sakti. Dan kita harus hidup dengan kesaktian kita itu.

Setiap orang memiliki kesaktian. Apa itu? Itu adalah DNA Ilahi. Pengetahuan. Kehidupan. Jati diri. Hakekat kita yang sebenarnya.

Coba lihat, manusia yang hebat ini terdiri dari apa?  Secara biologis kita terdiri dari sel-sel. Dan sel-sel ini sebenarnya makhluk sangat kecil.

Tapi banyangkan pencapaian sel-sel ini saat menjadi umat manusia. Kita sudah tiba ke bulan!

Mengapa sel-sel kita bisa begitu? Karena ada kesaktian sel, yaitu DNA. DNA adalah kode, program, instruksi yang menjadi pegangan sel untuk bekerja. Dan sel dalam tubuh kita memiliki DNA yang sama. Tapi yang diaktifkan adalah bagian yang sesuai. Berkat kode DNA ini, sel tahu harus apa, sehingga kita bisa membuat roket ruang angkasa, dan menjejakkan kaki kita di bulan.

Kalau DNA kita salah, kita jadi simpanse yang sibuk dihutan cari makan dan cari betina. Bulan cuma bisa ditengok dari atas pohon.

Secara mental, rohani, kita juga punya DNA. DNA mental. DNA rohani. Dan itu sudah ditanamkan pada setiap manusia sejak kita masih dalam kandungan. Itu jati diri kita. Bagian Ilahi yang ada dalam hati kita.  Yang memberikan petunjuk Ilahi bagi kita.

Itulah kesaktian kita. Yang membuat kita bisa menjejakkan kaki ke sorga dan tinggal di sana. Yang membuat kita pindah ke sebuah kehidupan yang lebih besar dari yang ada sekarang. Kehidupan orang sakti.

Tapi mengapa manusia tidak hidup seperti orang sakti. Bukan saja cuma hidup biasa-biasa saja. Terkadang hidup kita malah seperti simpanse. Kawin mawin empat hari. Untuk kita ceraikan lewat SMS.

Karena kita tertipu. Kita lupa akan DNA sakti kita. Kita membentuk sosok diri kita lebih rendah dari yang sebenarnya. Kita mengadopsi semua yang dianggap hebat oleh budaya. Tanpa kita mempersoalkannya secara kritis.

Kita membiarkan ambisi, hasrat, ketakutan, idealisme, fantasi, khayalan, marketing membentuk diri kita. Kita menjadi produk budaya. Produk marketing. Produk khayalan.

Dan budaya kita itu memuja orang sakti, tapi tidak mengijinkan kita menjadi orang sakti.

Kita harus belajar melepaskan semua itu. Menemukan kembali DNA kita. Menemukan kembali jati diri kita. menemukan sosok yang berbasis realitas.

Menemukan keilahian yang ada dalam diri kita. Menemukan status kita sebagai utusan Tuhan di bumi.

Menemukan orang sakti dalam diri kita. Yang rindu untuk berkontribusi secara istimewa bagi kemajuan kehidupan.

Orang sakti. Orang yang hidup dalam kebenaran hakiki…




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: