Bara Cinta

Cinta lah yang mengikat suami-istri seumur hidup. Tapi bukan nyala api cinta yang membakar. Melainkan bara api yang hangat dan terus menerus.

Rupanya ada banyak alasan manusia menikah. Ada karena tuntutan biologis, ingin punya keturunan. Ada karena desakan ekonomi. Ingin masa depan yang terjamin. Ada juga karena ingin berkuasa. Ada karena status dan desakan sosial. Bahkan ada perkawinan politis. Pertimbangan jabatan.

Sebenarnya motivasi ini bukannya buruk. Tapi hal-hal itu seharusnya dicapai dengan cara lain. Perkawinan itu punya tujuan lebih dari itu.

Itu tentang relasi seumur hidup. Tentang komitmen abadi.

Dan magnet dari komitmen ini adalah cinta.

Cinta…

Terlalu banyak teori tentang cinta. Orang mengasosiasikan terlalu banyak sinonim untuk cinta: mulai dari kasih sayang, nafsu, patriotisme, bahkan selera kesukaan.

Tetapi cinta yang mengikat suami-istri adalah cinta yang sejati. Kekuatan yang mendorong hati kita untuk melakukan yang terbaik bagi pasangan kita. Kekuatan yang mendorong kita membuatnya mencapai impiannya. Kekuatan yang mendorong kita untuk membuatnya melakukan hal yang baik dan mulia. Kekuatan yang mendorong kita untuk mendekatkan nya kepada Allah.

Itulah cinta. Kekuatan yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. demi kebaikan pasangan kita.

Bayangkan jaman purbakala. Manusia purba hidup di gua, untuk berlindung dari kerasnya kehidupan. Dari ancaman binatang buas. Dari cuaca yang tidak bersahabat.

Di dalam rumah gua nya ada api. Yang menghangatkan. Yang menerangi. Yang menghilangkan ras takut.

Tentram. Hangat.

Perkawinan adalah rumah hati. Rumah yang melindungi suami-istri dari kekerasan kehidupan. Dan cinta adalah api yang menghangatkan rumah hati itu.

Itulah cinta suami-istri…

Jadi cinta itu bukan nyala api. Itu nafsu. Nyala besar yang menghanguskan rumah. Benderang seketika, lalu mati, meninggalkan arang hitam.

Cinta itu adalah bara api. Tidak spektakular. Tapi terus membara. Terus diberi kayu bakar untuk memeliharanya. Sesekali ditiup menjadi nyala api, saat diperlukan untuk memasak. Tapi setelah itu dipelihara dalam bara sekam.

Tentram. Hangat.

Sepanjang musim. Sepanjang tahun. Seumur hidup.

Selamat ber suami-istri. Selamat menikah. Selamat menempuh hidup bersama. Seumur hidup.

Bersama bara cinta…


  1. Reblogged this on adrianpradana.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: