Kebahagiaan Dalam Hal Kecil

Kita perlu belajar menikmati kebahagian dalam hal-hal yang kecil.

Orang berpikir untuk menghabiskan seluruh usahanya, seluruh hidupnya, untuk mengejar kebahagiaan. Akibatnya kebahagiaan itu harus besar, hebat, spektakuler. Karena dikejar seumur hidup, kan ya?

Masalahnya ada banyak. Pertama, ini alamat kita baru mencapainya nanti, kalau kita sudah tua. Kalau kita sudah habis-habisan.

Kedua, seluruh hidup kita menjadi terlalu berorientasi pada diri sendiri. Egois. Untuk kepentingan kita.

Ketiga, kita takut sekali gagal. Kalau nanti tujuan itu tidak tercapai, celaka. Terlambat.

Masih banyak lagi. Tapi yang terpenting adalah, apakah itu benar? Apakah benar kita dilahirkan di dunia ini untuk keluar dari kesengsaraan? Apakah Tuhan tidak bisa langsung melahirkan kita di sorga? Mengapa harus susah seperti ini? Dengan resiko gagal lagi.

Saya kira yang lebih benar adalah bahwa kita itu dikirim ke bumi ini untuk bertugas. Untuk suatu missi. Untuk menjaga bumi ini. Memeliharanya. Mengembangkannya. Untuk kebaikan generasi mendatang.

Bukan untuk mengejar kepentingan kita. Bukan untuk kita jarah. Kita kuras. Kita lahap dengan serakah.

Bukan juga untuk mencari kebahagiaan. Seakan-akan kebahagiaan itu disembunyikan kayak telor paskah. Dan kita harus berkelana di bumi seumur hidup untuk mencari nya.

Kita mengalami kesusahan, karena memang itu yang dirasakan semua orang di dunia. Kita mengalami penderitaan, ketakutan, kesakitan, kekecewaan, supaya kita mengerti apa yang dihadapi semua orang. Semua itu kita harus alami supaya kita tahu persis problem apa yang harus kita atasi.

Bukan untuk kita saja, tapi solusi itu untuk semua orang. We just have to eat our own dog food

Nah dalam menjalankan amanat ini, apakah kita berhak menikmati kebahagiaan?

Tentu saja.

Saya ingat kalau mendiang ayah saya sedang asik bekerja, beliau bersiul. Beliau menikmati siulan itu. Sepele bukan? Tapi siulan itu justru membuatnya berkonsentrasi.

Ini bentuk kebahagiaan dalam hal-hal yang kecil. Dalam hal-hal yang sepele.

Kita menikmati keberadaan kita di sini. Kita nikmati keluarga, persahabatan dan relasi yang kita punya. Kita menikmati rejeki yang diberikan hari ini. Kita nikmati transportasi yang kita naiki. Kita nikmati pemandangan sekeliling saat macet.

Kita nikmati tugas pekerjaan kita.

Kita nikmati mentari yang hangat, hujan yang sejuk, bintang malam yang gemerlap.

Kita nikmati udara yang segar, yang kita hirup. Suara-suara kehidupan.

Saya bisa tambahkan daftar ini, tapi you’ve got the point.

Semua yang gratis kita nikmati dan syukuri. Apalagi yang harus bayar.

Kita tidak lama di dunia. Jadi bodoh kalau kita tidak menikmatinya sekarang juga.

Tetapi, itu semua harus tetap dalam konteks tugas kita. Kita jangan terlena kemudian melupakan apa yang harus kita bangun di sini. Hal-hal kecil yang kita nikmati justru harus membantu konsentrasi kita mengerjakan hal yang besar.

Oleh sebab itu, hal-hal yang harus kita nikmati adalah hal-hal yang kecil. Yang sepele. Yang membuat kita bisa tetap tekun dan damai dalam menjalankan ikhtiar kita.

Berbahagia dalam hal-hal kecil.


  1. Eva

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. copy ya, Pak….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: