Ingin Cantik

Rasanya semua wanita ingin cantik. Mengapa?

Semua ciptaan Tuhan itu sudah amat-sangat cantik.

Tapi manusia tidak puas. Ia memutuskan untuk lebih dari Tuhan. mendingan kalau cuma beli kosmetik. Ada yang sampai bolak-balik dioperasi plastik.

Ini contoh penting tentang tipuan mata. Tipuan budaya.

Orang belajar. Tapi ajaran sesat.

Manusia sebenarnya tidak tahu apa cantik itu. Waktu dia lahir, dia polos-pols saja. Tapi orang sekitarnya mulai mengajarkan padanya konsep cantik itu.  Cantik itu seperti apa. Dan apa saja keuntungan orang cantik.

Maka konsep ini mulai masuk ke dalam benaknya. Dan diperkuat, reinforced, oleh lingkungannya. Oleh mass media. Oleh budaya.

Akhirnya dia percaya bahwa ada orang cantik dan ada yang tidak cantik. Beruntunglah orang cantik. celakalah orang tidak cantik.

Saya pernah baca di beberapa artikel bahwa cantik itu sebenarnya sinyal kesuburan dan kesehatan. Bahwa turunan dia nanti bakal sehat, cerdas, dan bermasa depan cerah. Jadi cantik itu tipuan alam untuk mengutamakan gen-gen istimewa.

Keberatan saya adalah: memangnya kita itu hewan? Memang kalau hewan dan tumbuhan, faktor gen sangat menentukan. Tapi yang namanya homo sapiens, ya gen nya nyaris sama.  Nggak beda jauhlah, makanya spesies kita diklasifikasikan sebagai homo sapiens.

Terlebih kalau cantiknya akibat make-up, baju, atau operasi plastik. Yaa… nggak ngaruh sama sekali lah ke urusan gen. Buset deh, tertipu berat tuh. Sinyal nya doang yang bagus, sumbernya sih biasa saja.

Ada juga yang berpikir dagang. Pikirannya, kalau cantik bisa dapat suami kaya. Jadi hidup terjamin. OK lah, ini sih win-win. Yang satu butuh duit, yang satu butuh pengakuan orang. Saya berusaha nggak men-judge orang. Tetapi saya pikir bukan itu deh tujuan orang ber suami istri.

Mungkin orang tanya. Kalau semua orang cantik, kita kawin sama siapa?

Nah, saya pikir kita kawin sama orang yang menarik buat kita. Yang atraktif buat kita.

Cantik itu beda dengan menarik. Cantik itu menyangkut tingkat kualitas fisik dan wajah secara visual. Ciptaan Tuhan pasti cantik.

Tapi menarik itu seperti magnet. Membuat kita lengket. Kita suka. Kita senang.

Sama seperti magnet yang bisa tolak-menolak dan tarik-menarik, wanita yang menarik itu sebenarnya spesifik pada pria tertentu.

Dan menarik itu beyond fisik. Itu lebih ke ekspresi. Kultur. Bahasa. Perilaku. Cara berinterkasi.

Dan esensi atraktif yang otentik itu: sinyal kasih dan komitmen seumur hidup.

Soulmate.

Orang yang bakal membuat hidup kita bermakna. Yang mengangkat level kita melebihi hewan. Melebih obyek ekonomi. Melebihi status sosial.

Soulmate itu mengangkat kita menjadi makhluk mulia. Sepanjang hidup.

Kita musti hati-hati juga. Karena kita bisa tidak sengaja belajar ketertarikan secara palsu.  Misalnya, karena semua orang tertarik, kita jadi ikut tertarik. Karena seperti yang kita lihat di majalah atau film, kita jadi tertarik. Karena cocok dengan ideal kita, kita jadi tertarik.

Ini semua palsu karena berdasarkan konsep. Bukan realitas. Bukan pengalaman.

Ini semua palsu, karena berpusat pada pengakuan orang akan kita.

Ini semua palsu, karena tidak ada komitmen jangka panjang.

Yang asli itu, setelah kita berinteraksi, kita menemukan kasih. Kita menemukan komitmen. Kita menemukan transformasi diri kita menjadi lebih mulia.

Akhirnya, jangan meniru model, atau artis. Itu tipuan komoditas. Didesain untuk menarik banyak orang. Kecuali anda memang cari makan lewat jual tampang, di industri hiburan gemerlap, atau di dunia hitam, buat apa anda harus menarik bagi banyak orang?

Emang mau punya suami berapa? Ini kan perkawinan, bukan pilkada…

Anda semua sudah cantik. Didandani langsung dari salon sorga. tidak perlu macam-macam. Kalaupun harus menarik, untuk satu soulmate saja sudah lebih dari cukup.


  1. M.Suntoro

    Kalau soal kecantikan itu memang relatif jadinya ya. Dipengaruhi oleh budaya, cara menilai kecantikan wajah kita tentu berbeda dengan orang Eropa, Amerika atau afrika. Dan nyatanya dalam kitab suci pun ada diceritakan “Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” Tentu itu sebagai rangsangan bagi manusia untuk berbuat baik dan tentu sebaiknya berbuat baik bukan karena bidadari ya Pak…. Tapi bagi saya pribadi, orang memang tidak Cuma dilihat dari kecantikan fisik, tapi juga intelektual dan spiritualnya. Sebab terkadang sering kita temui “cantik kok kelakuannya begitu ya, cantik kok norak ya, cantik kok bodoh ya, sayang amat?”
    Bagi kita, ketika melihat Ibu, Nenek, Adik perempuan, Isteri, Anak perempuan kita, bukan kecantikan fisik lagi yang kita nilai. Tapi bagaimana mereka bisa menjadi seperti seekor induk Elang yang berani memutuskan untuk menukik dalam kobaran api untuk memberikan kebahagiaan terakhir bagi anak-anaknya. Untuk perasaan aman bagi anak-anaknya, meskipun harus hangus terbakar ia rela memberikan nyawanya.(Creative excitement, May 8, 2008)

  2. Cantik (atau standard cantik) memang adlh social construct. Tapi namanya manusia (yang saya setuju adalah keluarga hewan) ada interaksi nature vs nurture. Saya pernah baca, bayi yg baru lahir cenderung lebih suka/tertarik muka orang yang simetris (daripada kanan dan kiri beda, misal mata kanan 2x ukuran mata kiri). Leonardo Da Vinci klo gak salah salah satu yg mempopulerkan asosiasi kecantikan dg the golden ratio. Tapi standar kecantikan memang sebagian besar ditentukan tuntutan masyarakat saat itu, di Victorian era, orang lebih suka yang rada gendut (super curvy, plus size) krn lambang subur & makmur. Secara umum, setiap budaya lebih suka wanitanya lebih putih dari prianya. Di Jepang dulu suka ce sepucat mungkin dan alis dicukur (bagi saya malah serem). Sekarang hampir ‘unanimous’ standar kecantikan ngikutin versi Barat karena dominasi budaya dan informasi. Tapi sekarang ada sedikit aliran dari indah itu slim gaya super model ke bentuk curvy, sebagai yg lebih menarik. Dulu cewek2 kita suka cowok yang putih, ‘indah’, rada jangkung dan gak terlalu macho. Sekarang banyak suka co macho/kekar, ‘berbulu’ (terutama cambang) dan rada tanned. Namanya social construct tentu berkembang sesuai perkembangan jaman saat itu. Tapi memang itu semua hanya permukaan, tapi bagi saya kata ‘tipuan’ tidak cocok, lebih pantes disebut ‘hint’. Ujung2nya (sudut pandang biologi), kita cari pasangan kan utk bikin keturunan, tentu pengen keturunan yang bagus-bagus dong (relatif terhadap standar bagus saat itu). Tidak percaya? Ada pria menuntut istri (dan menang milyaran rupiah) karena anaknya jelek gak seperti kedua orang tuanya, ternyata kecantikan si ibu berkat operasi plastik…utk yang satu ini, saya setuju dinamai ‘tipuan’. http://myfox8.com/2012/10/26/chinese-man-sues-wife-for-being-ugly-wins-lawsuit/




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: