Suffering

Sebuah tweet Ioanes Rakhmat (seorang mantan pendeta) berhasil mengusik saya: “Kalau Allah betulan datang ke sy, jelas sy akan ajak dia debat seminggu suntuk mengapa ada penderitaan dlm dunia ini padahal dia mahakuasa!”

Apa reaksi saya dengan pernyataan mengusik seperti ini?

Pada awalnya saya ingin bereaksi dengan pelesetan humor, Allah akan menjawab “Kok nyalahin Saya? Kamu kan penyebabnya,….. Iblis?”

Tapi saya pikir topik ini menarik untuk dipikirkan lebih serius. Terlebih saya pernah bertemu beliau semasa beliau masih pendeta sekitar akhir tahun 1990an. Jadi tetap ada perasaan hormat, meskipun saat ini beliau telah menjadi sosok kontroversial dan tidak lagi menjadi pendeta karena pikiran-pikiran kontroversial beliau.

Pertama, apa yang dimaksud dengan penderitaan dalam dunia ini? Apakah dunia menderita? Apakah tanah, batu, laut menderita? Apakah bulan bintang menderita? Apakah pohon dan hewan menderita?

Hmm saya mengasumsikan bahwa maksud beliau adalah penderitaan manusia

Jadi isu yang sebenarnya adalah penderitaan manusia. Menderita itu apa? Mengapa manusia bisa menderita?

Perenungan saya sederhana.

Derita yang paling jelas adalah perasaan kesakitan fisik. Misalnya kaki saya tertusuk paku. Beling. Atau ditabrak motor. Saya kesakitan. Kalau kesakitan saya tidak segera hilang, maka saya menderita.

Apakah kita mau minta Tuhan menghilangkan sakit fisik itu? Kalau kita tertusuk paku, tidak merasa apa-apa? Kalau ditabrak motor, kita malah enak seperti dipijat?

Jelas tidak. Tanpa rasa sakit itu, maka kita bisa celaka. Kita tidak tahu bahwa tubuh kita sedang dimasuki racun, kuman, atau penyakit.

Jadi, saya bilang, rasa sakit itu adalah penolong kita untuk selamat dari kerusakan fisik.

Maka kita pindah sekarang ke bentuk penderitaan lain: sakit biologis. Macam demam, typhus, kanker, AIDS.

OK ini problematik. Tapi ini resiko kita memiliki tubuh biologis bukan? Sakit yang kita rasa adalah reaksi tubuh yang mengatakan bahwa tubuh harus berubah. Seperti kalau anak saya di imunisasi. Maka tubuhnya menjadi demam. Demam itu sebenarnya reaksi tubuh untuk menjadi kuat dan sembuh. Jadi sakit biologis itu menandakan bahwa tubuh kita sedang berubah. Untuk menjadi lebih baik.

Tidak jarang kita kalah oleh penyakit. Kita menderita dan mati. Tapi itu harus dilihat dalam perspektif kemajuan seluruh manusia. Kematian kita itu memicu usaha semua untuk terus mencari penangkal penyakit tersebut, sehinga suatu saat anak cucu kita lebih tahan terhadap penyakit itu.

Hari ini manusia sudah berhasil mengatasi begitu banyak penyakit yang dahulu fatal. Itu semua karena rasa sakit. Derita. Yang memaksa para akhli untuk menemukan obat penyembuh.

Jadi penderitaan macam mana yang hendak dihilangkan bapak Ioanes Rakhmat?

Saya sekarang menduga beliau ingin menghilangkan penderitaan imajinatif. Penderitaan psikologis. Penderitaan yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita.

Misalnya, uang saya hilang, maka saya menderita. Kekasih saya pergi, saya menderita. Cita-cita saya gagal, saya menderita. Hak politik saya dirampas, saya menderita. Badan saya tidak langsing seperti artis, saya menderita. Tanah saya dirampas, saya menderita. Status sosial saya menurun, saya menderita.

Dan banyak lagi.

Ini semua penderitaan imajinatif, yang hanya diakibatkan oleh persepsi kita, tapi berdampak sama dengan penderitaan fisik dan biologis.

Nah kalau yang ini saya setuju dengan beliau. Kita harus bisa menghilangkan rasa sakit imajinatif ini. Kita harus bisa melepaskan diri, cara pandang kita, pikiran kita, karakter kita, perilaku kita, supaya bebas dari rasa sakit imajinatif. Penderitaan imajinatif.

Tapi saya memiliki pendapat yang terbalik dengan pendapat beliau soal peran Allah. Justru Allah datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari penderitaan imajinatif. Kita dibebaskan dari persepsi yang memicu penderitaan psikologis.

Saya membahasakan: kita lahir baru. Persepsi kita berubah, bukan menjadi makhluk sosial saja, tetapi terutama menjadi makhluk spiritual. Dengan kemampuan melihat kehidupan dengan cara Allah melihatnya: penuh peluang damai sejahtera. Bertindak seperti Allah bertindak: penuh kasih sayang.

Jadi saya melihat keselamatan dari Allah yang diperoleh secara lahir baru adalah keselamatan dari cengkeraman perspektif sosial-psikologis, yang membelenggu kita turun-temurun, yang membuat kita sangat rentan terhadap penderitaan imajinatif.

Jadi Allah justru menyapa manusia agar manusia bebas dari penderitaan, dan hidup dalam kehidupan yang penuh damai sejahtera. Yang buta bisa melihat (peluang damai sejahtera menurut perspektif Allah), dan yang lumpuh (tidak bertindak) bisa berjalan (penuh inisiatif mengubah keadaan).

Terbalik 180 derajat (bukan 360 derajat hehe) dibanding perspektif bapak Ioanes Rakhmat.

Anyway, Selamat Natal bagi kita yang merayakannya, dan salam sejahtera untuk semua. God bless you all


  1. Selamat natal pak…saya setuju dgn pendapat Bapak. Yesus datang untuk membawa kita kembali kepada Allah.. Bukan karena ketidakmahakuasaanya Tuhan membiarkan kita menderita, tapi ada Tuhan bukan memperlakukan kita seperti robot..kita diberikan kehendak bebas untuk memilih.
    Tuhan memberkati🙂

  2. Mantan Pendeta?
    Ada 100 domba yg justru berada di tengah tanah yang tandus (kekeringan, kesukaran hidup, penderitaan … intinya sangat tidak menyenangkan) justru memang sengaja DIA tempatkan di situ, bukan tanpa maksud.
    Jadi, ketika seekor domba itu akhirnya pergi, meninggalkan (penggembalaan) … artinya dia memang tidak mau menderita. Tidak tahan terhadap kesukaran hidup. Maunya berada di rumput yg hijau, air yg jernih … Padahal, bukan itu janji Tuhan.
    Padahal org yg mau menderita, itu adalah orang2 yg memang di pilih untuk suatu rencana ALLAH yang besar …
    Untuk 1 ekorlah DIA datang mencari, bukan yg 99 ekor. Untuk belajar menderita, hidup di tanah yang tandus, dan gersang, penuh dengan segala persoalan hidup yg membuatnya menderita.

    “Selamat Natal dan Tahun Baru, untuk seluruh keluarga Bapak … GBU”

  3. mantap jaya pak tulisannya…

  4. anggoro

    Yang jelas,apapun alasan2 itu Allah pasti benar, menjauhi-Nya tidak akan mengurangi kesempurnaan-NYA, justru kerugian bagi kita. Marilah kita selalu bercermin

  5. Saya masih heran dengan orang yang sudah lama membaktikan dirinya untuk melayani Tuhan tetapi masih belum memahami Alkitab dengan benar (dalam pengertian2 mendasarnya seperti kemuliaan Tuhan, dsb).

  6. Mencerahkan,pak🙂 orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: