Keputusan Berbasis Perasaan

Anda harus menjaga perasaan anda, karena nyaris semua keputusan kita diambil oleh perasaan.

Saya perhatikan sebenarnya orang lebih menggunakan perasaan ketimbang akal sehat saat mengambil keputusan. Meskipun kita merasa sudah rasional, biasanya rasio itu datang belakangan. Perasaan kita sudah memutuskan, barulah akal sehat kita mencari rasionalisasi.

Perasaan itu seperti kaca pembesar, fokus. Yang membuat kita mementingkan fakta tertentu dan menolak fakta yang lain.

Misalnya kita sudah tidak senang pada seseorang, maka kita cenderung akan menghindarinya atau menolak bertemu atau mendengar pendapatnya. Akibatnya pendapat yang baik dari padanya, yang membuat keputusan kita semakin berkualitas, tidak akan tiba pada kita.

Atau kita sudah tidak senang pada suatu tempat, maka kita akan menghindari pergi ke situ. Karena saya tidak senang dengan Afrika, misalnya, maka saya malas untuk pergi studi lanjut, jalan-jalan, atau berbisnis ke situ.

Mengapa hal ini –bahwa perasaan sudah menentukan lebih dahulu– bisa terjadi? Itu sebenarnya bagian dari diri kita, yang melihat pola, melihat pattern dengan cepat, dan membantu kita mengambil keputusan kilat. Dan ini berguna saat kita masih kecil, saat informasi kita tidak cukup, saat kita belum tahu apa-apa. Perasaan kita itu yang menyelamatkan kita.

Akan tetapi, kita sekarang sudah dewasa. Kita sudah terdidik. Kita sudah dibebaskan dari kebodohan. Maka kita tidak boleh mendasarkan keputusan kita pada perasaan yang tidak kita sadari.

Tapi bagimana dong? Sukar sekali kita melepasakan diri dari kekuasaan perasaan itu.

Maka jalan keluarnya adalah justru mengendalikan perasaan. Kita harus belajar aware, sadar, akan perasaan kita setiap saat. Terutama saat mengambil keputusan. Kita persoalkan perasaan kita. Bahkan kita harus belajar membangkitkan perasaan positif. Perasaan senang. Perasaan optimis. Barulah kita siap mengambil keputusan.

Saya sendiri banyak belajar soal hal ini. Saat perasaan saya negatif, maka dunia terasa berat. Peluang terasa hilang. Saya jadi penakut dan tidak berani mengambil resiko. Merana. Akibatnya keputusan saya adalah defensif, mencari aman, senang kalau tidak celaka.

Sebaliknya saat saya merasa gembira, maka saya menjadi optimis. Berbagai ide baru muncul. Exciting. Berbagai peluang seakan datang. Dan akibatnya keputusan saya menjadi lebih tegas, berani, dan tidak takut celaka.

Jadi jangan memandang sepele perasaan. Sebaliknya kita belajar membangkitkan perasan positif. Dan itu akan membuat keputusan kita lebih berkualitas.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: