Tampak Muda

“Wah tampak muda aja nih?”, cetus rekan saya saat bertemu Kamis kemarin  di Jakarta. Meskipun senang, saya tahu something is wrong kalau dunia ini meng-agung-kan kemudaan.

Banyak orang ingin tetap muda. Jadi tua itu tidak disukai. Maka bermacam cara digunakan. Mulai dari makanan, obat-obatan, operasi, olahraga, sampai yang mistik-mistik. Semua bersusah payah untuk tetap muda. Setidaknya memperlambat ketuaan.

Ini kan repot sekali. Dan sia-sia. Karena semua bakal menjadi tua. Itu sudah dari sono nya. Sudah by design. Sudah hakekat alam.

Sejak big bang, dunia ini meluas. Entropy membesar. Waktu bertambah. Bertambah usia. Menjadi tua itu sebenarnya suatu kemajuan. Suatu progres.

Keliru dunia ini memuja kemudaan. Karena ia memuja sesuatu yang tidak ada seorangpun secara alamiah bisa mencapainya. Tidak ada nilainya. Tidak ada justifikasinya.

Logikanya, kalau makin muda makin asik, ya jadi bayi aja deh. Mau? Nggak kan? Kalau kita tetap bayi, dokter bilang pertumbuhan kita tidak normal, tidak sehat. Entah kurang hormon, atgau kelainan genetika. Pokoknya, kemudaan adalah penyakit.

Kemudian tahukah anda bahwa test kecerdasan semacam IQ itu sebenarnya berbasis usia? Seseorang dengan kemampuan tertentu bisa dianggap jenius atau idiot, bergantung usia. Misalnya ada orang setelah ditest matematika ternyata baru bisa maksimal menghitung 5 + 5 = 10. Kalau dia bayi 1 tahun, dia jenius. Kalau dia usia SMA, dia idiot.

Artinya sesuatu kemampuan atau fitur bisa dianggap kelemahan kalau usia bertambah tapi fitur itu tetap alias tidak berkembang.

Jadi kalau usia bertambah tapi kita ingin seperti masih muda, tentu something is wrong here. Cuma orang tertentu yang mampu begitu. Dengan penderitaan besar. Dengan biaya mahal. Dan itupun cuma sementara. Akhirnya pasti gagal, dan menjadi tua.

Di mana salahnya?

Dunia yang memuja kemudaan adalah dunia fisik. Dunia yang menganggap kehidupan itu biologis. Dunia hewani. Karena di dunia hewani ini, menjadi tua dan mati itu suatu kerugian besar.

Tapi kita manusia bukan hewan. Kita spiritual bukan fisikal. Kita mindful bukan instinctful. Justru usia yang bertambah itu adalah kesempatan untuk tumbuh secara spiritual. Secara rohani. Secara batiniah.

Jadi kita perlu masuk ke dalam dunia manusia yang sebenarnya, dunia rohani.

Di dalam dunia yang baru ini, menjadi dewasa dan tua adalah keunggulan. Cita-cita. Rambut putih adalah lambang keindahan. Dan kematian dalam kepuasan, keindahan, kedamaian, dan keikhlasan adalah kemenangan keagungan yang di dambakan dengan penuh harap.

Orang yang unggul dan berkembang di dunia spiritual, dunia mindful, bakal unggul dan mampu menavigasi dunia fisik secara jauh lebih baik. Singa boleh mengklaim sebagai raja hutan. Tapi manusia punya kebun binatang yang ada singa di dalamnya. Sebaliknya Singa tidak. Yang terancam punah itu singa, bukan manusia.

Bahkan orang spiritual itu bisa kaya raya harta. Karena secara akal, mindful, dia bisa melihat caranya. Cuma dia tidak mau aja. Tidak berselera seserakah seperti orang dunia fisik materi.

Dan ajaib.  Orang yang dewasa secara spiritual akan mengesankan kemudaan dalam sosok wajahnya. Tanpa operasi. Tanpa susah payah. Tanpa keluar uang.

Yang paling menyenangkan di dunia yang baru ini, semua orang by default bisa mencapainya. Dengan berjalannya waktu kita semakin dewasa. Asalkan kita mau memasukinya dan tumbuh di dalamnya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: