Mati Dulu Baru Bisa Hidup

Orang rupanya perlu mati dulu baru benar-benar bisa merasakan hidup.
Ini true story.

Ada seorang bapak, pengusaha sukses, sehingga ia sering berkeliling naik pesawat Amerika untuk membangun usahanya.

Sampai suatu hari di atas pesawat, ia merasakan ada yang tidak beres. Pilot mengumumkan ada kerusakan mesin, dan pesawat sedang mencoba mendarat darurat.

Keadaan benar-benar hening saat pesawat berbadan lebar terjun seperti layangan tanpa bunyi mesin. Mata pramugari memancarkan rasa takut yang amat sangat. Dan ia tahu hari ini ia akan mati. Ajal datang menjemput.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Pilot berhasil mendaratkan pesawat di sungai dengan sudut yang pas sekali, sehingga pesawat tidak hancur terhempas. Dan semua selamat.

Keluar dari pesawat, ia merasa bangkit dari kematian. Seperti mendapatkan kehidupan yang kedua.

Ia mengingat momen detik-detik ia akan mati. Waktu beberapa detik sebelum pesawat menghempas bumi, ia merasa bahwa mati itu ternyata it is not so bad. Tidak mengerikan.

Cuma ada tiga hal yang paling menyesakkan dirinya saat itu. Yang paling ia sesali saat ajal akan menjemput.

Pertama bahwa ia tidak bisa lagi melihat istri dan anak-anaknya. Melihat istrinya menjadi lanjut usia bersama. Melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.

Kedua bahwa ia telah mengijinkan perasaan negatif, ego, pengen menang sendiri, mempengaruhinya, merusak hubungannya dengan orang lain.

Ketiga bahwa ia telah menunda-nunda hal-hal yang benar-benar penting ia ingin lakukan. Terlalu sibuk berbisnis. Saat-saat detik-detik pesawat hendak terhempas, ia menyadari semua kesuksesannya itu tidak ada maknanya.

Sejak itu ia berubah. Hidupnya sangat mengutamakan keluarga. Tidak pernah lagi ia bertengkar dengan istrinya. Tidak pernah dia miss acara anak-anak nya di sekolah.

Ia membuang jauh-jauh semua sikap egoisnya. Dia bilang: dia memilih being happy ketimbang being right.

Dan ia tidak pernah lagi menunda hal-hal yang terpenting dalam hidupnya. Apa saja yang datang ia nikmati. Siapa saja yang datang ia layani.

Rupanya orang perlu mati dulu baru tahu bagaimana ia harus hidup. Orang harus kehilangan segala-galanya baru menyadari kekayaan yang terpenting.

Jadi kalau anda sekarang sedang sedih, kecewa, merasa kehilangan, anda bersyukur. Bahwa itu semua sebenarnya tidak ada artinya ketimbang hal-hal terpenting dalam hidup.

Dan bersyukur bahwa kita tidak harus menunggu terhempas di sungai untuk jadi pintar.

(Teriring doa dan belasungkawa untuk mengenang korban pesawat Merpati yang jatuh di Kaimana bulan lalu. see more: CNN)


  1. Reblogged this on Kurdianto' s Blog and commented:
    Add your thoughts here… (optional)




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: