Presiden dan SMS Gelap

Kita tahu konyolnya politik negara ini saat kita melihat Presiden dengan keras melakukan konferensi pers soal SMS gelap.

Saya kira Presiden punya hak untuk geram, marah, bahkan emosi. Karena citra nya diserang. Pribadinya diserang. Ia tidak ingin citranya rusak di mata masyarakat. Maka meskipun beliau presiden, beliau took the offence personally. Saya tidak punya masalah soal ini. Saya juga bakal begitu. Kalau pribadi saya diserang, saya ingin punya hak untuk berdiri membela diri.

Cuma dalam hati kecil saya, seharusnya sikap yang sama ditunjukkan saat ada perlakuan tidak adil di negeri ini. Saat rakyat kecil tidak mendapatkan hak-hak nya. Saat teror melanda tempat ibadah dan kaum yang tidak berdaya. Saat hukum dilecehkan. Saat kedaulatan rakyat dimainkan seperti sirkus dan lawakan. Saat kekuasaan disalahgunakan.

Seharusnya Presiden berdiri dengan kegeraman yang minimal sama.

Negara ini penuh dengan masalah. Dan setiap hari seribu satu macam masalah akan timbul. Jadi Presiden harus memilih, prioritas mana yang akan ia tekuni. Pada hal-hal mana emosi nya ia letakkan.

Hal-hal kecil tidak usah diurus, serahkan pada rakyat. Hal-hal penting serahkan pada menteri dan jajarannya. Hal-hal yang maha penting barulah diurus Presiden.

Apa itu hal-hal maha penting? Hak asasi manusia. Dasar-dasar bernegara. Sistem berpolitik yang efektif. Penegakan hukum. Pemberantasan korupsi. Pendidikan manusia Indonesia. Sustainabilitas lingkungan hidup. Pemberantasan kemelaratan. Kegairahan ekonomi rakyat. Kedaulatan RI. Intinya: bangun Indonesian Dreams.

Orang boleh mengkritik Presiden untuk hal-hal di luar itu. Nggak usah didengerin.

Toh ada aparat negara, ada tokoh masayarakat. Ada pengusaha. Ada intelektual. Ada tokoh agama. Ada masyarakat luas. Mereka dong yang harus memecahkan masalah sisanya.

Presiden cukup mengurusi hal-hal yang maha penting itu. Dan hal-hal maha penting itu harus diperjuangkan dengan usaha yang dahsyat. Tidak akan datang sendiri tanpa perjuangan. Harus Presiden sendiri yang turun tangan memimpin usaha ini. Orang lain nggak akan bisa.

Satu hal lagi. Mengapa poltik Indonesia jadi seperti berdagang? Mengapa semua dijadikan bisnis? Mengapa politisi ingin menjadi kaya, dan selalu bisa dibeli?

Bukankah sudah ada dunia usaha. Jadi kalau cita-cita kita ingin punya banyak uang, bukankah ada cara yang halal dan legal: jadi entrepreneur dan berdagang seperti pedagang lainnya?

Jadi saya kira sudah jelas. Kalau Presiden tidak melakukan sesuatu tentang hal ini sekarang juga, maka sejarah akan mencatat bahwa di tangan pemerintahan SBY dua periode, politik Indonesia berubah menjadi politik dagang dan uang. Politikus menjadi poli tikus: banyak tikus yang serakah melahap semua yang bisa dimakan.

Indonesia menjadi seperti rumah kontrakan. Setelah dua periode dikontrak rezim sekarang, rumah dipenuhi tikus-tikus berkeliaran. Karena penyewanya tidak peduli dengan tikus yang berkeliaran di rumahnya.

Saya mendukung hak presiden untuk geram soal SMS. Kita harus beri beliau kesempatan untuk mengungkapkan kemarahannya.

Setelah itu maka kita berharap kemarahannya itu ia tumpahkan pada tikus-tikus yang berkeliaran di rumah Indonesia ini. Dari istana, sampai ke kantor desa. Sudah jelas yang mengirimnya adalah satu dari tikus-tikus besar.  Tunggu apa lagi pak. Kalau pak Presiden betulan marah, sekarang waktunya untuk menghunus pedang dan menghajar semua tikus-tikus itu tanpa pandang bulu. Kalau tangan capek, baca lagi SMS itu sampai emosi meluap, dan tebas lagi pedangnya.

Supaya setelah masa kontrak dua periode selesai, rumah ini sudah bersih.


  1. budi

    Terima kasih untuk tulisannya, sangat mengena Pak. Semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi, dan semoga hal ini
    “Indonesia menjadi seperti rumah kontrakan. Setelah dua periode dikontrak rezim sekarang, rumah dipenuhi tikus-tikus berkeliaran. Karena penyewanya tidak peduli dengan tikus yang berkeliaran di rumahnya.” tidak terjadi.

  1. 1 Presiden dan SMS Gelap (via Armein Z. R. Langi in the City of Eden) « SunuVis

    […] Kita tahu konyolnya politik negara ini saat kita melihat Presiden dengan keras melakukan konferensi pers soal SMS gelap. Saya kira Presiden punya hak untuk geram, marah, bahkan emosi. Karena citra nya diserang. Pribadinya diserang. Ia tidak ingin citranya rusak di mata masyarakat. Maka meskipun beliau presiden, beliau took the offence personally. Saya tidak punya masalah soal ini. Saya juga bakal begitu. Kalau pribadi saya diserang, saya ingin pu … Read More […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: