Carry Coklat

Jaman sekarang semua rumah tangga harus punya motor atau mobil. Itu tanda keluarga ini sudah maju. Jadi kemajuan perjuangan rumah tangga juga ditandai dengan punyanya alat transportasi.

Setiap rumah tangga selalu ingin maju. Nasib lebih baik dari sebelumnya. Untuk masyarakat Indonesia, kemajuan diukur dari alat transportasinya. Orang berusaha untuk punya alat transportasi. Mulai dengan sepeda motor. Nyicil kalau perlu. Kemudian ia dipandang makmur bila sudah punya mobil.

Saya masih ingat senangnya kami saat Ayah bisa beli motor. Itu di Sukabumi pertengahan tahun 70an. Vespa Sprint 150cc warna hijau. Kami bisa diantar ke mana-mana.

Dan ayah ternyata sangat penyayang barang. Rajin memelihara. Setiap hari Vespa hijau dicuci. Digosok dengan kit pengkilap cat. Dipasangkan berbagai asesoris. Pokoknya benda paling berharga di rumah. Dan itu menjadi lambang keluarga kami sudah menjadi kelas menengah.

Meskipun baru menengah bawah.

Karena untuk kelas menengah betulan, kita perlu punya mobil. Hanya pasti tidak terbayangkan juga. Karena mahal. Bisa 10 sampai 20 kali gaji PNS. Harus maksa banget baru keluarga seperti kita bisa membeli mobil.

Dan pemaksaan itu suatu hari terjadi.

Saat ibu menyeberang jalan, pulang mengajar bahasa Inggris di SMPP Cisaat Sukabumi, ia ditabrak sepeda motor. Kepalanya terantuk aspal. Dan ibu terpaksa harus mendekam di rumah sakit berhari-hari.

Maka ayah memutuskan untuk beli mobil. Saya tidak paham uang dari mana saja, tapi setahu saya ia pinjam dari kantor, minta gaji berbulan ke depan, jual harta sana sini, dan kuras habis tabungan.

Kami melihat brosur sana-sini sambil maklum pasti tidak mungkin menjangkau semua ini, kecuali yang termurah. Akhirnya di tahun 1978, kami bisa beli mobil. Suzuki Carry ST20. Minibus berwarna coklat. Mesin bandel, tiga silinder. 550cc. Kecil tapi bisa muat sampai 9 orang, berdesakan tentunya.

Jadi ibu sudah tidak usah lagi menyebrang sana menyeberang sini. Setiap hari di antar dan dijemput dengan Carry coklat. Saya jadi sopirnya. Padahal masih SMA kelas 1. Harus nembak usia KTP sampai dua tahun supaya bisa dapat SIM A.

Segera Carry coklat menjadi kesayangan semua, terutama ayah. Ayah juga baru belajar nyetir, sehingga mobil sering lecet sana lecet sini. Dan selalu ia bawa ke bengkel body untuk di cat ulang. Lecet sedikit saja, pasti ia bawa ke bengkel. Orang bengkel sampai hafal, dan menyiapkan khusus stok cat warna coklat. Tiap hari ritual saya adalah mencuci mobil. Memastikan ia mengkilap. Itu mobil kesayangan ayah. Lambang perjuangannya menyenangkan keluarga. Lambang keberhasilan seorang kepala keluarga.

Saking sayangnya, saya suka berpikir, jangan-jangan ia lebih sayang Carry coklat ini ketimbang saya.

Soalnya suatu hari saya pernah bawa Janti adik saya pergi ke Sukabumi selatan, untuk acara camping pemuda. Hari sudah malam tapi saya ngebut. Nyusul sana nyusul sini. Mendadak saya melihat gundukan pasir di tengah jalan. Rupanya ada penduduk membangun rumah, dan mereka menurunkan pasir bangunan di situ. Saya berusaha merem mendadak, tapi tidak berhasil. Maka Carry coklat ini terbang melayang dan terguling. Saya masih sadar saat keluar melalui kaca depan yang pecah. Tapi kaget sekali melihat Janti lunglai dan darah menetes dari kepalanya.

Tanpa berpikir panjang saya tinggalkan mobil itu dan dengan pertolongan orang di sekitar, kami membawa Janti kembali ke kota, ke UGD RSU Bunut Sukabumi. Setelah di periksa di UGD ternyata Janti tidak apa-apa. Darah di kepalanya itu ternyata darah saya, yang menetes dari lengan saya yang robek 10 senti. Herannya saya tidak rasa apa-apa. Setelah lengan saya dijahit, dan dibungkus perban, kami pulang ke rumah untuk lapor.

Dan ayah marah besar. Setelah membentak saya karena nyaris mencelakakan Janti, saya disuruh pergi untuk mengurus mobilnya, yang saya tinggal di Sukabumi selatan. Saya bingung, karena itu sudah tengah malam, dan saya masih SMA kelas dua. Jadi saya tidak mengerti harus apa. Dan saya menduga-duga negatif, jangan-jangan marahnya itu lebih gara-gara Carry coklat kesayangannya hancur.

Dengan di antar ibu, saya pergi ke rumah kakak ibu, seorang pejabat di Sukabumi, dan ia menyuruh ajudannya menolong saya. Wah mobilnya beneran parah. Mobil diderek dan di simpan di kantor polisi. Besoknya ayah ambil mobilnya dan membawanya ke bengkel. Saudara kami itu mendesak agar kita menjual mobil itu, buang sial katanya. Tapi ayah terlalu sayang sama Carry coklat. Dan setelah beberapa minggu di bengkel, mobil keluar mulus lagi. Dan saya kembali bertanggungjawab mengantar jemput seluruh keluarga. Tapi kali ini dengan lebih hati-hati dan tidak seenaknya.

Tahun 1982, ayah dan ibu kembali mudik ke Tomohon. Carry coklat ikut mudik. Dibawa khusus dengan kapal laut. Dan Carry coklat segera keliling Tomohon. Cukup terkenal karena berbulan-bulan ia ber plat nomer F, Sukabumi. Menyolok di tengah plat nomer DB. Kemana ayah peergi, Carry coklat ada di situ. Saya agak yakin, saat nanti dipanggil Tuhan, ayah akan berusaha membawa juga Carry coklat ini.

Saya tidak ikut ke Tomohon karena sejak 1981 saya kuliah di Bandung. Jauh dari orang tua, sibuk sana sibuk sini, lupa makan, dan seperti biasanya mahasiswa, saya kemudian jatuh sakit. Penyakit khas mahasiswa: tipus. Maka saya terkapar RS Borromeus, yang kemudian dilanjutkan di tempat kos Yusak, adik saya. Segera ibu saya tiba dari Tomohon. Dan menyusul Ayah. Mereka merawat dan menemani saya sampai benar-benar sembuh. Baru mereka kembali ke Tomohon. Dan saya kembali sibuk.

Belakangan saya sadar. Mereka itu pasti tidak punya uang untuk datang ke Bandung, dan biaya saya di rumah sakit cukup besar. Saya baru tahu belakangan. Rupanya ayah pinjam uang dengan menggadaikan Carry coklat dan kemudian terpaksa menjualnya. Tapi dia tidak pernah bilang apa-apa. Dia menjual mobil kesayangannya itu untuk bisa menjaga saya di Bandung. Saya tidak tahu mau bilang apa. Cuma saya jadi tahu sekarang, saya masih lebih penting dari Carry coklat.

Memang beda orang beda cara. Saya tidak terlalu sayang barang. Mobil tidak terlalu sering dicuci. Saya tidak terlalu memberikan waktu untuk barang-barang begini. Jadi meskipun saya cukup sayang barang, tapi tetap tidak seperti ayah.

Kesenangan saya itu ngobrol dengan Ina, antar jemput anak-anak, lihat mereka kalau sudah tidur atau belum. Saya senang di kampus, bertemu rekan kerja dan mahasiswa. Saya suka main musik dengan Bandos. Saya juga masih mengurus program jemaat di gereja saya, meskipun tidak seaktif dulu. Jadi saya tidak begitu senang pergi dari Bandung. Meninggalkan Bandung buat saya itu effort besar.

Tahun 2010 lalu adalah tahun yang amat berat buat ayah. Usianya masuk 81 tahun lalu, dan kesehatannya mulai ambruk. Berkali-kali saya terbang ke Manado dan ternyata perlu menghabiskan waktu di ICU, menjaga ayah yang kritis. Dan untuk pulih, ia perlu waktu berbulan-bulan.

Untuk bisa lebih mudah sembuh, Maret kemarin ayah pindah ke Lalumpe, desa kecil 100 KM di pedalaman selatan Manado, desa kelahirannya. Udara lebih sehat. Suasana lebih tenang. Irama lebih lambat. Di desa itu ayah menjadi lebih tahan. Lebih tenang. Lebih kuat. Cuma ya itu, dia kehilangan kami anak-cucu yang tinggal jauh dari Lalumpe. Sekali-sekali dengan suara menangis ia bilang ibu, minta pergi ke Bandung untuk lihat kami.

Jadi Maret kemarin saya berusaha cari waktu datang ke Lalumpe. Saya pesan mas Erwin, asisten saya untuk mengisi kuliah saya Senin dan Rabu. Saya SMS Pak Yoppie, minta ijin bolos latihan Bandos. Senin subuh saya bangun jam 3 pagi dan diantar Ina ke BTC. Naik travel Cipaganti saya ke Bandara Cengkareng. Terbang ke Semarang, lalu naik travel (namanya juga Cipaganti) sampai ke Magelang. Di Magelang saya harus menyampaikan hasil pelaksaan program untuk urusan gereja kami, rapat sampai tengah malam. Saya minta ijin tidak bisa ikut hari ke dua, karena Selasa pagi-pagi saya sudah ke terminal travel Kebon Polo Magelang, untuk diantar travel ke Semarang.  Lama juga untuk tiba ke Bandara Semarang, karena travelnya mutar-mutar Semarang menurunkan penumpang satu-persatu. Dari Semarang saya terbang ke Cengkareng, dan sambung pesawat ke Manado. Di jemput Yusak, adik saya, hampir jam 11 malam. Nginap dulu di rumah Yusak, dan besoknya kami berangkat ke Lalumpe.  Rabu siang jam 2, saya akhirnya bisa bertemu ayah di Lalumpe.

Wah, ayah dan ibu senang sekali. Kami ngobrol bermacam-macam. Sebenarnya kondisi fisiknya sudah jauh menurun. Semakin kurus. Tetapi semangat berbicara tumbuh lagi. Sehingga ekspresi lama yang bersemangat muncul kembali di wajahnya. Orang tidak akan tahu bahwa kondisi tubuhnya sebenarnya merosot. Ayah harus bisa menemukan kesetimbangan baru sehingga hari-harinya bisa berisi penuh dengan kegembiraan. Karena kesehatan itu dimaksudkan untuk memelihara dan mewadahi kegembiraan, dan kegembiraan itu jelas memelihara kesehatan.

Saya berada di Lalumpe, Tomohon, dan kemudian Manado sana sampai Sabtu. Sabtu malam sudah tiba di Bandara Jakarta. Karena travel Cipaganti dan Xtrans penuh, saya naik Bus Primajasa. Tiba jam lewat 10 malam di BSM Gatot Subroto. Saya naik taksi Blue Bird, dan tiba di rumah hampir jam 11 malam. Sudah sepi. Ina juga pasti lelah sekali, tidak ada saya seminggu, dan juga sedang tidak ada pembantu. Anak-anak sudah terlelap, dan saya jenguk satu-persatu. Membelai kening mereka dan merapikan selimut supaya mereka tidak kedinginan. Senang karena besok bisa lihat dan antar mereka lagi ke sekolah.

Berat memang meninggalkan Bandung. It was a long journey. Tapi tidak masalah. Ayah dan ibu kan senang ditemani. Dan Ayah sudah membayar di muka dulu dengan menjual Carry coklat kesayangannya.

Saya cuma bisa nyicil ulang…


  1. lagi-lagi postingan bapak membuat saya terharu🙂
    senang sekali baca postingan2 bapak, penulisannya lugas, tapi ekspresif dan penuh emosi!🙂

  2. Sharing yang bagus sekali Pak, terharu saya membacanya. Terima kasih sudah berbagi.

  3. awalnya saya uda males baca pak karna panjang, tapi kok makin ke bawah makin bagus ya. saya sampai menitikkan air mata lho. mengharukan!🙂

    salam utk kedua orangtua bapak ya.

  4. zuid

    T_T

    Terharu ….. inspiratif …….

  5. sungguh mulia hatinya…
    sangat terharu…

    Baju Bali Murah

  1. 1 Membaca Blog Orang Lain « Zaki Akhmad

    […] Pak Armein ini. Satu tulisan yang saya suka dan membuat saya terharu adalah tulisan tentang mobil Carry Coklat. Tentang sebuah mobil Carry berwarna coklat milik bapak Pak Armein yang dibeli setelah ibunya […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: