Pemimpin Yang Berani

Bukan kedudukan yang memberikan keberanian, tapi keberanian yang memberikan kedudukan (Maxwell).

“Kalau saya menjabat, saya akan melakukan ini dan itu…”, demikian janji orang. Dia baru berani kalau dia punya jabatan. Punya kedudukan.

Sebenarnya tidak begitu.

Kalau kita berani, barulah kita bisa dianugerahi kedudukan. Kalau kita tegas, maka kita dipromosikan mendapat jabatan.

Tidak ada yang lebih konyol dan mengerikan saat seorang penakut mendapatkan kekuasaan, kemudian dengan gagah berani menggunakan kekuasaan itu dengan berlindung di balik status jabatannya.

Dia membuat keputusan sambil bersembunyi di belakang layar, dan tidak berani mempertanggungjawabkannya di depan publik.

Ugly.

Bagaimana menjadi berani?  Yang harus dikalahkan adalah diri sendiri. Kemudian keberanian itu baik untuk memperjuangkan kebaikan bersama, bukan kepentingan diri sendiri. Keberanian untuk meluruskan apa yang salah.

Jadi jangan tunggu punya jabatan baru baru berani bertindak. Terbalik. Beranilah bertindak, barulah layak dikaruniai jabatan.


  1. nice blog

  2. kamal

    Agree… Keberanian dan kepemimpinan emang ga bisa pisah ya Pak.

  3. artikel yang hebat.. sosok pemimpin yang tepat berani dalam segala hal dan berani mempertanggungjawabkannya.. semoga sukses




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: