Penerimaan Mahasiswa ITB

ITB sudah memutuskan untuk menerima mahasiswa program sarjana hanya melalui SNMPTN. Bagi calon mahasiswa, SNMPTN ini konon terdiri dari dua jalur: 40% akan diterima melalui test masuk dan 60% diterima tanpa test. Apakah ini baik?

Saya kira ini baik untuk calon mahasiswa.

Calon mahasiswa yang berprestasi selama di SMA bisa masuk melalui jalur tanpa test. Semakin tinggi prestasinya, semakin besar peluangnya masuk ITB.

Calon mahasiswa yang kurang berprestasi semasa SMA masih bisa menjadi mahasiswa ITB melalui kompetisi test masuk. Jadi calon mahasiswa ini harus menyiapkan diri melalui bimbingan tes. Memastikan saat tes masuk, mereka lebih unggul.

Masalah mungkin terjadi bahwa bagaimana cara ITB menentukan prestasi? Bahwa prestasi satu lebih baik dari yang lain? Ini perlu terbuka agar terasa adil, dan tidak pilih kasih.

Juga bagaimana menghindari penipuan data dan informasi? Terkadang ada sekolah yang nakal membesar-besarkan prestasi anak didiknya. Sehingga informasi yang diperoleh tidak merupakan hasil yang nyata. Kalau ini terjadi maka ada calon mahasiswa yang lebih berkualitas kalah bersaing masuk ITB karena salah informasi.

Concern saya yang besar juga adalah bahwa jalur prestasi ini ternyata hanya membatasi calon mahasiswa dari sekolah tertentu. Sekolah yang berprestasi. Ini tidak adil bagi calon mahasiswa dari sekolah yang tidak masuk daftar sekolah berprestasi atau terakreditasi. Bukan rahasia bahwa jarang anak miskin bisa sekolah di sekolah favorit yang hebat-hebat itu. Jadi lulusan sekolah yang tidak terkenal tidak dimasukkan dalam pencarian bakat. Ini memang praktis, tapi keliru.

Sekarang, apakah ini baik dari segi ITB?

Ini soal lain.

ITB harus nya mencari calon mahasiswa yang cocok untuk suatu prodi. Persoalannya SNMPTN itu program nasional, yang melakukan ujian secara nasional, yang dibagi dalam kelas IPA dan IPS. Padahal ITB punya bidang enjiniring, misalnya, yang tidak sama dengan bidang sains. Enjiniring butuh otak inovatif, sains butuh otak pandai, misalnya.  Belum lagi perguruan tinggi itu juga bicara karakter. Sedangkan SNMPTN hanya mengukur kemampuan akademik.

Pada akhirnya, kuliah di ITB hanya masuk akal bila ITB bisa mewujudkan impian, cita-cita, dan aspirasi calon mahasiswa. ITB bisa menjawab harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik. Bisa langsung pada lulusannya atau tidak langsung melalui karya lulusannya.

Pendapat saya pribadi, kembali ke SNMPTN itu harus disambut baik.

Yang penting kita memastikan proses ini adil bagi calon mahasiswa, dan membuat ITB semakin dicintai bangsa ini karena bisa membawa bangsa ini mencapai cita-citanya sebagai bangsa yang modern.

 


  1. wow.. all the best untuk ITB🙂

  2. IPB sejak tahun 90-an sudah menerima mahasiswa yang mayoritas berasal dari PMDK bukan dari UMPTN atau SPMB. Jika suatu sekolah (SMA/SMU/SMK/Madrasah) memanipulasi prestasi siswanya, sebetulnya akan terbukti saat kuliah, akankah mereka sintas (survive) di IPB.

    Sekarang ITB, menerima mahasiswa/i dari sistem yang mirip, yaitu 60% tanpa tes. Hal ini menarik, perlu dibuktikan hasilnya 5-10 tahun mendatang, apakah sistem ini bekerja dengan baik.

    All the best buat ITB. Terutama Teknik Elektro!

  3. Nur Adhi

    U jalur masuk tanpa tes,menurut saya,kurang fair jk dibanding dgn lewat tes krn nilai2 semasa sma itu blm cukup menginterpretasikan siswa tsb. Akan lbh baik jk dr awal sdh introspeksi thp efektivitas jalur masuk untuk mendapatkan hasil yg bermutu.

  4. angga

    Saya kurang tahu dengan jurusan lain, tapi untuk Elektro Informatika jelas kudu bagus, kalau tidak pasti putus di tengah jalan, jadi menurut saya ini gak main2. Kalau ada SMU yang memanipulasi nilai dijamin “habis” selama menempuh pendidikan di ITB. SNMPTN menurut saya masih merupakan cara yang paling jitu untuk bisa mendapatkan mahasiswa yg bermutu meski saya tidak bilang 100% bagus tapi setidaknya lbh baik daripada PMDK, kecuali kalau PMDK benar2 dari sekolah2 terbaik

  5. sepakat, kalo data SMA dibuat-buat pasti habis di kuliah
    jangankan itu, yang pinter pun banyak y jadi stress krn mentalnya kalah di itb.. pengalaman kuliah sendiri ha ha ha

    almamaterku itu memang bikin stress krn terlalu tinggi standar penilaian dosennya, belum lagi tugas y bikin 24 jam bergadang hampir setiap hari

    dan ujian tengah semester di malam hari, kayaknya kalo bukan kelas karyawan ya cm di itb kali …
    ta yang dilempar keluar jendela karena kurang bagus, presentasi sidang harus diulang krn gambar y terlalu ramai..
    atau ‘sudah, ulang saja sidangnya, anda belum siap.. gemeteran gitu’ dan selluruh dosen penguji cabut dari situ

    it takes lots of courage, hardwork and mental tempa di fakultas sayah, sipil dan perencanaan di itb.. tauk yang lain gmana?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: