Teladan?

Soal teladan, kita sebenarnya agak konyol. Saat kita mengakui seseorang sebagai teladan, kita justru melakukan yang sebaliknya.

Coba kita renungkan. Siapa saja yang saat ini menjadi teladan kita? Yang kita junjung tinggi. Yang kita idolakan. Panutan kita.

OK, sudah ketemu?

Nah, apakah kita hari ini sudah menjadi seperti dia?

Most likely, not.

Karena bagi banyak orang, teladan itu lebih merupakan pengakuan. Bahwa orang itu hebat. Tapi bukan menjadi template untuk kita. Bukan menjadi bentuk sosok kita nantinya.  Rada mirip men-Tuhan-kan nya dalam bentuk tidak langsung. Artinya, mengakui kebesaran Tuhan, tapi tidak pernah bermimpi menjadi Tuhan. Kan gitu?

Malah kita lebih sering berperilaku berlawanan dengan teladan kita itu. Bertentangan dengan junjungan kita itu.

Kita menteladankan orang rajin, tapi kita malas. Kita menteladankan orang ulet, kita gampang menyerah. Kita menteladankan orang berani, tapi kita takut.

Jangan-jangan menteladankan seseorang sebenarnya excuse kita untuk tetap melakukan hal-hal buruk yang selama ini kita lakukan.

Saya kira jangan begitu.

Teladan ya teladan.

Kita menjadi seperti dia. Bukan pengen doang…




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: