Pendidikan Teknik

Bisakah insinyur dididik lewat bangku kuliah?

Kuliah sekarang menjadi bentuk dasar pendidikan di perguruan tinggi.  Mahasiswa datang ke kelas, dosen mengajar, mahasiswa mengikuti. Kemudian dosen mengedarkan lembar ujian, mahasiswa menjawab. Bila jawabannya memuaskan, mahasiswa lulus. Kalau jumlah kuliah lulus sudah cukup, mahasiswa wisuda. Kemudian bekerja.

Cara ini sangat efisien. Kita bisa punya kelas besar, dengan banyak mahasiswa. Jadi setiap tahun ribuan bisa diwisuda dari sebuah universitas.

Masalahnya, apa betul seorang insinyur bisa dilahirkan dengan cara begitu?

Banyak yang bilang: tidak bisa. Mahasiswa harus banyak praktek, praktikum, kerja lapangan, dimentor, mencoba sendiri. Barulah ia bisa bekerja di bidang teknik dengan baik.

Meskipun ada benarnya, usulan seperti ini tidak praktis. Sangat mahal. Baik dari segi biaya, sumber daya, maupun waktu.

Jadi bagaimana dong?

Di sinilah persoalan pendidikan teknik. Bagaimana membawa proses belajar menjadi insinyur dalam format perkuliahan.

Saya pikir, perkuliahan masih bisa digunakan, tetapi spirit teknik, spirit engineering, sudah harus embedded dalam proses belajar.

Menurut saya seorang insinyur sebenarnya harus belajar dua hal. Satu: menggunakan matematika dan ilmu pengetahuan alam  (math and natural sciences) untuk membuat platform solusi teknik untuk suatu kelas/kelompok masalah. Kedua: menerapkan platform itu, dengan modifikasi optimal, sehingga dapat menghasilkan nilai yang diperlukan masyarakat.

Jadi dalam kuliah, dalam belajar di kelas, mahasiswa teknik harus belajar dua hal itu: (1) membangun platform yang kuat (dengan dasar teori yang kokoh), dan (2) menerapkan platform secara optimal untuk masalah-masalah dalam kelompok masalah tersebut.

Platform itu sendiri bisa berbentuk model matematika, model komputer, model fisik, model listrik, dan sebagainya.

Jadi dalam prakteknya, mahasiswa teknik dan mahasiswa non-teknik bisa sama-sama belajar kalkulus. Tapi hendaknya dalam kuliah itu, mahasiswa teknik belajar teori-teori kalkulus untuk membangun suatu model yang bisa menjadi platform. Bukan sekedar tahu teori, tapi ia menggunakan teori itu untuk mendesain dan merealisasikan platform. Dia baru puas kalau platform nya sudah jadi, dan ia bisa gunakan untuki berbagai masalah. Kalau belum, ia masih harus belajar lagi.

Dan zaman sekarang platform bisa dimodelkan di atas komputer, simulasi, visualisasi, pemrograman, atau bahkan spreadsheet. Bahkan semakin rumit masalah suatu aplikasi, semakin ia butuh platform komputer. Di atas komputer itu solusi dari masalah engineering bisa dicari.

Dengan pendekatan ini, melalui penekanan pada mengembangkan platform dan memanfaatkannya, maka seorang insinyur bisa dididik secara efisien melalui bangku kuliah.

Advertisements

  1. za

    Kalau Pak Adi (Indrayanto) menggunakan analogi pendidikan kedokteran. Ada praktik. Sayangnya, saya lihat kesempatan praktik anak-anak teknik tidak sebesar anak-anak kedokteran.

    Ya… ujung-ujungnya ke biaya lagi. Walau harusnya gak boleh beralasan seperti itu.

    Jika anak kedokteran punya teaching hospital. Bagaimana dengan anak-anak teknik?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: