Gayus-Gayus

Yang paling menyesakkan adalah bahwa Gayus itu seakan mencerminkan wajah kita.

Orang bingung. Mau marah, mau tertawa, mau kagum, mau muntah. Semua tercampur baur dalam melihat fenomena Gayus.

Tapi satu hal yang menyesakkan: kita itu bisa dibeli. Semua bisa dibeli. Semua ada harganya. Kalau berani bayar, dapat.

Kita bisa demo, menuntut penutupan Saritem, Dolly, Kramat Tunggak, atau semua tempat lokalisasi di mana hal-hal yang suci, amanat, dan mulia bisa diperjualbelikan. Prostitusi.

Sampai kita menyadari seluruh republik ini adalah lokalisasi raksasa. Prostitusi raksasa. Prostitutes  are running this republic.

Jadi kalau mau konsisten, seluruh republik ini harus didemo dan ditutup. Dan ini yang menyesakkan dada kita.

Gayus harus diproses dan ditindak secara hukum. Ia juga harus disadarkan bahwa meskipun ia hidup di tengah lokalisasi, ia punya pilihan. Ia bisa saja menolak menjadi pelanggan nomer wahid.

Cuma saya tidak semangat mengejar dan mencerca Gayus. Karena ia adalah cermin kita semua. Kita yang punya label harga. Kita yang bisa dibeli… 😦

Advertisements

  1. za

    Apa karena kehidupan kota-metropolitan-kapitalis membunuh sisi manusia kita dan hanya menyisakan materi, Pak?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: