Kompetisi

Kompetisi sebenarnya adalah cara kita untuk merasakan kehadiran Ilahi.

Paling tidak manusia mengenal dua macam kompetisi: kompetisi dalam rangka evolusi dan kompetisi dalam budaya.

Kompetisi yang pertama itu adalah kompetisi untuk menyalurkan gen kita ke generasi berikutnya. Dan ini alamiah, dilakukan oleh hampir semua makhluk hidup. Bila ini berlangsung dengan baik, maka generasi kita berikutnya akan lebih baik.

Tapi saya berbicara mengenai kompetisi dalam budaya. Kompetisi yang kita ciptakan di berbagai kehidupan. Olah raga. Bisnis. Bakat. Dan banyak lagi.

Di lihat sekilas kompetisi dalam budaya ini sebenarnya sangat boros. Buang-buang resources.

Bayangkan misalnya kalau ada puluhan ribu penonton pertandingan sepak bola. Ditambah dengan jutaan pemirsa siaran langsung. Semua menghabiskan waktu lebih dari sejam melihat dua puluh dua pemain ditambah tiga wasit lari ngalor-ngidul berusaha memasukkan bola ke gawang lawan. Dan ini hanya untuk sebuah pertandingan olah raga.

Kalau ada makhluk angkasa luar melihat fenomena ini, ia pasti geleng-geleng kepala. Ini manusia kok senang sekali di stadion melihat orang bertanding?

Sebenarnya ada nilai religius di situ.

Sepuluh ribu tahun sebelum Masehi, orang sudah mengerti konsep Brahman. Konsep Ilahi yang berada di luar jangkauan manusia. Tidak terucapkan. Tidak tergambarkan. Membuat orang tertegun kehilangan kata-kata.

Bagaimana cara mencapai kehilangan kata-kata itu?

Dibuatlah perlombaan berbalas sajak religius. Seperti lomba mengaji digabung berbalas pantun. Peserta lomba harus menyiapkan diri bertapa berbulan-bulan di hutan merenungi Brahman.  Sehingga hati dan pikirannya dipenuhi ketakjuban.

Maka merekapun saling berlomba membacakan ucapan-ucapan suci, seperti berbalas pantun. Semakin lama semakin dalam dan menakjubkan. Seorang peserta dinyatakan kalah apabila ia tidak sanggup lagi berucap membalas ucapan suci. Sampai babak akhir di mana dua yang terbaik bersaing berbalas pantun dengan kedalaman luar biasa. Dan sampai suatu titik di mana peserta tidak sanggup lagi berbicara. Pada saat itu batas ucapan manusia sudah dicapai. Dan semua memasuki momen hening di mana Brahman hadir. Brahman ada saat manusia takjub tidak sanggup lagi berkata-kata.

Dan semua, yang kalah maupun yang menang, sama-sama merasakan kehadiran Ilahi melampaui keunggulan mereka.

Dan inilah sebenarnya mengapa kita menyukai kompetisi. Menonton pertandingan. Menyaksikan perlombaan. Mencari yang terbaik.

Karena saat terbaik dicapai, kita tahu batas manusia ada di mana, dan beyond that, kita tahu mulai dari situlah kehadiran Ilahi. Dan itu membawa kesukacitaan yang luar biasa. Bukan saja bagi yang menang. Bukan saja bagi yang kalah. Tapi juga bagi penonton yang menyaksikan.

Jadi begitulah cara kita menyikapi sebuah kompetisi.

Kompetisi itu bukan bertujuan menjadi yang paling hebat. Untuk mengejek yang kalah.

Kompetisi adalah cara kita untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi. Mendekatkan diri ke teritori Ilahi. Kita yang menang memberitahu di mana batas teritori itu. Kita yang kalah membantu yang menang untuk menemukan batas itu. Untuk siapa? Untuk semua. Kita penonton yang menyaksikan jadi tahu di mana teritori itu.

Dan semua menjadi takjub karena kehadiranNya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: