Tentang Sains dan Agama

Agama dan sains seharusnya tidak dipertentangkan, karena keduanya saling melengkapi hidup manusia.

Agama tidak lepas dari doktrin. Doktrin adalah hasil upaya untuk memformulasikan misteri agama — terutama agama wahyu — dalam prinsip-prinsip yang konsisten sekaligus mudah dipahami manusia.  Pemahaman manusia sangat ditentukan antara lain oleh cara pandangnya atas dunia (worldview) . Saat pemikiran logis, macam deduksi Aristoteles, mendominasi pemikiran manusia, maka rumusan doktrin dipengaruhi logika. Sehingga para penyusun doktrin (doktriner) membuat rumusan yang cocok dengan worldview ini.

Persoalannya, sains mengubah worldview. Logika Aristoteles yang melahirkan cara pandang dunia yang mekanistis (Newtonian) tidak cocok lagi dengan realitas sains. Belum lagi pola pandang evolusioner Hegel yang mendominasi cara memandang perkembangan dunia. Pemikiran Hegel ini menginspirasi Darwin dengan teori evolusi di dunia biologi, dan Marx di dunia ekonomi. Saat pemikiran evolusioner diuji sains, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Pemikiran Marx kemudian ditinggalkan orang, tapi pemikiran Darwin berhasil menjadi mainstream hari ini.

Perubahan worldview akibat sains ini seakan menimbulkan pertentangan agama dan sains. Mana yang mau dipercaya? Temuan sains atau doktrin agama?

Menurut saya konflik ini sebenarnya bukan soal sains versus agama, tapi antara sementara ilmuwan dengan sementara doktriner.

Sebagian ilmuwan mau menggunakan worldview yang baru untuk menolak Tuhan. Seakan-akan kegagalan doktrin adalah bukti tidak adanya Tuhan. Padahal yang gagal itu adalah rumusan doktrin, bukan agama itu sendiri. Tapi dengan berani mereka memutuskan untuk menjadi atheist.

Sebaliknya, sebagian doktriner juga bereaksi defensif. Temuan sains ditolak. Bahkan dicari temuan sains lain untuk meng-counter temuan sains yang bertentangan dengan doktrin. Upaya ini sia-sia, karena bukti sains selalu lebih kuat dari temuan akibat prekonsepsi doktrin.

Kedua posisi yang bertentangan ini tidak perlu terjadi.

Karena sains bisa membuat kita memahami dunia ini, sedangkan agama memberikan makna dari kehidupan. Keduanya saling mengisi dan melengkapi untuk kebaikan manusia.

Ilmuwan tidak boleh sombong. Karena sampai kapanpun agama itu jauh lebih bisa diterima manusia ketimbang sains. Anda butuh gelar S3 untuk memahami sains terbaru. Berapa banyak sih orang yang mengerti kosmologi, fisika, biologi, sampai pada ilmu sosial dan ekonomi? Cuma segelintir. Jumlah S3 di Indonesia saja kira-kira dibawah 10.000 an.

Jadi sains itu tidak bunyi, tidak menarik bagi kebanyakan orang. Murid kalau diberi pelajaran sains ingin cepat-cepat udahan. Kalau sudah lulus, tidak mau dia kembali lagi ke kelas.

Beda dengan agama. Tiap hari orang membaca kitab suci. Tiap minggu orang pergi ke tempat ibadah. Dan kita bicara angka jutaan atau puluhan juta umat yang tekun mendalami kehidupan beragama di Indonesia. Karena manusia lebih butuh makna hidup ketimbang pengetahuan worldview.

Tantangannya adalah bagaimana pada ilmuwan menyadari bahwa hidup itu harus bermakna, bukan hanya soal pengetahuan. Sebaliknya para doktriner perlu menyadari bahwa agama bersumber pada misteri, dan doktrin itu bersifat sementara. Kalau ia kehilangan misteri, dan menjadi logis (demistified) oleh doktrin, maka siap-siap lah doktrin ini akan kehilangan konsistensi dan relevansinya oleh perkembangan sains.


  1. menarik….. karena banyak orang yg cenderung meletakkan sains dan agama pada sisi yang bersebarangan. apalagi pada masa penemuan kloning domba dolly tahun 2001. diskursus ini semakin marak. dugaan saya, hubungan antara entitas yg mewakilo sains dan agama memang seharusnya konstruktif dan supportif. dugaan saya, sains justru menjadi tools untuk mengeksplorasi ilmu Tuhan yang hanya sedikit di share pada manusia. bahkan dalam al quran, jamaah jin dan manusia ditantang oleh Tuhan untuk menaklukkan bumi dan langit. Tapi Tuhan juga bilang, itu tidak akan mungkin tanpa sulthon (kekuasaan). Seorang guru saya mengartikan sulthon ini sebagai sains. So dari sini kita sudah bisa melihat hubungannya.
    wallahu’alam.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: