Membuktikan Tuhan? (more)

Yang paling penting bukanlah apakah kita sudah mengenal Tuhan. Lebih penting lagi, apakah Tuhan sudah mengenal kita?

Kita baru mau percaya kalau Tuhan masuk akal kita. Tuhan kita cek lewat logika, panca indera, ilmu pengetahuan. Lewat microsokop. Lewat teleskop. Seakan-akan Tuhan itu obyek pengamatan kita.

Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Kita lah obyek pengamatan Tuhan.

Bagaimana kita hidup? Apa perbuatan kita? Siapa yang kita tolong? Apa saja karya kita di dunia ini?

Tuhan sedang mencek semua itu.

Apakah kita masuk dalam teleskop Nya? Apakah kita masuk dalam mikroskop Nya?  Apakah kita muncul dalam radarNya? Apakah kita muncul dalam daftar Nya?

Saya bisa sibuk membuktikan adanya SBY. Dan saya bisa berhasil membuktikannya, mengenalnya, lengkap dengan seluruh keluarga, dan tanggal lahirnya. Saya bahkan punya foto nya lengkap, dari kecil sampai besar. Album musiknya saya punya lengkap. Tetapi coba saya datang ke Cikeas, dan mencoba masuk dengan alasan saya kenal SBY. SBY hanya menggelengkan kepala, “Maaf saya tidak mengenal anda…”, lalu para pengawal menuntun saya keluar, kemudian menutup pintu pagarnya.

Betapa tragis, kalau kita merasa kita mengenal Tuhan, tapi Tuhan tidak mengenal kita. Saat kita mengetuk pintu Sorga, menyerukan namaNya, dan Ia hanya menggeleng: “Maaf, kamu siapa? Aku tidak mengenalMu…”, lalu Ia menutup pintu untuk kita.

Memang niat membuktikan eksistensi Tuhan itu sangat menarik. Tapi menurut saya itu tidak berguna kalau kita itu tidak eksis di hadapanNya. Kita harus lebih cemas kalau ternyata Ia tidak menemukan atau tidak mengenal kita. Kita tidak eksis di hadiratNya. Kita tidak relevan bagiNya….


  1. Arie

    Analogi SBY dengan Tuhan mohon agak sedikit ditahan untuk dipublikasikan, saya menangkap maksudnya yang positif tapi tidak begitu mengena. Pengenalan Tuhan pada hambanya tidak seperti di toko yang jamnya terbatas, Dia terbuka setiap saat dan menerima hamba2Nya. Bila seseorang membawa pengetahuan pengenalan dirinya kepadaNya, pasti Dia akan mengenal dan menerima siapapun mereka. Mdh2an maksud saya bisa difahami. Inilah lima pertanyaan yang membebaskan di alam kubur yg saya yakin bapak mengenalnya.

    • azrl

      @arie: maaf mungkin kurang eksplisit. Pada tulisan ini, bagian pintu sorga itu diketuk dimaksudkan saat hari akhir (kiamat) atau saat kita mati, bukan saat kita masih hidup. Betul, saat ini belum terlambat untuk dikenalNya. Tapi kalau orang cuma sibuk membuktikan eksistensiNya tanpa berusaha membangun relasi yang dekat/akrab denganNya, ia bisa terlambat…

      • Arie

        Dengan klarifikasi yang bapak sampaikan saya setuju, terima kasih, mohon maaf sudah lancang mengingatkan. Agama itu hidup karena pertanyaan kita atas kebingungan tidak pernah berhenti, dan ia menghidupkan ilmu karena manusia senang mencari jawaban tapi kurang terlalu suka menerima satu kesimpulan bila tanpa melalui petualangan pembuktian. Secara kognitif, exsistensiNya terwakili oleh Rasul2Nya, sayang benang merah ini bukan menyatukan malah memisahkan. Layaknya Ilmu Matematik, dia dikenal karena dibawakan oleh para ahlinya terus turun temurun dan memang aplikatif. Jika menilik inspirational achievement begitu banyak manusia di Bumi ini (Michael M. Hart), para Rasul ini ada dalam list teratas. Sebenarnya ada kesamaan pola dan konsistensi sifat, layaknya ilmuwan beda generasi antara satu dengan yang lain, lebih jumawa mana Einstein dibanding Graham Bell, sifat manakah yang mereka yang serupa tapi sama, semuanya sangat2 terhormat. Kaidah yang terakhir selalu lahir sebagai penyempurna kaidah sebelumnya. Semoga Dia yang Maha Berilmu membebaskan kita dari kebingungan, dari melebih atau mengurangkan banyak hal dari porsinya. Untuk mengenalNya butuh kejujuran dan penghilangan ego.

  2. tulisan yang bagus untuk kasus orang yang salah “agama”🙂

    saya muslim, bagi anda tentu saya kasus seperti diatas, bagi saya, anda adalah hal sebaliknya…

    smoga anda, saya dan yang baca, termasuk orang orang yang diberi petunjuk dan jalan untuk menghamba sesuai dengan yang dimaui-Nya

    • agnostik

      jangan merasa paling benar lah mas aespe
      memangnya anda tuhan bisa tau mana yang benar dan mana yang salah

      dewasalah tuhan memang tidak ada

      anda hanya mengincar surga dan takut neraka

    • azrl

      @aespe dan @agnostik: mungkin tulisan di atas harus di baca ulang.

      Intinya: Yang penting bukan soal agama mana yang benar, atau Tuhan ada atau tidak. Karena point saya semua itu adalah pilihan, decision, dan relationship building, bukan obyek untuk reasoning apalagi melalui Aristeotelian logic atau scientific (hypothetical proving) observations

  3. Ayub_Muhammad

    Mohon maaf, jika tuhan tidak mengenal hamba2nya atau apalah yang Dia ciptakan berarti Tuhan itu relatif, dan Ia tidak akan menciptakan sesuatu yang Dia sendiri tidak tahu dengan apa yang dia ciptakan,

    Saya pikir tidak bisa disamakan dengan SBY, dia hanya manusia yang penuh dengan keterbatasan., dan juga kedudukannya yang berbeda, sby sbga ciptaan dan tuhan sebagai penciptaNya

    Beda halnya dengan anda yang mengucapkan kita tidak Exist dihadapanNya, karena Dia yang menciptakan maka kita Exist dihadapan Tuhan




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: