Membuktikan Tuhan?

Mengapa ada orang yang begitu yakin adanya Tuhan, tapi ada juga yang tidak percaya sama sekali?

Ada orang yang terkesiap melihat keindahan dan kehebatan alam ini, dan hatinya takluk mengakui kebesaran Tuhan. Tapi ada yang melihat hal yang sama dan berkesimpulan bahwa itu spontan, dan tidak memerlukan Tuhan.

Ada orang yang merasakan kehadiran Tuhan. Ada orang yang tidak pernah bisa merasakan adanya Tuhan.

Ada orang yang menemukan Tuhan melalui logika. Ada yang jungkir balik menggunakan logika, tapi tidak bisa menyimpulkan adanya Tuhan.

Heran ya?

Bagi saya jawabannya adalah: Tuhan sendiri lah yang memutuskan kepada siapa Ia memperkenalkan diriNya. Dan sebaliknya, kita sendirilah yang menyambut atau menolak perkenalan diriNya.

Bayangkan bagaimana cara kita memperkenalkan diri pada seekor semut. Problematik. Kita udah lewat-lewat, teriak-teriak, si semut tidak tahu. Begitu kita nekad salaman, kasihan si semut kejepit dan mati. Karena kita terlalu besar. terlalu kuat.

Mungkin cara terbaik saya adalah dengan menjadikan diri saya sebutir gula, sehingga semut bisa mengenali saya. Atau harus jadi semut lagi, supaya bisa ngomong bahasa semut, “Hey apakabar, nama saya Armein. Siapa namamu…?” Ini bisa berhasil, tapi si semut bisa salah kenal. Dia pikir Armein itu semut juga.

Bagaimana cara Tuhan memperkenalkan diriNya? Problematik juga bukan? Ia sudah lewat-lewat, teriak-teriak, kita cuek saja. Kalau Tuhan nekad bersalaman, jangan-jangan kita hangus oleh api kemuliaanNya.

Ia harus merepresentasikan eksistensiNya ke dalam bentuk yang bisa ditangkap indera, akal, dan pengertian manusia. Ia harus memperkenalkan diri lewat cara yang bisa kita pahami. Dan seringkali hal yang kompleks membutuhkan kisah, dongeng, riwayat agar bisa dipahami manusia. Maka Ia memperkenalkan dirinya juga lewat pernyataan, proklamasi, pemberitaan, kisah, tulisan, riwayat, bahkan dongeng mitologi.

Mau gimana lagi? Ia Tuhan. Kita manusia.

Jadi bagi saya sudah jelas. Kita hanya bisa mengenal Tuhan kalau Tuhan berkenan memperkenalkan diriNya pada kita. Kalau Ia mau merepresentasikan diriNya dalam bentuk yang kita bisa tangkap. Tapi pada saat yang sama kita harus sadar bahwa pengertian kita itu tidak pernah sempurna. Pengenalan kita itu tidak pernah lengkap. Karena Tuhan itu lebih besar dari kemampuan manusia — terutama manusia purba masa lalu dan manusia berdosa masa kini — untuk memahamiNya.

Ada orang ingin menggunakan logika untuk memahami Tuhan. Well, good luck. Logika itu hanya untuk mengenal fenomena alam. Saya yang penuh logika dan sudah berijasah S3 ini saja masih suka susah mengerti Ina. Apalagi mau menggunakan logika untuk mengenal Tuhan.

Saya sendiri hanya bisa bersyukur. Apapun yang saya mengerti tentangNya saat ini saya syukuri. Saya syukuri bahwa Ia berkenan memperkenalkan dirinya, meskipun terpaksa hanya sebatas kapasitas otak dan hati saya. Hanya terbatas cinta saya kepadaNya.

Saya sering berdoa supaya saya semakin mampu mengenalNya. Setiap hari tambah dekat.

Anda juga…


  1. d

    analogi semut vs manusianya mantap, Pak🙂 salam kenal..

  2. Nice post pak, analogi manusia-semutnya juga menarik (bisa saya pakai buat ngobrol sama temen atheist ..hehe..)

    Btw, terkait statement Pak Hawking, bahwa God didn’t create the universe, but law of gravity did. Saya jadi berpikir kalau memang pernyataan itu betul, kemudian siapa yang menciptakan gravity law kalau gitu? pengen baca juga pendapat dia soal itu, sayang belum punya bukunya.

    Scientist lain juga pernah membuktikan bahwa kode-kode DNA harus di bentuk oleh ‘conscious and intelligent mind’ jadi tidak melalui proses evolusi. Saya pernah tulis disini
    http://www.bayuh.com/2010/03/12/apakah-tuhan-ada/

  3. vani

    terprovokasi statementnya hawking ya pak?
    tapi saya setuju tulisan bapak, pengetahuan dan kebijaksanaan untuk memahami alam semesta hanya diberikan pada orang yang rendah hati dan sederhana.
    tapi kita toh tak bisa menunda untuk mempercayai sesuatu pak, kalau kita sebagai semut (saat ini) percaya bahwa Tuhan adalah semut yang lain, maka kita harus percaya untuk saat itu. karena dengan mempercayainya saat itu, maka dimasa depan kita akan tahu bahwa kita salah dan akan dibukakan jalan untuk mengetahui yang sebenarnya….

    Saya pribadi berpendapat, bahwa mempercayai sesuatu hanya sebuah bentuk tindakan. sebuah keputusan untuk bergerak maju. apapun yang diputuskan untuk dipercayai saat ini pasti akan bertemu pembuktiannya pada ujung masa. pada akhirnya semua orang akan bertemu kebenaran. karena kebenaran itu satu2 yang ada di ujung setiap hidup manusia.

    memutuskan untuk percaya membuat kita memiliki progress, daripada suam2 kuku dan tak tau apa yang harus dipercaya. God moves in a mysterious way, dia akan menuntun kita pada kebenaran itu pada akhirnya…

    so help us God…….

  4. Tulisannya sangat menginspirasi Pak, salam dari mantan mahasiswa🙂

  1. 1 Tweets that mention Membuktikan Tuhan? « Armein Z. R. Langi in the City of Eden -- Topsy.com

    […] This post was mentioned on Twitter by Bonar Krisnoadhy, Bonar Krisnoadhy. Bonar Krisnoadhy said: @revolutia nice talk, bagaimana pendapatnya tentang artikel "Membuktikan Tuhan" di http://bit.ly/bDiIE4 ? […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: