Dongeng

Jangan menganggap enteng cerita dongeng. Karena melalui cerita dongeng, kita bisa menangkap makna yang sulit dijelaskan dengan logika.

Sebenarnya dunia dipenuhi cerita dongeng. Mulai dari dongeng kontemporer, cerita novel, sampai pada ksiah-kisah epik jaman dahulu kala.

Dongeng itu biasanya berupa narasi atau cerita yang dibayangkan (fiktif atau bukan) pernah terjadi (dalam ruang dan waktu tertentu).  Karena dongeng adalah narasi — sesuatu yang dibayangkan di pikiran kita, sesuatu yang diucapkan, sesuatu yang ditulis– maka dongeng adalah buah karya pikiran. Buah imajinasi, yang tidak jarang ditopang riset.

Hebatnya, dongeng ternyata mampu mengubah orang. Melalui dongeng perhatian kita bisa terserap. Pikiran kita bisa berubah. Sikap kita bisa berubah. Pandangan kita bisa berubah. Melalui dongeng, nilai-nilai hidup ditanamkan. Melalui dongeng pengertian baru diadopsi. Melalui dongeng pengalaman baru bisa dirasakan. Melalui dongeng orang bisa memilih akhlak yang mulia.

Bahkan banyak teori science itu membutuhkan dongeng untuk menjelaskannya. Bagaimana dunia tercipta. Bagaimana makhluk hidup muncul. Bagaimana manusia muncul. Semua itu dijelaskan dalam buku teks ilmu pengetahuan. Tapi menurut saya semua itu dongeng. Dongeng yang dibuat untuk memberikan pengertian.

Mengapa science seperti itu dongeng? Karena tidak ada satupun yang pernah melihat semua itu. Semua itu adalah teori. Dan teori itu ditulis menjadi narasi.  Jadi narasi sesuatu tanpa ada yang pernah menyaksikannya? Apalagi kalau bukan dongeng.

Cuma tentu bedanya, dongeng science itu memiliki berbagai bukti dalam alam yang tidak bertentangan dengan teori itu. Dan ada komunitas sains yang sepakat akan kebenaran teori itu. Sehingga kita tidak menyebutnya dongeng, tetapi teori. Tapi tetap saja itu dongeng, karena tidak ada yang tahu dengan pasti. Lagi pula kalau ada bukti baru, maka teori itu gugur dan berubah. Nah kalau narasi itu berubah-ubah, itu dongeng.

Dalam agama pun banyak dongeng. Kisah-kisah yang kita anggap benar. Narasi-narasi yang kita tidak berani bantah. Tapi karena tidak ada di antara kita yang hidup saat cerita agama terjadi, maka secara taksonomi kisah itu bisa dikategorikan sebagai dongeng.  Tapi tentu saja bukan dongeng sembarang dongeng. Dongeng yang bisa membangun kehidupan. Dongeng yang bisa memuka wawasan. Dongeng yang bisa memberi inspirasi. Dongeng yang bisa membertahukan jalan ke surga dan jalan ke neraka. Sengaja ditulis sebagai doengeng supaya manusia fana macam kita bisa mengerti. Kalau tidak soal agama ini bisa sangat rumit, dan logika kita tidak sanggup menangkapnya.

Bayangkan kalau kitab suci ribuan tahun lalu berisikan teori big bang, super string, evolusi, beserta semua matematika pendukungnya. Saat kemampuan ilmiah manusia masih terlalu primitif, maka orang tidak akan pernah memahami isi kitab suci. Supaya manusia bisa mengerti maka, kitab suci memilih bentuk narasi dan dongeng. Sehingga tanpa harus menjadi super jenius, orang bisa memiliki akhlak mulia.

Jadi dongeng itu sangat penting bagi manusia untuk menjelaskan hal-hal yang rumit secara logika. Oleh sebab itu kita harus belajar menjadi story teller. Pencerita dongeng.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: