Arogan

Arogansi itu berbanding terbalik dengan percaya diri.

Semakin besar rasa percaya diri seseorang, semakin kecil arogansinya. Semakin luas pergaulan seseorang, semakin paham bahwa ia tidak boleh sombong.

Memang kita bisa bilang, masih lebih baik kita terlihat sombong tapi jujur ketimbang terlihat rendah hati tapi pura-pura. Memang benar, tidak ada yang lebih menjengkelkan ketimbang melihat kerendahan hati yang dibuat-buat. Jadi masih mending sombong tapi jujur, ketimbang rendah hati tapi cuma basa-basi.

Tapi kalau boleh pilih,  jelas lebih baik rendah hati dan jujur bukan?

Saya kira kesombongan dan arogansi ini musuh yang sangat sukar untuk dikalahkan. Berkali-kali saya menemukan diri saya dan respons saya arogan. Saat saya jengkel atau marah, saya menyadari sumbernya adalah arogansi saya.

Selain tidak menyenangkan bagi orang lain, arogansi itu sangat merugikan kita. Kita menutup pintu belajar. Kita menutup kebaikan yang datang dari orang lain. Kita menghalangi aliran positif.

Dan yang paling buruk, kita gagal membuat orang lain merasa dihargai. Kita gagal membangun harga diri nya. Kita gagal membuat orang lain merasa dimanusiakan.

Setiap event adalah peluang untuk memperlihatkan siapa diri kita itu. Bukan cuma itu. Minimal kita bisa belajar untuk melatih karakter kita. saat ada sesuatu yang memicu kemarahan dan kejengkelen kita, tarik nafas dulu dalam-dalam. Apakah kita marah karena prinsip kita dilanggar? Kemudian cek lagi. Prinsip apa? Besar kemungkinan bukan prinsip luhur tapi lebih tentang harga diri kita. Kita merasa dilangkahi dan dianggap rendah.

Maka dari perasaan marah itu, kita belajar untuk melatih diri kita dan menjelaskan pada diri sendiri bahwa harga diri kita tidak bergantung pad sikap orang lain. Harga diri kita sepenuhnya bergantung dari kebesaran jiwa kita. Maka kemarahan kita melunak, berganti dengan keikhlasan dan syukur bahwa kita jiwa dan hati kita semakin lapang.

Jadi mari kita belajar untuk tidak arogan. tidak sombong. Melalui berbagai peristiwa yang membuat kita marah.


  1. it’s so true pak..
    terkesan juga dg kalimat paling akhir. Ketika kita marah, semua benteng yg sudah dibuat runtuh, dan terkuaklah semua bentuk keaslian diri kita, yg kadang tidak disadari sebelumnya.

  2. kadal melet

    betul sekali catatan diatas…saya sangat setuju..
    mohon ijin sharing Pak Armein…
    terima kasih




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: