Kalau…

Dalam mengungkapkan pendapat, kita jangan sering menggunakan kata “kalau”. Ini terlalu lemah dan hipotetikal. Dan menandakan keraguan.

Kata kalau, “if”, itu berandai-andai. Ia seperti menetapkan suatu ketentuan yang netral.

Persoalannya, kata “kalau” seperti pedang bermata dua. Di satu pihak ia menetapkan suatu kondisi. Dilain pihak ia membuka dugaan terpenuhinya kondisi itu.

Misalnya, saya bilang pada seorang mahasiswa “Kalau jadi mahasiswa jangan cengeng!”

Ini bermakna ganda. Pertama, ini menetapkan suatu ketentuan bahwa mahasiswa cengeng itu jelek. Kedua, saya mengisyaratkan bahwa lawan bicara saya itu cengeng.

Karena bermakna ganda, pernyataan ini lemah. Ungkapan itu tidak logis, dan mencerminkan pendapat pribadi. Kedua mahasiswa ini bisa merasa dituduh cengang bisa juga tidak. Karena ada kata “kalau…”

Jadi hindari penggunaan kata “kalau”. Terutama saat hendak berargumentasi. Karena ini melemahkan pernyataan kita.


  1. kalau di IF, “IF” digunakan untuk analisa kasus, jika … maka …




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: