Kritik

Lontaran kritikan itu sebenarnya seperti batu yang dilontarkan pada kita. Dengan batu ini kita membangun karya monumental.

Ini ada lelucon khas Papua. Apa beda anjing Bandung dengan anjing Manokwari?  Kalau kita menunduk seperti memungut batu, anjing Bandung langsung lari menjauh. Takut dilempari batu. Tapi anjing Manokwari akan datang mendekat dengan berani. Karena tahu di Manokwari tidak ada batu.

Barangkali cuma orang Manokwari yang bisa melihat lucunya, karena memang mereka mengeluh susah sekali mencari batu. Jadi kalau hendak bikin bangunan, mereka harus mendatangkan batu dari luar.

Setiap hari kita menerima kritikan. Kritikan itu memperlihatkan kelemahan kita. Kekurangan kita.

Kalau sikap kita terlalu sensitif, dan tidak tahan kritik, maka kita akan kecewa. Marah. Pundung. Dan tidak mau lagi berjuang.

Seharusnya belajar dari anjing Manokwari itu. Kita mendekat. Karena kita butuh sekali batu-batu itu. Untku kita gunakan memperbaiki diri. memperbaiki usaha kita. Memperbaiki kualitas layanan kita. Dari kritikan itu, kita bisa memperbaiki kepuasan pelanggan. Kita dapat memelihara pelanggan kita. Mereka tidak kapok dan datang lagi.

Jadi, kritikan memang keras dan menyakitkan. Kita pungut itu dan kita susun rapi untuk membangun mahakarya kita…

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: