Berbicara Dengan Jelas

Dalam krisis, situasi dengan taruhan yang besar, kita harus bisa berbicara dengan jelas dan tegas. Karena kata-kata dan ucapan itu sangat powerful. Kalau kita berbicara ke sana-ke mari, menutup-nutupi esensinya, maka kekuatan kata-kata menjadi hilang.

Politisi senang memelintir bahasa supaya citranya tetap baik. Pengacara senang memelintir argumentasi supaya menang di pengadilan. Orang yang berjiwa kerdil senang memelintir fakta supaya ia dipandang sebagai korban (victims). Pemimpin yang sejati menyampaikan kebenaran, sepahit apapun. Untuk kebaikan semua.

Belakangan saya suka tidak nyaman. Karena kita senang berbicara dengan bahasa yang berputar-putar. Tidak lugas. Tidak tepat maksud. Tidak menyampaikan apa yang benar. Tidak menyampaikan apa isi hatinya. Karena takut menyinggung. Karena takut kita nanti diserang. Takut nanti kita harus berkomitmen. Karena tahu orang lain akan membantah, sehingga kita jadi menghindar.

Saya bisa juga memilih diam. Tapi diam itu bentuk lain dari tidak berkomunikasi. Tidak menyampaikan apa yang benar. Membiarkan hal yang salah berlangsung terus.

Persoalannya, kalau di lingkungan kita orang tidak berbicara apa adanya, maka lingkungan kita itu adalah tempat yang tidak nyata. Entah delusi (percaya pada hal yang tidak benar) atau fantasi (mengawang-awang). Kita merasa senang untuk sesuatu yang tidak ada. Kita merasa susah untuk sesuatu yang tidak nyata.

Terlebih lagi, kalau saya bicara putar-putar, maka orang tidak percaya lagi. Ada sesuatu yang disimpan. Ada sesuatu yang dihindari. Tidak sepenuhnya jujur. Sedang main politik. Sedang punya agenda terselubung.

Atau, simply ketakutan.

Untuk mendapatkan kekuatan dari kata-kata, ucapan kita harus jelas. Istilah-istilah yang dipilih harus tepat. Logika jernih. Kalimat-kalimat pendek dan runut.

Bagaimana cara kita bisa berbicara apapun yang harus kita sampaikan tanpa takut?

Jawabnya: respek.

Kita harus respek lawan bicara kita. Sikap respek itu tercermin pada pengucapan, intonasi dan mimik. Dengan sikap respek, kita bisa menyampaikan apa saja. Meskipun pahit, meskipun kuatir, meskipun keringat dingin, meskipun mengagetkan, meskipun tidak enak, lebih baik kita sampaikan apa yang benar, dengan penuh respek.

Jadi memang ada kendala psikologis pada kita semua untuk berbicara sesuatu yang kontroversial. Tapi itu cuma kendala psikologis. Cuma perasaan kita. Dan perasaan itu bisa dilatih untuk berubah excitement melihat peluang. Peluang untuk menjadi diri kita, menyampaikan apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kita.

Berbicara dengan jelas dan tegas itu bukan saja tanda kita menghormati orang lain, tetapi juga membantu kita untuk menjadi diri kita. Memang tidak menyenangkan untuk membawa kabar buruk bagi orang lain. Tapi jauh lebih tidak menyenangkan saat kita gelisah tidak bisa menyampaikan apa yang seharusnya kita sumbangkan padanya.


  1. yup benar banget.yg penting itu kejujuran ajah.n ga usah terlalu banyak memuji.langsung ajah diberitahukan pendapat mengenai sesuatu hal n ga usah berputar2 ngomongnya.ini adalah sifat yg sering aq tanamkan pada diriku sendiri.🙂

  2. Maman fauzi

    Mantap , terimakasih udah nambh ilmu pengetahuanku




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: