Pulihkan Nama Baik Prof Carmadi, Prof Suhono, dan Dr Yoga

Kasus plagiat disertasi dan paper IEEE yang dilakukan MZ telah menimbulkan skandal besar di ITB. Tindakan bagi MZ sudah tepat. Ijazah S3 nya dicabut. Disertasinya dibatalkan.

Tapi bagaimana dengan ketiga pembimbing ini?  Skandal yang sama besarnya akan terjadi bila nama baik para pembimbing MZ, yakni Prof Carmadi Machbub, Prof Suhono Supangkat, dan Dr Yoga, tidak segera dipulihkan.

Hari-hari ini kecaman kepada mereka sungguh besar. Dalam berbagai kesempatan, saya mendengar dorongan agar ITB bertindak keras, dan meminta mereka mengundurkan diri dari jabatan struktural. Bahkan dalam suatu acara ITB, Prof Carmadi dipaksa untuk mundur dari tugas moderator, karena pembicara menolak tampil satu panggung dengan Prof Carmadi.

Berbagai pikiran dan perasaan berkecamuk dalam hati saya. Saya mengerti. Suatu tatanam dalam komunitas akan runtuh kalau keadilan tidak ditegakkan.

Tetapi, pada saat yang sama, kita semua diuji bukan dari kemampuan menghindari musibah, tapi dari cara kita bereaksi menghadapinya. Cara kita mengatasinya.

Di antara semua orang di dunia ini, selain kedua pihak, MZ dan para pembimbingnya, saya kira sayalah yang paling tahu apa yang terjadi.

Saat MZ sedang persiapan untuk ujian S3 di tahun 2008, saya berada bersama tim pembimbingnya. Saya ikut membimbing bersama Prof Carmadi dan Prof Suhono dua lagi mahasiswa S3 yang lain. Karena Prof Carmadi berkantor di rektorat, kami siang-malam, terkadang sampai jam sepuluh malam, menggodok disertasi ketiga mahasiswa ini secara marathon. Di situ saya pertamakali mengenal MZ.

Oleh sebab itu saya merasa sangat berkewajiban untuk menyampaikan kesaksian saya tentang hal ini.

  1. Saya tidak melihat iregularitas, yakni upaya yang menjurus pada plagiat, yang dilakukan Prof Carmadi dkk dalam melakukan pembimbingan. Saya bahkan melihat usaha keras dari mereka untuk menolong para mahasiswa mereka untuk berhasil. Termasuk di dalamnya upaya Prof Carmadi untuk menggalang dana sponsor, mengirimkan MZ ini ke Cina untuk mempresentasikan karya tulis di forum internasional. Yang ternyata salah satunya adalah karya plagiat yang menghebohkan itu.
  2. Dan Prof Carmadi dkk menerapkan sistem kepercayaan yang besar pada mahasiswanya, suatu kepercayaan yang juga dilakukan oleh semua pembimbing pada mahasiswa S3 nya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dunia akademik bisa dibangun bila pembimbing selalu mengasumsikan mahasiswanya adalah penjahat atau plagiator.
  3. MZ berhasil mengelabui begitu banyak pihak, mulai dari dosen-dosen ITB, para pembimbing, para penguji, pimpinan pascasarjana, reviewer di berbagai jurnal dalam negeri, dan bahkan reviewer makalahnya di IEEE itu. Jadi Prof Carmadi dkk adalah satu dari sekian banyak korban.

Saya tidak sanggup berdiam diri melihat kebaikan dan usaha Prof Carmadi dkk dalam menjalankan kewajiban mereka justru menjadi bumerang. Sikap mereka yang mempercayai dan menghormati mahasiswa mereka justru membawa mereka berada dalam masalah besar.

Bagi saya, ini sungguh tidak adil.

Semua orang tentu punya hak untuk bersikap. Dan saya mengerti ada pemikiran bahwa persepsi orang akan ITB bisa menjadi buruk bila ITB tidak bertindak keras pada Prof Carmadi dkk. Reputasi ITB menjadi rusak bila masyarakat tidak melihat Prof. Carmadi dkk di tindak keras.

Tetapi apa gunanya suatu reputasi bila itu dibangun di atas ketidak adilan? Bagaimana akhirnya bila masyarakat tahu apa sebenarnya yang terjadi, dan bagaimana ITB memperlakukan orang-orang secara tidak adil demi sebuah reputasi sesaat? Bukankah orang akan menilai bahwa tindakan ITB ternyata hanya untuk public relations?

Saya kira, untuk manfaat jangka panjang, suasana akademik di ITB harus dibangun di atas keadilan dan kebenaran. Bukan public relations. Dan keadilan itu bisa ditemukan bila kita mengetahui fakta yang sebenarnya, bukan persepsi. Bukankah di pengadilan manapun, tuduhan-tuduhan harus dibuktikan, dan harus memiliki saksi yang kredible?

Saya sama saja dengan semua. Kecewa. Marah. Merasa sangat dipermalukan. Tetapi semua perasaan itu tidak boleh membutakan kita pada apa yang adil dan yang benar.

Karena saya mencintai ITB, dan percaya pada hikmat masyarakat akademiknya, maka saya memberikan kesaksian saya ini. Semoga bisa dipandang kredibel. Dan kita memperlakukan Prof Carmadi, Prof Suhono dan Dr Yoga, dengan hormat dan rasa terimakasih atas tugas-tugas yang mereka sudah jalankan untuk kita semua.

Advertisements

  1. semoga reputasi para pembimbing tersebut segera pulih

  2. anugrahkusuma

    Percaya kepada mahasiswa bukan berarti tidak mengontrol content yang diajukan mahasiswa. Pembimbing perlu meluangkan waktu untuk mencari tahu orisinalitas content. Jika melihat hasil plagiarisme MZ, saya pikir tidak terlalu sulit untuk search, dan melihat track / history dari topik tersebut. Bagaimana tidak ? Abstrak saja sama persis ! (Note, kalaupun papernya berbayar, abstrak biasanya dibuka for free untuk publik). Plagiarismenya benar2 kelas rendahan. Banyak plagiator di luar negeri yang tidak ketahuan, karena hanya mengutip sedikit, tidak 100% seperti MZ.

    Namun demikian, setuju bahwa nama baik para profesor dan doktor tersebut dipulihkan, karena menurut saya, MZ-nya yang kurang ajar.

    Semoga menjadi pelajaran.

    • dodo

      Bener mas…. jaman canggih gini, apalagi para ahli di bidang IT, masa sampe gk bisa searching…makanya para guru besar sebaiknya fokus dalam mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat saja, seperti dalam tri dharma PT. Urusan struktural harus mulai diserahkan pada ahli-ahli manajemen atau manajemen pendidikan. Jadi jelas tupoksi masing-masing gk rangkap-rangkap tugas tuh…

  3. andriyan

    menurut saya, sebaiknya pengumuman yang di IEEE explore ttg violation harus dikoreksi terlebih dahulu, jika memang co-authors tidak terlibat. Ada contoh-2 kasus spt ini, di situs yg sama, yang menyatakan secara eksplisit bahwa first author bertanggung jawab sepenuhnya. Dengan demikian, kredibilitas institusi akan pulih dan para author lain dari institusi yang sama, yang serius dengan publikasi di IEEE tidak ikut dirugikan karena (merasa?!) “diawasi” oleh reviewer/editor IEEE.

    Semoga masalah ini bisa segera ditangani secara elegan.

  4. bayu

    Sebenarnya saya berharap penjelasan ini mengemuka lebih awal agar masyarakat mempunyai pandangan yang seimbang. Tapi lebih baik agak telat daripada tidak sama sekali.

    Terimakasih penjelasannya pak.

    Oya saya setuju point yg dikemukakan rekan Anugrahkusuma diatas. Tapi memang nampaknya kepercayaan para pembimbing kepada MZ sudah keburu tumbuh.
    Saya sempat membaca blog salah seorang ‘mantan’ muridnya MZ yg memberi nilai positif terhadap kesantunan dari MZ (non-academic stuff). Jadi memang kemungkinan pembimbingnya juga ‘tertipu’ dg santunnya MZ.

  5. bayu

    Saya baru mampir ke situs IEEE, dan memang papernya masih berstatus violation by authors. Seharusnya jika sudah ada pernyataan bahwa first author yang bertanggung jawab, IEEE publisher bisa mengubah redaksi tulisan di awal itu.

    Mungkin perlu di cek lagi apakah IEEE sudah benar2 menerima pernyataan MZ.

  6. ternyata masih belum selesai jg ya masalah plagiarisme ini.masih berkelanjutan sepertinya.

  7. andriyan

    Pak/Mas Bayu,

    jika sejak awal, sewaktu terjadi korespondensi antara IEEE dengan author, para co-author berani mem-push supaya statement ketidakterlibatan tersebut dimuat dalam situs IEEE, saya yakin pandangan dari masyarakat (minimal masyarakat akademik) tidak seburuk saat ini.

    Ini pil pahit yang terpaksa harus ditelan semua civitas ITB , semoga menjadi pelajaran yang berharga.

  8. detu

    Saya gak yakin kalo IEEE CIS & RAM (conf. dimana paper plagiat itu dipublish) itu salah satu dari conf2 prestigious yg diselenggarakan oleh IEEE. Bisa jadi conf. itu cuma menarik sebanyak-banyaknya paper dari participants. Malah ada teman yg bilang conf. itu “abal-abal”.

    Kedepan untuk mencegah kasus2 plagiat ini, sebaiknya mahasiswa2 S3 ITB mensubmit paper ke conf2 yg berkualitas dengan proses review yg ketat. Jangan hanya asal submit ke conf. antah berantah. Lebih baik lagi jika bisa submit ke peer-review journal yg high level (punya impact factor besar). Sekalian meningkatkan jumlah publikasi international ITB.

    Saya turut prihatin kepada co-authors, terutama Pak Carmadi yg dulu menjadi supervisor saya. Dulu beliau benar2 koreksi paper2 saya. Tapi kenapa bisa kecolongan dengan MZ ini. Sebenarnya dari English style di paper, bisa dideteksi itu copy-paste apa bukan.

  9. Sebaiknya ITB harus menguji terlebih dahulu tiap karya ilmiah yang akan diajukan sebagai TA, tesis, atau disertasi, apakah terdapat unsur plagiarisme atau tidak. Setahu saya, ada software atau mungkin website yang bisa digunakan untuk menguji apakah suatu karya itu merupakan hasil plagiat atau bukan.

  10. Arief

    Sudahlah, ini sebuah kecelakaan dan ada kesalahan. Seseorang tidak perlu menyindir yang lain, apalagi menuding kesalahannya, dan apa yang harus dikerjakannya. Sesekali cobalah membayangkan posisi yang sama pada diri sendiri. Sebab, segigih apapun janji diri selalu berbuat lurus, siapakah yang dapat menjamin absolutnya? Selama masih manusia, semisal waliyullah atau santo pun tidak, hanya Tuhan yang pantas. Jangan berlebihan, be proporsional. Kalau sudah merasa seperti ini … ya sudah.

  11. Iwan

    Bukan mengasumsikan mahasiswanya penjahat pak, tapi kalau pembimbing memang berkutat pada bidang yg sedang diteliti minimal punya feeling ada yg tidak beres pada riset yg dilakukan oleh mahasiswanya.

    selain itu, menguji originalitas dari setiap karya akademik apalagi S3 adalah memang sudah lazim dilakukan oleh pembimbing dan atau penguji dimanapun. Jadi tidak perlu melemahkan hal yg subtansial demi sesuatu yg tidak jelas value nya. Kita tetap hormat terhadap beliau-beliau tetapi bukan berarti menghapus kesalahan/kelalaian yg telah dilakukan karena sikap demikian tidak menguntungkan buat ITB saat ini dan dimasa akan datang.

    Buat saya pribadi kesaksian bapak tidak memberikan pandangan baru buat saya atas kelalaian ini. Saya tetap mamandang ada yg salah dalam proses pembimbingan. Kalau apa yg dilakukan oleh beliau-beliau itu sudah jamak di ITB, maka ITB harus memperbaiki diri agar hal yg sama tidak terulang.

  12. Saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman saya selama menempuh S3 di ITB. Saya dibimbing oleh Pak Carmadi, Pak Budi Rahardjo dan Pak Dimitri. Dari sudut pandang saya, selama proses bimbingan, peluang untuk melakukan plagiasi ide sangat kecil.

    Mengapa demikian?

    1. Karena tim pembimbing selalu mengikuti perkembangan ide-ide saya sejak dari awal.
    Temuan utama dalam disertasi saya tidak muncul langsung dalam bentuk yg sudah jadi. Beberapa ide awal bahkan gagal sama sekali. Arah penelitian juga bisa dikatakan mengalami perubahan yg cukup mendasar. Ide akhir yg akhirnya menjadi temuan jg harus melalui beberapa tahap verifikasi. Berdasarkan verifikasi tersebut (baik secara teoritis maupun eksperimen), ide dasar berkali-kali mengalami perubahan. Selama proses tersebut, Tim pembimbing selalu men-challenge dan mengarahkan ide-ide saya tahap demi tahap. Seingat saya, Pak Carmadi berulangkali mempertanyakan orisinalitas ide-ide saya dan mendiskusikannya dengan pembimbing yg lain. Bagi saya, proses tersebut sangat2 berat. Saya menganggap bahwa kemungkinan plagiasi sangat kecil karena saya barus mempertahankan ide saya, bagian demi bagian, di hadapan pembiimbing.

    2. Evaluasi disertasi dilakukan berlapis-lapis.
    Proses evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pembimbing. Saya melewati tiga kali seminar, evaluasi oleh tim reviewer, satu tahap prasidang dan satu sidang tertutup. Untuk setiap seminar saya menyampaikan temuan tahap demi tahap, karena memang status/progres temuan memang mengharuskan saya melakukan hal itu. Sebagai contoh, poin-poin utama yang saya sampaikan di seminar II, memang belum saya temukan ketika saya menyampaikan seminar I. Poin-poin utama yang saya sampaikan di seminar III, belum eksis ketika seminar I dan II saya lakukan.
    Berikutnya, buku disertasi harus direview oleh tim reviewer yang dibentuk oleh Prodi. Tim ini beranggota tiga orang dosen: dua dari elektro, satu dari matematik. Setiap reviewer memberikan hasil review secara tertulis. Bahkan ada reviewer yg meminta saya presentasi 2 kali. Buku disertasi harus diperbaiki berdasarkan hasil review tersebut. Berikutnya saya harus melewati tahap pra sidang dengan empat penguji. Dan terakhir adalah sidang tertutup juga dengan 4 penguji. Baik di tahap pra sidang maupun sidang tertutup, saya harus merevisi buku disertasi saya.
    Saya termasuk beruntung karena seluruh tahap tersebut bisa saya lewati tanpa diulang. Banyak rekan saya yang harus mengulang berkali-kali.

    Saya setuju dengan Pak Armein bahwa kecaman kepada Pak Carmadi, Pak Suhono dan Pak Yoga tidak adil. Khusus tentang Pak Carmadi, karena beliau pembimbing saya, saya tahu persis bagaimana beliau memperjuangkan saya sehingga saya bisa menyelesaikan studi S3 saya. Yg sangat saya ingat dari Pak Carmadi adalah, beliau hampir-hampir tidak pernah menyalahkan saya ketika saya lalai atau terlambat menyelesaikan satu target tertentu. Yg beliau lakukan adalah memberi semangat dan arahan agar target tersebut tetap dapat saya selesaikan. Tanpa dukungan penuh dari beliau, rasanya saya tidak akan lulus.

    Saya hanya berharap agar berbagai pihak yang menyoroti kasus plagiasi ini juga melihat apa saja upaya nyata yg sudah dilakukan oleh Tim Pembimbing. Yg saya sampaikan di atas semoga bisa menjadi gambaran bagaimana sesungguhnya proses studi S3 di ITB.

  13. Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa tim promotor yaitu Prof. Dr. Carmadi Machbub, Prof. Dr. Suhono H. Supangkat, dan Dr. Yoga Priyana. Setiap hari di kampus, saya turut merasakan bagaimana komunitas baik akademik maupun masyarakat memposisikan beliau-beliau sebagai tim yang dipersalahkan khususnya dalam proses bimbingan mahasiswa.

    Saya sangat sependapat dengan Mas Budi Sulistyo, proses bimbingan penelitian akhir di ITB, khususnya dengan yang saya alami, telah berjalan dengan sangat baik. Program doktoral saya di bawah bimbingan Bapak Carmadi Machbub, Bapak Suhono H. Supangkat, dan Bapak Armein Langi, yang saya rasakan adalah karena budi baik beliau-beliau sehingga di tengah kesibukan bersedia menjadi promotor. Dalam kesibukan sebagai WRSS, Pak Carmadi seringkali memanggil saya dan teman-teman sebimbingan untuk secara rutin mempresentasikan kemajuan penelitian di depan ketiga promotor dan untuk menyelesaikan hal-hal akademik lain yang harus dibereskan.

    Pak Carmadi dan tim promotor seringkali menegaskan agar menghubungi para penulis dari paper yang kita gunakan sebagai referensi dan meminta ijin menggunakan papernya sebagai referensi di dalam penelitian disertasi. Juga untuk tidak lupa menuliskan acknowledgment di dalam paper konferensi, paper jurnal, maupun buku disertasi. Tim promotor juga bersusah payah mencarikan konferensi ilmiah dan pendanaan keikutsertaan di dalam konferensi baik dalam maupun luar negeri termasuk di dalam Konferensi CIS-RAM 2008 lalu di Chengdu-China.

    Proses ujian akhir saya rasakan cukup berat. Saya melewati beberapa kali pra-sidang, sidang tertutup, dan sidang terbuka agar lulus program doktoral. Di setiap persidangan, tim penguji baik dari dalam ITB maupun dari luar ITB bekerja sangat baik. Dan saya kira ITB telah menunjuk dosen-dosen yang tepat di bidangnya sehingga mengerti betul apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya. Banyak detail-detail yang harus diperbaiki, bahkan saya harus berguru kepada salah satu dosen matematika ITB karena adanya catatan perbaikan dari dosen penguji.

    Saya sungguh berterima kasih kepada tim promotor saya Bapak Carmadi, Bapak Suhono, dan Bapak Armein yang telah berjuang sekuat tenaga demi kebaikan mahasiswanya. Khususnya kepada Bapak Carmadi, Bapak Suhono, dan Bapak Yoga, semoga nama baik Bapak-Bapak sekalian segera pulih kembali.

    Salam dan hatur nuhun,

    Bandung.

  14. pers sih berlebihan.. masyarakat sekarang disetir pers. kalo mau memulihkan kepercayaan masyarakat, cari pers y bisa di ajak bekerjasama, tapi ini susah, paling2 pers berpedoman cari oplah.. repot.. hal terakhir, ya bungkam saja, toh pers biasanya cari berita lain, lama-lama jg diam

    lagian masyarakat indonesia kan gampang amnesia.. bentar lagi juga pada lupa

  15. Mohaji, Dr. Ing. Ir., MSc.

    Seorang pembimbing Doktor, pada setiap kesempatan diskusinya, harus mengejar/menanamkan dengan penuh tanggung jawab (scientific responsibility) 5 aspek dibawah ini, yang dalam hal ini Pembimbing harus juga bertanggung jawab sebagai principle investigator (investigator utama), bukannya lempar tanggung jawab atas apa yang didektekan anak bimbingannya. Bilamana 5 aspek tersebut terpenuhi maka dikualifikasikan bahwa materi disertasinya Qualified.

    1). Original, artinya bukan hasil duplikasi atau bahkan hasil plagiasi.
    2). New findings, harus merupakan penemuan baru, bukan penemuan orang lain sebelumnya.
    3). Scientific contribution, dapat memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan.
    4). Technological or economical breaktrough,  merupakan terobosan teknologi atau ekonomi
    5). Fundamental Science, penemuan ilmu fundamental

    Apakah hasil plagiasi memenuhi kriteria terrsebut ?

    Kalau merujuk kriteria tersebut, memang tidak ringan tanggung jawab sebagai pembimbing, tetapi praktik yang terjadi di Indonesia atau ITB mungkin tidak sedalam itu para pembimbing memahami tugasnya sebagai pembimbing. Saya yakin pak Langie tidak melihat dari perspektif tersebut (mudah2an dugaan saya salah) sehingga terjadilah seolah-olah yang bertanggung jawab bukan Pembimbingnya. Kalau anak buah salah atau curang, maka jenderalnya yang harus mengingatkan atau yang akan disalahkan.

    Harus ada rasa malu kalau tidak bisa membimbing anak didik yang menghasilkan disertasi sebagaimana kriteria diatas, apalagi merupakan hasil plagiasi. Barangkali yang menuntut Carmadi Mundur adalah mereka yang memahami tanggung jawab tersebut diatas.

    • dodo

      Bener2..kalau dilihat dosen ITB itu pinter sdh pasti. Tapi bisa jadi sebagian sibuk dengan aktivitas lain seperti proyek atau ke politik kali…jadi gak bisa fokus dengan baik dalam bimbing mahasiswanya.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: