Tawon

Senin minggu lalu saya kecelakaan terjun bebas di sungai. Gara-gara tawon.

Ceritanya kami rombongan dari ITB dan UPI berkunjung ke Sumba Timur untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat. Kami berangkat ke desa Mbatapuhu, sebelah barat Waingapu, ibu kota kabupaten Sumba Timur, untuk mencek pompa hidram yang dipasang di sungai desa Mbatanpuhu. Rencananya kami akan nginap di situ kemudian melanjutkan perjalanan ke desa Tadulajangga untuk mensurvey lokasi air bersih.

Begitu kami tiba di sungai, hari sudah sore. Pompa hidram sedang dimatikan karena musim hujan dan banjir, takut kayu-kayu yang diseret sungai menghantam pompa. Saya dan beberapa teman naik ke arah hulu sungai untuk melihat air terjun. Kelihatan bagus, cukup deras untuk pembangkit listrik piko hidro atau mikro hidro. Saya kemudian mengambil kamera HP untuk memotret air terjun itu. Mau saya perlihatkan ke tim teknisi di Bandung nanti. Supaya foto bagus, saya naik ke batu besar, sekitar tiga meter dari permukaan sungai. Saya harus berhati-hati karena banyak batu. Dan licin habis hujan.

Astaga. Ternyata di dekat situ ada sarang tawon. Dan mereka merasa terganggu. Kami diserang tawon. Kepala dan tangan saya disengat. Wah saya bergerak refleks sehingga kacamata saya terlempar ke atas batu. Tapi twon tambah banyak, dan saya kehilangan keseimbangan. terpeleset dari batu besar, terjatuh di antara sela-sela tebing batu, kemudian terjun ke sungai.

Walah, kepala saya terhantam batu, kaki saya menghajar tebing, dan nyeplung di sungai yang lumayam deras. Untung saya bisa berenang, karena bagian itu cukup dalam. Kaki saya tidak napak ke dasar. Saya tahu kaki saya luka lecet, karena terasa perih. Dan masuk ke sungai di hutan itu sudah pasti banyak bakteri. Infeksi deh. Tapi yang parah itu kepala saya, terasa sakit. Baik karena sengatan lebah maupun karena menghantam batu.

Dalam hati saya bersyukur sekaligus cemas. bersyukur kaki saya tidak patah. Tapi cemas karena kepala saya memar. Dan racun dari tawon itu terlalu dekat dengan kepala. Dari sungai saya keluar lagi, berusaha naik ke batu untuk mengambil kacamata saya. Tapi mendadak tawon-tawon datang lagi. Semua menjerit dan saya harus menyelam lagi. Hari lumayan gelap, dan saya tidak berkacamata. Ini kalau ada ular di cela-cela batu sungai bisa habis saya ini, hehe.

Sebenarnya saya tidak pernah takut ke situ, karena ada pak Adolf, penunjuk jalan. Selama ada pak Adolf, kita semua tenang. Dia kan pawangnya. Masalahnya saya lihat dari dalam sungai, pak Adolf sudah lari terbirit-birit. Astaga, kalau pak Adolf saja sudah ngacir, ngapain kita sok berani.

Saya raba tempat HP saya di pinggang, kosong. Baru saya ingat HP saya yang mahal itu pasti hilang karena saya jatuh. Yah sudahlah, yang penting saya selamat. Kemudian saya melupakan kacamata saya. daripada diserbu tawon, saya berenang menjauh. Kemudian naik ke batu-batu dan segera bergegas mengejar pak Adolf, pulang ke desa, bergabung dengan teman-teman yang sudah ikut lari duluan. Dan hujan turun sehingga saya menggigil kedinginan.

Tiba di posko desa, saya mulai merasa kesakitan. Sakit karena luka, sakit karena memar, sakit karena tawon, dan sakit otot. Ada banyak teman lain juga kena sengatan. Saya termasuk parah, tapi beberapa teman yang lain lebih parah lagi. Ada yang mendapat tujuh sengatan di kepala.

Malam itu kami putuskan untuk pulang ke Waingapu, baru nanti dari Waingpau ke Tadulajangga besok pagi. Di Waingapu tiga dari kami dikirim ke UGD, termasuk saya. Dan ketahuan saya kena memar kepala, istilahnya gegar otak ringan. Tapi karena tidak muntah dan kesadaran bagus, saya cuma disuruh istirahat. Dan dapat obat antibiotik, karena pasti infeksi.

Malamnya, di penginapan, saya kesakitan. Gelisah tidak bisa tidur. Karena badan meriang. Jantung berdebar. Luka infeksi. Dari kepala sampai kaki, sakit semua. Saya terus menyemangati tubuh saya yang sedang fighting. Dan secara psikologis saya berjuang mengatasi rasa ngeri, betapa dekatnya saya dengan bencana yang fatal. Wondering what I have done wrongly.

Perlahan-lahan saya beres-beres semua pakaian basah. Dompet yang sudah terendam air saya coba keringkan. Satru per satu isinya saya keluarga. Kartu-kartu saya jemur. Lembaran uang saya selipkan dalam buku agar lekas kering. Semoga tinta Peruri kuat, supaya uang saya masih laku. Mau dijemur, takut disambar orang. Teman sih teman, tapi jangan memancing kekhilafan orang dong, hehe.

Tapi saya bersyukur punya pengetahuan yang cukup banyak tentang tubuh saya. How it works. Dan betapa racun tawon itu sebenarnya obat untuk penyakit lain. Jadi saya seperti kena imunisasi. Cuma imunisasi paksa. Mantri-nya tawon. Banyakan, dan emosian lagi. Kemudian saya kerahkan semua daya mental saya untuk mengatasi rasa ngeri. Sambil saya bertanya dalam hati, apa hikmat dari semua ini? Akhirnya saya bisa tidur.

Besoknya, saya bangun dengan badan sakit dan kepala pusing. Tapi saya putuskan berangkat ke Tadulajangga. Karena saya percaya tubuh kita itu akn pulih dengan sendirinya. Di jalan saya banyak diam. Karena sakit. Dan ngantuk, pengaruh obat.

Di Tadulajangga, kami kembali masuk sungai. Medannya lain. Hujan keras. Sangat becek dan berlumpur. Bayangkan jalan dengan lumpur selutut. Yang ngeri, di balik lumpur banyak batu tajam. jadi dilematis. Pakai sepatu, susah jalan. Lepas sepatu takut luka.  Jadi kita berjalan seperti offroad, sambil selip sana sini, dan meringankan tubuh agar batu tidak melukai kaki. Susah sekali, hanya untuk jalan kaki. Dan semua luka di kaki saya dibalut lumpur. Hehe, semoga kuman lumpur musuhan dengan kuman sungai di desa satu lagi, supaya mereka saling meniadakan.

Sepulangnya dari Tadulajangga, saya mengerti. Betapa berbahayanya rute yang tadinya akan kami pilih kemarin itu. Rute langsung Mbatapuhu-Tadulajangga itu butuh tiga jam di musim kering. Jalannya kecil dengan jurang-jurang di kiri kanan. Dan di musim hujan, kita bunuh diri lewat situ. Karena jalannya dari tanah liat. Dan kami ada tiga mobil. Chance untuk celaka masuk jurang itu tinggi sekali.

Jadi sengatan tawon itu sebenarnya menyelamatkan kami semua dari keputusan yang keliru. Thanks God. Belum lagi bonus imunisasi. HP baru. Dan bahan buat nulis blog 🙂

Kamis, perjalanan pulang Waingapu sampai Bandung amat sangat lancar. Di atas pesawat saya sangat kepayahan, karena badan sakit dan kepala pusing. Kalau diajak ngomong, saya menjawab sekenanya. Tapi hati sangat senang. Karena tahu, di dunia yang penuh bahaya ini, kita selalu dilindungiNya. Dengan cara-cara ajaib.

Jumat besoknya saya mau kerja tidak sanggup. Saya istirahat total. Sabtu dengan kepala pusing-pusing, saya ikut acara ITB seharian di Aula Timur. Lari sebentar ke BEC, beli HP Android itu. Lumayan, buat orang elektro, HP baru bisa mengalihkan rasa sakit, meredakan rasa pusing, dan mempercepat penyembuhan.

Setelah luka-luka memar di kepala mulai sembuh, saya bisa menghitung jumlah sengatan. Minimal ada empat. Dua di kepala, dan dua di lengan. Sampai sekarang bekas sengatan masih terasa. Benjolan masih ada, dan mulai gatal. Senang, konon kalau gatal berarti mulai sembuh.

Kapok? Ah tidak. Kami berencana untuk memasang pikohidro di air terjun itu tahun ini.

Dan saya mau pasang lampu sorot ke arah sarang. Mungkin tambah dentuman musik rock. Biar bingung dan silau tawon-tawon nya. Kalau berani, sengat aja lampunya, gosong lho bujur-nya.

Hehe, rasakan pembalasan nanti…


  1. purie

    hehehhe…akhirnya ditulis juga cerita tawonnya ya, pak.. 😀

    saya masih ingat tampang meringis bapak waktu tiba di Posko..tapi sekarang pasti Bapak udah lebih sering nyengir ya karena ada HP linux baru..hehhehehe..

  2. ursula

    wah ada yang dendam sama tawon ya pak hehehe,

  3. pengalaman yg menarik ya.gigitan tawon keknya sangat sakit tuh.ada saran hal2 apa yg harus dilakuin biar ga digigit tawon?

  4. wew,, seru juga pak 😀

    ati-ati lho pak bikin rencana yang mengancam tawon,mungkin bapak sekarang lagi diamati sama intel WWF :mrgreen:

  5. Wow..
    saya selalu kagum cara bapak memandang kehidupan…
    di sengat tawon ternyata berkah ya?

    cara belajarnya gimana Pak?

  6. Emm, “seperti biasa” tulisan pak Armein menginspirasi. Cerita yang biasanya diungkap dengan cara yang sangat berbeda. Trims pak Armein. Oh ya setuju yang ini,”…HP baru bisa mengalihkan rasa sakit, meredakan rasa pusing…”. 🙂

  7. menarik sekali Pak sharing pengalamannya. tapi yang lucu itu statement Anda tentang hape 😀

    “Lumayan, buat orang elektro, HP baru bisa mengalihkan rasa sakit, meredakan rasa pusing, dan mempercepat penyembuhan”

    lucu Pak, saya tertawa membaca kalimat itu 🙂

  8. andriyan

    Semoga lekas sembuh Pak. Sengatan tawon katanya akupunktur alami, mudah-2an bikin sehat.

    Saya mengalami deja vu setelah membaca tulisan ini, rasanya dulu waktu masih SD pernah membaca cerita yang mirip … “Segerombolan anak kecil yang ingin mengambil mengganggu sarang tawon, trus tawon-nya ngamuk, anak-nya di-kejar-2, lalu si anak menyelamatkan diri dengan nyebur di sungai …”

    Lessons learned: ternyata di Sumba memang benar ada tawon. Jadi yang jualan madu Sumba itu ‘nggak bohong-2 amat ya :).

  9. Tulisan bapak kali ini berbeda, tapi menarik…
    Hmm…syukurlah sekarang sudah sehat kembali ya pak….dan hape baru….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: