Reality of Life

Saya sedang duduk-duduk santai sambil menghirup teh, mendadak pikiran saya terganggu dengan sebuah pertanyaan yang mengusik manusia beribu tahun. Apa sih realitas itu?

Realitas itu adalah sesuatu yang kita bisa deteksi. Sesuatu yang mempengaruhi kita. Dan bisa jadi sesuatu itu memberikan makna bagi hidup kita, positif maupun negatif.

Untuk menjadi realitas, sesuatu itu perlu kita deteksi dengan indera kita, kita sadari dalam benak kita, menjadi buah pikiran kita, terdefinisi dalam otak kita, dan tersimpan dalam memori kita. Jadi unsur pikiran itu sangat kuat, bahkan lebih kuat dari unsur indera. Artinya sesuatu itu bisa ada, menjadi realitas kita, meskipun tidak lagi kita deteksi melalui panca-indera kita. Atau kita membutuhkan alat bantu untuk mendeteksi atau mengukur kehadiran realitas itu.

Sebenarnya realitas itu bisa obyektif, bisa subyektif. Obyektif, artinya sesuatu yang disebut realitas itu dikonfirmasi juga oleh orang lain. Subyektif, cuma kita sendiri yang mendeteksinya.

Bahkan yang disebut alam itu seringkali adalah kesadaran kolektif. Banyak orang hari ini menyadari banyaknya bakteri di sekitar kita. Tapi sebenarnya cuma segelintir orang yang bisa membuktikan hal itu, dan kita semua menerimanya dalam pikiran kita.

Demikian juga yang disebut ilmu pengetahuan, penciptaan alam semesta, terlebih sejarah. Bahwa alam semesta tercipta melalui big-bang belasan milyar tahun lalu. Itu kisah yang kita sepakati bersama. Kenyataan yang kita setujui. Semua itu ada dalam pikiran kita. Disusun dan diusulkan oleh nabi-nabi masa kini: ilmuwan dan pakar. Dan mereka selalu bisa membawa buktinya.

Rak buku saya penuh berisi buku-buku yang isinya saling bertentangan, tapi masing-masing didukung fakta dan argumen yang meyakinkan. How do you make of them?

Akhirnya sesuatu itu adalah menjadi realitas kalau ia berpengaruh pada kita. Mau nyata ataupun khayalan, begitu dia berpengaruh maka dia ada. Kalau anda percaya ada hantu, yang menghantui hidup anda, maka hantu itu ada. Minimal bagi anda.

Ini penting sekali. Pemahaman kita akan realitas sangat mempengaruhi kehidupan dan kebahagiaan kita. Seseorang bisa senang hanya karena ia melatih pikirannya untuk merasa senang. Sebaliknya seseorang bisa sakit betulan, hanya karena ia membayangkan bahwa ia sakit.

Dunia ini pada hakekatnya adalah kurang lebih seperti apa yang anda pikirkan. Kalau anda merasa dunia ini medan peperangan, ia adalah medan peperangan. Kalau dunia ini anda anggap sorga, maka jadilah ia sorga. Karena anda, seperti ilmuwan itu, akan selalu bisa memperoleh bukti atas apa yang anda percayai itu.

Itulah sebabnya penting sekali kita menjaga pikiran kita. Kita memfilter pikiran kita. Kita menyaring apa saja yang kita percayai. Kita membangun metafora atas dunia ini. Karena itu menjadi realitas kita. Anda bisa terjebak dalam lingkaran setan pemikiran yang membuat anda serasa di neraka.

Dua tahun lalu saya merasa diri saya sakit. Something wrong with me. Dan saya bersikap seperti orang sakit. Akhirnya saya sakit betulan. Diopname segala.

Tapi saya menyadari bahwa itu adalah buah pikiran. Buah metafora saya tentang saya, realitas dunia, dan cara saya mengukur sukses.

Maka saya mengubahnya. Saya bisa sembuh karena saya mengubah pikiran saya.

Saya menganggap saya sehat. Bahwa kalaupun sakit, tubuh manusia diciptakan dengan mekanisme untuk sembuh. Maka tubuh saya menjadi pulih.

Saya menganggap dunia ini fun, penuh peluang, penuh kesempatan. Adventures. Maka ketegangan dalam pikiran mencair. Kewaspadaan dan ketakutan menghilang.

Saya menganggap waktu adalah kekayaan untuk saya nikmati. Time is money. Bukan ancaman deadlines. Maka stress menghilang. Deadlines yang menekan saya menguap.

Bahkan kita bisa lebih maju lagi dengan selalu menciptakan pemikiran positif. Mengkreasi realitas yang lebih baik. Menginovasi dunia yang baru. Dimulai dalam pikiran kita. Kemudian pikiran itu kita wujudkan dalam realitas bagi kita dan orang lain.

Jadi kalau realitas itu adalah buah pikiran, maka kita bisa mengubah dunia ini. Mengubah hidup kita. Mulai dengan pikiran kita. Membuat dunia ini nikmat. Senikmat teh yang saya hirup.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: